Beranjak Dewasa Bab Kesepuluh

Sebelumnya

Mengantarkan Galih ke stasiun rupanya membawa kebahagiaan tersendiri untuk Ardi. Sepertinya ada kenangan dan memori lama Ardi yang terbuka. Yak kereta apilah yang menjadi memori kebahagiaan tersebut..

Bab X

Antara Ratri Dan Kereta Api

“Assalammualaikum.” Ucapku. “Walaikumsalam, masuk di.” Sahut Mas Iwan dari dalam. Sekitar pukul 17.30 akhirnya aku sampai dirumah Om Leo. Kurang lebih perjalanan memakan waktu sekitar satu setengah jam. “ Gimana keadaan Om Leo mas?” tanyaku sembari merebahkan diri ke sofa ruang tamu. “ Masih lemah di sekarang Bulik yang jaga disana.” Sahut Mas Iwan sambil menyodorkan segelas air dingin. “ Makasih mas.” Sahutku menerima sodoran gelas dari tangan Mas Iwan.

“ Gimana kuliahmu di? Betah ga kuliah di Jogja?” Tanya Mas Iwan kepadaku. “ Alhamdulillah lancar mas ya kan juga baru beberapa minggu, Insya Allah betah. Hehehe.” Sahutku sambil meletakkan gelas ke atas meja. “ Lebih enak dimana suasana Jakarta atau Jogja?” tanyanya lagi. “ Wah dari segi apa dulu mas? Kalo secara umum ya memang jauh lebih tenang di Jogja tapi ya Jakarta juga tenang mas karena g jauh dari orang tua.” Sahutku. “Yasudah kamu istirahat saja dulu mas mau belikan makanan untuk kita makan malam. Kamu mau makan apa di?” Tanya Mas Iwan. “ Apa saja mas, ardi ikut Mas Iwan.” Seruku

Kurebahkan badan kecil ini diatas kasur busa kecil yang tergelar di ruang tamu. Memandang langit – langit rumah dan kemudian menatap salah satu lukisan yang tergantung di sisi kanan ruang tamu. Sebuah lukisan yang sepertinya beraliran abstrak yang mungkin untuk sebagian orang tidak bermakna apa – apa. Namun bagi para pecinta lukisan pasti ada salah satu gambaran tersendiri tentang makna dari lukisa tersebut. Kutatap lekat – lekat lukisan tersesbut mencoba menangkap makna yang disampaikan oleh sang pelukis dalam lukisannya. Namun sepertinya aku tidak bisa mengerti akan makna dari lukisan tersebut.

Kubalik posisi rebahanku dengan sedikit menggeliat dan kutemukan tumpukan majalah dan Koran. “Mungkin ada sesuatu yang menarik.” Batinku seraya bangkit dari kasur. Tumpukan majalah – majalah khas dari Ibu rumah tangga, Koran – Koran dan beberapa majalah yang berkaitan tentang wirausaha, maklumlah Om Leo juga merupakan salah satu wirausahawan sukses. Kutemukan sesuatu yang menarik dari tumpukan tersebut. Satu buah album foto kecil yang tak sengaja terjatuh dan terbuka. Album foto yang berisikan foto – foto yang banyak berkaitan dengan kereta api.

“ Wah ko hari ini kenapa penuh dengan kereta api y pandanganku?” Batinku. Kulihat beberapa foto yang sangat bagus. Sudut pengambilan foto, komposisi warnanya sangat indah. Dan kulihat beberapa foto Mas Iwan dengan lokomotif  dan kereta api. “ Wah ternyata Mas Iwan pencinta kereta api juga.” Batinku. Cukup lama aku terpaku dengan kumpulan foto – foto kereta api yang dimiliki Mas Iwan ini hingga sebuah sms masuk, dari Ratri rupanya “ Assalamualikum mas, tadi kuliahnya gimana?? Ada pengumuman apa saja??”, isi sms itu malah mengingatkanku yang belum menunaikan shalat Maghrib karena melihat waktu yang ditunjukkan oleh hape ku ini.

Bergegas aku menunaikan kewajibanku yang hampir terbengkalai. Selesai shalat bertepatan dengan datangnya Mas Iwan. “ Nih di mas belikan nasi padang, sama lauk untuk sahur nanti.” Ujar Mas Iwan. “ Iya mas makasih jadi ngerepotin, hehe.” Jawabku. “ Ah sama saudara sendiri ga apa apa lah, ayo dimakan.” Sahut Mas Iwan. “ Nanti saja mas sebentar lagi kan mau tarawih nanti saja pulang tarawih.” Seruku.“ Wah iya ya mas hampir lupa.” Sahut Mas Iwan lagi. Tepat pukul 7 malam akhirnya kami berdua pun menuju masjid terdekat untuk melakukan tarawih perdana di ramadhan ini. Ramadhan pertamaku jauh dari keluargaku tercinta. Suasana tarawih disini berbeda dengan suasana tarawih yang kurasakan pada ramadhan – ramadhan sebelumnya. Tidak ada suara bising dari ledakan – ledakan petasan dari anak – anak kecil yang biasa mengganggu tidak kurasakan disini.

Sekitar satu jam lebih akhirnya kami pulang, ternyata disini hanya 11 rakaat berbeda dengan rumahku Jakarta yang menggunakan 23 rakaat. “ Ayo di makan.” Seru Mas Iwan. “ Ok mas.” Sahutku sambil menghampiri meja makan. “ Mas suka kereta ya??” tanyaku membuka percakapan di meja makan. “ Wah ko tau di?darimana??” jawabnya sambil membuka bungkusan nasi padang. “ Iya tadi lihat album foto di meja ko banyak foto keretanya.” Sahutku lagi. “ Iya begitulah, entah mengapa Mas tertarik dengan kereta api sejak kuliah kemarin, makan dulu saja nanti kita lanjutkan ngobrol keretanya plus Mas kasih liat album foto lainnya.” Sahut Mas Iwan. Kami pun akhirnya lahap menyantap nasi padang ini ditemani acara tivi yang menampilkan music secara live.

Lima belas menit kemudian kami berdua pun selesai. Dan Mas Iwan pun menepati janjinya untuk menunjukkan album foto miliknya. Ia pun dengan senang hati menjelaskan pula seluk – beluk tentang perkeretaapian di Indonesia yang membuatku tertegun kagum melihat indahnya foto – foto yang ia miliki. Pengalamanku hari ini sepertinya membangkitkan kembali memori lama akan kecintaanku pada kereta api. Tanpa sadar kami bercengkrama waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Mas Iwan lebih dulu masuk ke kamarnya untuk tidur karena memang sudah sangat mengantuk. Dan aku pun menyudahi kegiatanku ini dan mulai merebahkan diri di kasur kecil yang ada di ruang tamu berusaha memejamkan mata. “ Eh sepertinya tadi ada sms yang belum kubalas.” Batinku. Akhirnya kuraih 2100ku untuk melihat siapa yang tadi belum sempat aku balas smsnya. “ Walah Ratri tho yang belum kubalas.” Batinku. “Rupanya kereta api sanggup mengalihkan perhatianku padanya.” Batinku seraya tersenyum. “ Walaikumsalam maaf rat baru balas, kuliah seperti biasa ko..Pengumuman libur saja senin depan kita sudah kembali kuliah.” Isi pesan tersebut kukirimkan padanya. “Wah wah kereta api dengan sukses membuatku melupakan Ratri yang sejak beberapa hari ini memenuhi pikiranku.” Batinku tertawa.

Bersambungg….

Ternyata memang kereta api..hmmm bagaimana dengan ratri? dan apa saja yang akan dilakukan Ardi selama libur awal puasa??

Tunggu bab selanjutnya ya….

Advertisements

Beranjak Dewasa Bab Kesembilan

Berita dirawatnya Om Leo serta tingkah laku dari Andra dan Ratri membuat Ardi agak sedikit gundah dan bingung. Namu beruntung dia akan sedikit menemukan hal yang bisa melupakan itu semua pada bab ini dan berikutnya.

Cerita sebelumnya : disini

Bab IX

Masa Lalu Yang Kembali

Kulipat sajadahku seusai menunaikan shalat subuh dan kulihat catatan di kalender. Dua hari menjelang Ramadhan dan itu berarti besok malam sudah akan menunaikan shalat Tarawih. “ Wah ramadhan pertamaku jauh dari orang tua, bagaimana y rasanya?” Batinku. Kuliah hari ini mulai dari Pukul 07.00 hingga pukul 11.00 sehingga memaksaku harus sarapan. Dan mengingat kemungkinan tidak bisa membeli minum maka kuputuskan untuk membawa bekal air dari rumah.

Ya rencanaku hari ini sudah tersusun rapi, seusai kuliah pukul 11.00 main ke kos Galih sekalian mengantarkannya ke Stasiun berhubung dia mau mudik sementara kerumah Budenya di Semarang. Setelah itu baru aku ketempat Om dan Bulik menepati janjiku kepada Mas Iwan semalam. “ Lih jadi nanti ke Semarang??” Tanyaku kepada Galih sesampaiku di kelas. “ Jadi di, anterin ya.” Sahutnya. Kubalas dengan acungan jempol sembari membenahi letak kursi yang akan kududuki. Dosen ekonomi mikro datang dan akhirnya tugas yang pada awalnya kutakutkan tidak bisa kukerjakan karena merasa “terjajah” akhirnya selesai, terjilid rapi.

Entah mengapa mendadak pikiranku kembali melayang membayangkan Ratri dan Andra. Ya mereka berdua benar – benar tidak masuk sekarang. Ada hubungan apakah mereka berdua itu sebenarnya? Pikiranku kembali melayang. Sempat terbayang kalau – kalau ternyata mereka itu sebenarnya sudah dijodohkan. Entah dapat ilham darimana sehingga pikiran itu masuk ke dalam otak ku. Padahal secara logis saja mereka baru bertemu disini dan asal mereka pun berbeda kota. Ratri dari Solo dan Andra dari Magelang.

“Hussh..Hussh mikir apa tho aku ini.” Batinku sambil berusaha mengusir pikiran aneh itu. Mungkin karena ini efek tinta pulpen yang macet dan tidak mencatat membuatku menjadi berpikiran macam – macam. Kukembalikan semua fokusku kepada papan tulis dan sosok dosen di depan kelas. Kubawa kembali pikiran yang sempat terbang melayang dan kutarik masuk kedalam kepalaku. Dan sisa kuliah ekonomi ini berhasil kulalui dengan serius berkat pinjaman pulpen dari Arif yang ada di sampingku.

Pikiran buruk itu menghilang di kuliah kedua. Adu argumen ini membuatku tertarik untuk turut serta mengemukakan pendapat dan hal – hal yang kuketahui tentang manajamen. Mungkin memang materinya yang kebetulan bisa kukuasai berdasar pengalaman melihat pekerjaan dan cerita orang tuaku. Dan kuliah hari ini pun kututup dengan sedikit sumringah. Entah mengapa sepertinya feeling baik kurasakan, seperti aka nada hal yang baik menantiku hari ini.

Usai kuliah setelah kembali wisata kuliner bersama teman – teman dan shalat di mesjid kampus aku kekos Galih. Kurebahkan diriku di kasur Busa milik Galih, sedangkan Galih sendiri langsung sibuk packing untuk keperluan di Semarang selama beberapa hari. Memang kebetulan liburan awal puasa yang sebenarnya Cuma tiga hari menjadi panjang karena tersambung dengan weekend. “ Lha acara apa e qm kesana lih??” Tanyaku sembari menyimak berita kriminal di televisi. “ Engga Cuma main aja, sudah jauh – jauh sampai pulau Jawa sekalian mampir ke Semarang, ketemu saudara.” Sahutnya.

“ Wah bener juga ya lih, sudah jauh – jauh dari pulau seberang sekalian saja ketemu saudara – saudara di pulau jawa.” Sahutku. “ Sebenarnya sih ini berdasarkan instruksi dari ayah di Palembang di, ya sekalian penghematan uang makanlah, hahaha…” sahutnya disahuti gelak tawa kami berdua. Pukul 15.00 kami berdua pun bergegas meluncur ke stasiun Lempuyangan yang memang lebih dekat dari kos Galih.

Memasuki suasana stasiun yang cukup ramai membuatku merinding, entah ada atmosfir tersendiri yang kurasakan. Atmosfir kenangan yang menyeruak memenuhi pikiranku. Ya saat dulu masih rutin untuk mudik Jakarta – jogja kereta api adalah sarana transportasi utama yang mengantarkanku sekeluarga ke Jogjakarta. Suara khas dari tanda pemberitahuan dari petugas jika ada Kereta yang ingin masuk atau diberangkatkan dari stasiun membuatku tersenyum sendiri.Lengkingan suara peluit dari petugas stasiun, suara keras dari lokomotif membuatku tersenyum dan sumringah. Seperti seorang anak kecil yang baru saja menemukan mainan lamanya yang hilang. Mungkin ini yang kurasakan saat ini.

“ Kenapa kamu di ko senyam – senyum sendiri??” Tanya Galih. “ Ga apa – apa lih Cuma rasanya senang aja bisa ada di stasiun g tau kenapa.” Sahutku. “ Aneh kamu di, meski baru pertama kali liat kereta api penumpang secara langsung aku g seaneh kamu di.” Sahutnya lagi. Galih mengatakan demikian karena memang setauku di Palembang itu lebih dominan Kereta api untuk batu baranya.

“ Ya karena aku udah lama g ngerasain ini lih, Dulu waktu masih sering mudik ke jogja sering nunggu lama di stasiun dengan suara – suara seperti ini, dan sepertinya aku merindukan momen – momen seperti itu.” Jawabku. Dan tak lama berselang kereta yang dinaiki Galih menuju Semarang tiba. Galih pun bersiap – siap, cukup ramai memang yang akan menaikinya tapi tidak terlalu padat.

Kereta yang Galih berjalan perlahan – lahan meninggalkan jalur 1 stasiun lempuyangan. Sesaat aku terdiam, entah mengapa rasanya tidak ingin meninggalkan stasiun ini cepat – cepat. Maka dari itu aku putuskan untuk menunaikan shalat azhar dahulu di mesjid sebelah barat stasiun, karena memang tadi belum menunaikan shalat azhar karena rencananya ingin shalat dirumah Om Leo saja. Usai menunaikan shalat rupanya stasiun malah semakin ramai dan terlihat sudah ada kereta yang standby untuk berangkat meski belum tersambung dengan lokomotif.

Sekilas terlihat papan nama kereta tersebut. “Progo  jurusan Lempuyangan – Pasar Senen, “ Wah kereta ke Jakarta donk ini, kapan – kapan naik ah.” Batinku. Kulihat jam yang ada di stasiun, sudah pukul 16.00 rupanya. “ Wah malah keasyikan aku disini, bisa kemalaman nanti sampai dirumah Om Leo.” Batinku. Bergegas aku menuju ke parkiran untuk mengambil motor. Perlahan motorku melaju meninggalkan stasiun berbarengan dengan satu kereta berwarna kuning cerah yang sama – sama melaju ke arah barat.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Om Leo tak henti – hentinya aku tersenyum. Entahlah kurasakan ada kebahagiaan tersendiri saat berada di stasiun tadi. “ Sepertinya main di stasiun asik juga ya.” Ujarku. Kebahagiaan tersebut menemani perjalananku bersama Sang Phantom hingga sampai di tempat tujuan yaitu rumah Om Leo.

Bersambung….

Ternyata memoir Ardi dengan kereta api membawa kebahagiaan tersendiri untuknya…

Apakah yang akan ditemukan oleh Ardi pada Bab selanjutnya?? Bagaimanakah kehidupan ramadhan pertamanya di perantauan??

Tunggu lanjutannya ya…. 😀

Lanjutannya

Beranjak Dewasa Bab Kedelapan

Cerita ini fiktif semata…kesamaan nama dan tokoh merupakan ketidaksengajaan semata

😀

Bab Sebelumnya disini

Bab VIII

Another Problem

“Flashdisk sudah, binder sudah, buku..sudah juga. Siap berangkat.” Kataku pada diriku sendiri. Kulangkahkan kaki menuju garasi untuk mengeluarkan sang Phantom. “ Eh kunciku?? Halah masih di kamar.” Batinku setelah tidak menemukan kunci motorku disaku jaket dan celana sehingga memaksaku untuk kembali kekamar mengambil kunci yang tertinggal. Barulah tancap gas kekampus.

“Ardiiii….bukuku kamu bawa ga??” seru Eka setengah memanggil. “ Wah iya ka aku….” “ Ah tuh kan lupa.” Potong Eka sebelum aku selesai berbicara. “ Heh siapa bilang lupa, kamu aja yang motong kata2ku. Lha wong rung rampung le ngomong kok yowis dipotong. Ki bukumu.” (la belum selesai ngomong ko udh dipotong.) seruku sambil menyerahkan bukunya. “ Yo maaf maaf tak pikir kamu lupa.” Sahutnya seraya meringis.

“ Kemarin ngopo ae karo Ratri karo Andra??” tanyaku mencoba menilisik. “ Yo ra ngopo2 gur mubeng thok.” ( ga ngpa2in Cuma muter aja.) sahut Eka sambil tetap berjalan disampingku sambil memasukkan buku yang kupinjam. “ Oh iya tugas ekonominya gimana??” Tanya Eka lagi. “ Nih ada disini.” Seruku mantap sambil mengacungkan flash abu – abu milikku. “ Kan nanti Septhi yang mau ngeprint dan jilidnya.” Kataku lagi. “ Sip kalau begitu.” Sahutnya lagi.

Sampai di kelas suasana masih ramai dengan obrolan anak – anak saja karena dosennya belum datang. Namun kembali aku melihat Andra dan Ratri sedang berbincang berduaan. Sudah cukup akrab juga sepertinya. Aku melewati mereka begitu saja tanpa menegur karena memang sedang tidak ingin dan kebetulan mereka berdua tidak melihatku. Lamunanku kembali kepada kejadian minggu pagi kemarin. Dan aku pun mulai berasumsi yang tidak tidak. “ Jangan – jangan mereka berdua itu…” belum sempat menyelesaikan kalimat dalam hati dosen datang berbarengan dengan duduknya Arif disampingku.

“ Heh pagi – pagi wis ngelamun ae, ngopo e di??” serunya mengagetkanku. “Rapopo og rif.” Balasku seraya tersenyum kecil. Kulihat Andra tidak terlalu pindah jauh dari tempat duduk Ratri hanya bergeser dibelakang Ratri saja. Tingkah laku itu benar – benar menguatkan dugaanku dalam lamunan tadi, namun berusaha kulupakan sejenak karena mata kuliah kali ini tidak boleh kulewatkan dengan lamunan karena bisa mati aku kalau tak dapat apa – apa.

Kuliah 2 sks selesai, meski banyak hal yang belum jelas dari materi tadi, namun setidaknya aku mendapatkan beberapa lembar catatan yang nanti bisa kutanyakan kepada Arif atau Wawan. Pikiran ini benar – benar menggangguku. Terlebih lagi setelah kelas selesai aku melihat kembali Ratri dan Andra pergi berdua dengan sepeda motor. Aku tak tahu kemana karena Andra memang tidak pamit ke aku ataupun ke yang lain. Begitupula Ratri.

Kuliah kedua Ratri dan Andra tidak terlihat sama sekali hingga hampir 30 menit. “Kemana mereka berdua??” batinku. Kebetulan kali ini Eka duduk disampingku kucoba tanyakan kepada Eka. “ Ka ko Ratri ga keliatan?? Nang di e?? ( Kemana ??)” tanyaku. “ Aku g liat e di tadi soal’e bar kuliah aku langsung ngeterke Septhi ngeprint dan jilid. ( aku g liat di, soalnya tadi abis kuliah aku langsung nganter Septhi ngeprint dan jilid. ).” Jawab Eka.

Wah bahkan Eka saja yang setauku memang dekat dengan Ratri tidak dipamiti. Kucoba mengirim sms ke mereka berdua dengan pertanyaan yang sama. “ Ratri..kamu g kuliah??” isi pesanku kepada Ratri. Pertanyaan serupa pun kukirimkan kepada Andra. 10 menit kemudian usai aku memberikan pendapatku di kelas balasan dari Ratri pun masuk, “ Maaf mas aku ga kuliah Pengantar Akuntansi, sedang ada urusan mendadak.”

“Urusan mendadak?? Ko bersama Andra??”Batinku. Ingin sekali sebenarnya aku menanyakan langsung kepada Ratri namun sepertinya belum waktunya. Aku masih menanti jawaban dari Andra namun dia tidak kunjung membalas pesan singkatku hingga kuliah hari itu usai pukul 12 siang. “Rif ko tadi aku g liat Andra ya??, Nang di e bocah’e?? ( Kemana e anaknya??) “ tanyaku kepada sang ketua kelas. Mungkin saja dia dipamiti karena sebagai ketua kelas. “ Ra reti e di, mau gur ngomong ada urusan mendadak ( Ga tau e di, tadi cuma bilang ada urusan mendadak )” jawab Arif.

Ko jawaban mereka berdua serupa ya meski tidak kudengar secara langsung karena Ratri hanya menjawab lewat sms dan Andra hanya berpamitan kepada Arif. Ada apa dengan mereka berdua??. “ Di ayo shalat.” Seru Galih yang sudah berdiri bersama Wawan. “ Yoooo.” Sahutku sambil setengah berdiri mengambil tas disampingku.Pukul satu siang, panas hari itu di kota Jogja cukup menyengat saat ku kembali dari kampus. Kurebahkan diriku menikmati semilir angin kipas yang berhembus. Pikiranku kembali memikirkan Ratri dan Andra. Kucoba mengirim pesan singkat kepada Ratri. “ Gimana urusannya?? Sudah beres??”.sambil kucoba beristirahat sambil menanti jawaban dan akhirnya tertidur pulas.

Dua setengah jam aku tertidur tanpa namun jawaban dari Ratri belum kuterima. “ Daripada mikir yang g pasti kaya gini mending jalan keluar aja.” Batinku. Akupun berniat untuk belanja kebutuhan pangan untuk persiapan puasa yang hanya tinggal 3 hari lagi. “ Eh ada cewek.” Godaku saat melihat Mayang yang juga sedang berada di minimarket yang sama yang kebetulan memang dekat dengan kampus. “ Woo Ardi tho..tak kira siapa.” Sahutnya. “ Lha emang kamu ngira aku siapa??” sahutku lagi. “ Tak pikir kamu om – om jahat hahaha.” Ujarnya sambil tertawa. “ Wuu semfrull, sendirian?? Belanja apa e may??” tanyaku. “ He’em Cuma beli pasta gigi sama cemilan aja.” Jawabnya.

Adzan Maghrib berkumandang dan akhirnya aku menerima pesan dari Ratri. “ Maaf mas baru balas, tolong besok saya diizinkan ke Arif ya, saya tidak bisa masuk besok, sama Mas Andra juga tolong diizinkan besok ya.”. “Ko mereka bersama – sama lagi?? Apa hubungan mereka berdua??” batinku bergejolak. Belum sempat hilang kebingunganku akan hal itu hapeku berbunyi menandakan ada telepon masuk.Kulihat kontak yang menelpon, Mas Iwan yang rupanya menelpon, “ Ada apa ini ko tumben sekali?” tanyaku dalam hati.

“ Assalamualaikum mas, kenapa tumben menelfon?” tanyaku memulai percakapan. “Walaikumsalam di, maaf mas mengganggu mas Cuma mau memberi kabar om Leo dirawat di RSUD Wates terserang typhus baru saja masuk.” Jawab mas Iwan. “ Hah??ko bisa mas??Mas sekarang dimana??dirumah??” tanyaku lagi. “Iya kebetulan mas sedang dirumah.” Jawabnya.” Weekend ini kamu bisa nemenin bulik disini ga??” sambungnya lagi. “ Insya Allah bisa mas, kebetulan hari Rabu besok sudah libur awal puasa, besok sore Ardi kesana.” Jawabku. “ Ok terimakasih y di, Assalamualaikum.” Sahut mas Iwan. “ Walaikumsalam.” Sahutku mengakhiri pembicaraan malam itu.

Kukirimkan pesan yang kudapat barusan kepada kedua orang tuaku di Jakarta. Dengan perasaan yang tak menentu kurebahkan badanku ini. Pikiran yang berkecamuk membuatku bingung mesti berbuat apa saat ini. Hingga panggilan Adzan Isya menyadarkanku dari lamunanku.” Semoga ini berakhir bahagia dan baik – baik saja.” Batinku Kutinggalkan kasurku menuju ke masjid terdekat untuk menunaikan panggilanNya dan berusaha menenangkan diri disana.

Bersambung….

Dalam hidup memang terkadang banyak hal hal yang menghantui pikiran kita. Mulai dari masalah yang langsung berurusan dengan kita maupun yang tidak berurusan langsung.

Dalam bab berikutnya Ardi akan menemukan sesuatu yang lama hilang dari dirinya..

Apakah itu??

tunggu kelanjutannya ya…

😀

Lanjutannya

Beranjak Dewasa Bab Ketujuh

Cerita ini fiktif semata…kesamaan nama dan tokoh merupakan ketidaksengajaan semata :P

Cerita sebelumnya disini

Bab VII

Kejadian Minggu Pagi

Minggu pagi yang cerah menyapa ku hari ini, dengan semangat olahraga kulangkahkan kaki ini menuju kampus sebelah yang kebetulan menggelar semacam pasar pagi. Dengan niat mandi sinar matahari sambil mencari – cari barang yang mungkin bisa menambah bagus kamarku aku pun melangkah. Kejadian sabtu siang kemarin menjadi salah satu pelecut semangatku. Sudah sedikit banyak hal yang aku ketahui tentang sosok yang kucari selama Ospek kemarin.

Ratri Ayuningtyas berasal dari Solo dan ternyata kosnya kemarin tidak jauh dari kos Eka. Namun sayang kemarin lagi – lagi aku lupa minta nomer hapenya. Ya sudahlah nikmati saja dulu perjalanan pagi ini, toh besok pagi juga ketemu sama dia. Longok kiri kanan melihat lihat barang – barang apa saja yang dijajakan disini, dan ternyata cukup lengkap. Mulai dari peralatan rumah tangga, hingga sandang dan tentu saja pangan.

Tanpa sengaja aku menangkap sosok yang aku kenal baik, Ya itu sosok Andra yang sepertinya sedang jalan dengan seseorang yang nampaknya tak asing. Sambil mendekat secara perlahan tanpa sedikit pun ingin diketahui oleh dua sosok itu. Mengamati dan terus mengamati, “ko kayanya itu Andra sama Ratri ya??” batinku bergejolak.

Dan benar saja itu Ratri yang memang sedang berjalan bersama dengan Andra kurang lebih 300m didepanku. Entah apa yang kurasakan saat ini, rasanya tak bisa dijelaskan. Batinku tak tenang dan sepertinya aku merasakan amarah yang tak seharusnya.Ya memang tak seharusnya, karena aku tak tahu amarah ini ditujukan untuk siapa. Kuputar balik langkah kakiku menuju arah sebaliknya dan segera menuju kembali ke kamar kos.

Kubantingkan diriku dikasur, batinku masih tak tenang saat ini.Pikiranku melayang dengan berbagai pertanyaan khususnya ada apa dengan mereka berdua??. Semangat yang kudapat malam tadi mendadak hilang lenyap seketika itu saja.” Lebih baik kurendamkan sesaat kepala ini biar lebih tenang.” Batinku. Aku pun menuju kekamar mandi dengan niatan mendinginkan suasana batinku saat ini. Berulang kali kurendamkan kepala ini kedalam bak mandi. Suaranya cukup gaduh, namun beruntung keadaan kos saat itu sangat sepi karena memang penghuni kamar lain tidak ada.

Kurang lebih setengah jam aku berada dikamar mandi untuk menenangkan diri sampai akhirnya aku kembali kekamar. Hapeku berbunyi menandakan ada pesan masuk yang rupanya dari Eka, “ Heh tadi ko mlayu to  tak panggilin juga.” (ko tadi lari aja aku pangil2 juga). “Heh?? Kapan?? Dimana ka??” aku setengah kaget. “ Barusan di pasar pagi kampus. Kemana kamu buru – buru?? Ga bilang kalo kesana, Aku sama Ratri tadi juga kesana, kebetulan juga ketemu sama Andra tadi.”. “Oh ternyata mereka tadi tidak berdua, lalu mengapa aku mendadak jadi emosi tadi??”

“Wah iya maaf tadi tiba – tiba perut ku sakit ka. Masih disana??” isi pesan singkat itu kukirimkan pada Eka.” Masihlah, dicari Andra sama Ratri tuh kamu malah kabur.” Kurebahkan badanku sambil merenungi yang terjadi tadi. “ Aduh dasar payah, belum apa – apa sudah menafsirkan yang bukan – bukan saja.” Kusesali kejadian tadi, cukup lama aku berbaring ditemani alunan – alunan musik yang keluar dari laptop putihku ini.

“ Tok tok tok, Di” Bunyi pintu kamarku diketok, ternyata Andra yang berada di depan kamarku. “ Heh kamu tadi juga ada di pasar pagi tho di?? Ko ra ngomong neg rono.” (ko g bilang kalo kesana ). “He’em tadi aku kesana, lha tadi aku ga tau kalo ada kalian disana, kalo Eka g sms juga aku ga tau ndra.” Balasku. Sebenarnya masih agak sedikit panas suasana hatiku ini namun berusaha kutenangkan sendiri.

“Lha tadi kamu ngpain aja e sama Ratri sama Eka??” tanyaku. “ Ya Cuma muter – muter aja tadi niatku kan olahraga jalan sehat eh ketemu mereka yoweslah bareng – bareng.”, “ Oh ya gimana tugas ekonomimu?? Sudah beres??.” Tanya Andra padaku. “ Sudah siap tinggal editing tulisan saja lalu cetak dan dijilid.” Alhamdulillah tugas yang itu sudah hampir beres, buatku tugas ini memang cukup merumitkan karena aku hanya sendirian dikelilingi para teman wanita sehingga membuatku kaku di awal namun tugas yang kulaksanakan bersama Eka, Dhini, Mayang dan Septhi sudah hampir selesai sebelum deadline. Ya minggu ini adalah minggu terakhir menjelang bulan Ramadhan dimana tugas itu harus diselesaikan sebelum awal Ramadhan.

Kedatangan Andra tadi kekos sebenarnya tidak ingin kuterima. Ya karena masalah yang tadi aku liat pagi tadi itu.Dan mala mini pun sebenarnya aku sedang tidak mood melihatnya tapi bagaimana lagi, Andra dan Esa sudah ada di kosku untuk nonton bareng siaran Sepak Bola di kos Galih. Dan kami bertiga pun akhirnya sudah menuju ke kos Galih setelah menunaikan shalat Isya. Dan aku terkejut melihat ada “tamu jauh” haha. “ Weh ada Wawan tho?? Langsung dari Klaten wan??” tanyaku begitu melihat Wawan ada dikos Galih. “ He’em demi nonton bareng nanti aku nginap ditempat Galih saja.” Sahutnya

Masih satu jam sebelum pertandingan dimulai kami berlima memutuskan untuk keluar makan terlebih dahulu sambil membeli makanan ringan untuk menemani tontonan kami nanti. Nonton bareng tadi sebenarnya sudah sedikit melupakan kejadian pagi tadi hingga akhirnya kembali teringat saat aku kembali termenung sendirian di kamar kos. Dengan bacaan doa coba kulupakan masalah batin itu sambil berharap esok hari batinku sudah normal. Dan perlahan kututup kedua kelopak mata ini untuk memberikan waktu kepada tubuhku hak mereka untuk beristirahat.

Bersambung. . .

Hati memang memegang kendali terbesar dalam diri kita. Dia sumber awal kita bergerak, berfikir, dan bertindak. Akankah Ardi mampu memanajmen hatinya??

Lanjutannya disini

Beranjak Dewasa Bab Keenam

Cerita ini fiktif semata…kesamaan nama dan tokoh merupakan ketidaksengajaan semata 😛

Cerita Sebelumnya : Disini

Bab VI

Ratri Ayuningtyas

Minggu kedua tugas mulai berdatangan, kelompok demi kelompok mulai terbentuk dan kebanyakan terbentuk sesuai dengan keinginan dan pilihan dosen secara acak. Disini lah aku mulai kaku. Kenapa?? Ya karena mau tidak mau harus bersosialisasi dengan semua anak – anak dikelas termasuk mahasiswinya. Namun ya pasti lama – lama aku terbiasa, biar bagaimanapun mereka teman sekelasku. Memang aku termasuk orang yang tidak mudah berkenalan dengan orang lain.

Kelompok – kelompok awal masih bisa kutangani karena aku masih bergantian berkelompok dengan Esa, Andra, Galih. Dan beberapa teman – teman wanita pun aku kenal, seperti Ara, Nike dan Tari. Ara dan Tari kebetulan sempat satu sekolah saat SMP karena memang dua – duanya asli anak Jogja. Ara Wardana nama lengkapnya, tinggi badannya sedagu ku, oh iya tinggi badanku sendiri sekitar 170, berjilbab dan berkacamata sama sepertiku. Sedangkan Tari nama lengkapnya adalah Lestari Putriantiwi, tingginya sama denganku. Rambutnya cukup panjang namun aku tidak tahu berapa detailnya panjang rambutnya itu. Nike Ardhiani hampir sama dengan Tari namun rambutnya tidak sepanjang Tari.

Dan ternyata dibalik semua tugas kelompok dadakan ini akan ada sesuatu yang mengejutkanku. Semuanya dimulai saat pembagian tugas yang sangat menggangguku, ya sangat mengganggu karena ditilik satu persatu nama anggota kelompoknya aku adalah cowo satu – satunya. “ Mampus aku cowo sendiri.” Batinku. Sementara itu Esa sekelompok dengan Galih, Andra dengan Arif dan Wawan. Haduh gundah gulana aku jadinya.

Semua makin membuatku gundah karena dari nama – nama tadi aku sama sekali belum tahu yang mana saja orangnya. Beruntungnya tugas kelompok ini tidak segera dikumpulkan. Ya tugas kelompok ekonomi ini dikumpulkan sebelum bulan Ramadhan tiba awal bulan depan. “ Hah kenapa dari 5 orang aku cowo sendiri sih??” keluhku dalam hati. Nama – namanya yang tadi pun samar – samar aku ingat hanya Eka Kusumawati dan Dhini Wardanti

“Tok tok tok… Di” Suara pintu kos ku diketuk seseorang. “ Masuk aja lih.” Sahutku. “Kenapa e kamu ko kusut?? Mikir apa??” Tanya Galih begitu masuk kos ku. “ Engga ko lih Cuma mikir tugas – tugas kelompok. Mana kelompok ekonomi ga ada yang ku kenal lagi.” Sahutku. “ Lha kelompokmu sopo ae tho??” ( Lha kelompokmu siapa aja tho?? ) Tanya Galih lagi. “ Lha kui lanang’e ki ngga ono, sing tak eling ki sing jeneng’e Eka karo Dhini liane lali.” “Alah nyante ae engko yo do sms kowe og.” ( Alah santai aja nanti juga pada sms kamu ko ), sida ra nggolek hem?? ( jadi nyari hem ga??).” tanyanya lagi. “ Yowes ayo motormu lebokne sik, nggo motorku ae.” Sahutku.

Sore itu pun akhirnya kuhabiskan dengan berputar –putar bersama Galih mencari kemeja. Yah daripada terus – terusan mikir kelompok yang baru saja kudapatkan pagi tadi, refreshing sejenak lah menikmati indahnya sore di Jogjakarta. “ Nang di meneh saiki??” Tanya Galih setelah hem didapat. “ Terserah lih manut aku, muter – muter yo rapopo og, timbangane nganggur nang kos.” ( terserah lih manut aku, muter – muter juga ga apa, daripada nganggur di kos ) jawabku.

Pengelanaan kami pun berakhir di Monumen Serangan Umum. Entah mengapa tiba – tiba aku sudah duduk di tempat duduk depan Monumen yang memang sepertinya diperuntukkan untuk duduk – duduk dan bersantai, kebetulan suasana memang cukup mendukung. Senja yang indah, angin bertiup semilir menambah kesejukan tersendiri, dan banyaknya pedagang kaki lima menambah semaraknya suasana dan cukup mengundang nafsu makan tentu saja. Mulai dari pedagang sate jinjing, bakwan malang, dan es doger berlomba – lomba mengais rejeki. Tidak ketinggalan ada juga pedagang kerajinan yang mangkal untuk menarik minat para wisatawan mancanegara untuk membeli.

Sang mentari sudah kembali ke peraduannya dan akan segera berganti dengan sang rembulan yang bersinar ditemani oleh kemerlapnya sang bintang. Termenung di kursi kayu teras kos, sebelum akhirnya tersadar kalau daritadi niatnya kan ingin keluar untuk cari makan. “ Haduh kenapa malah ngelamun disini??” batinku. Dan akhirnya kulangkahkan kaki ini, membiarkannya melangkah membawa raga ini menuju tempat yang ia inginkan. Dan kaki ini membawaku ke sebuah rumah makan lesehan sederhana dengan harum bau masakan yang cukup menggodaku.

Sepiring nasi serta lele goreng dan sepotong tempe tahu sudah siap kusantap. Dengan diawali lantunan doa suap demi suap masuk ke perut ini. Sejenak kulupakan masalah kelompok yang sedari pagi tadi sudah menggangguku. Nikmatnya anugerah  Yang Kuasa ini membuat ku lupa akan masalah itu, nikmatnya masakan ini. Garingnya lele ini mengingatkanku akan rumah, dimana aku paling senang jika Ibuku memasak lele dengan tambahan sambal terasinya.

Kenyang sudah perut ini, saatnya kembali ke kos. “Cklek” pintu kamar kos kubuka. Ku hampiri 2100 ku yang kebetulan sedang dicash. “ Dua Pesan Diterima.”, siapa ya??. Kubuka satu persatu sms yang masuk. Sms pertama dari Eka “ Di besok kita kumpul ya..buat diskusi tugas ekonominya biar cepet selesai.” “ Ya dimana??Jam berapa???”. Balasku. “ Di taman aja jam 9an ok??”. Balasnya lagi. “Ok”. “ Sudah mau ramadhan lagi ya??  Puasa pertamaku tanpa orang tua seperti apa ya nanti?? Apa aku ga akan kesiangan untuk bangun santap sahur??” aku bergumam sambil memandangi dua ekor cicak yang sedang bersenda gurau di langit – langit kamar kos ku. Ku beranjak dari kasur kecilku ini untuk menunaikan kewajiban yang belum kutunaikan, setelah itu lalu beranjak untuk tidur.

Suara ayam jantan membangunkanku, pukul 5 pagi lewat beberapa menit. Aku pun bergegas menuju kamar mandi untuk segera menunaikan kewajibanku. Usai menunaikan kewajiban ku nyalakan laptop putihku untuk berselancar bersama mba maya melihat lihat apa berita yang sedang hangat dari hari kemarin. Sambil membuka jejaring sosialku dan melihat – lihat apa yang sedang terjadi pada teman – temanku. Sedikit terkaget melihat  jejaring social milik Arin, “ Wah ga salah ni anak balikan lagi?? Minta traktiran nih.” Batinku. Kusambar 2100ku dan kukirimkan pesan kepada sahabat yang sudah ku anggap keluarga sendiri itu. “ Ada yang lagi lope lope nih??Traktir donk..hahaha” is isms yang ku kirimkan dan kulanjutkan aktivitasku melihat – lihat berita.

Tak terasa sudah pukul 8 pagi, kumatikan sang Laptop putih dan bergegas mandi. Rencana hari ini mungkin hanya kumpul untuk membahas tugas dengan Eka dan kawan – kawan. 15 menit kemudian akupun siap, “Tut tut..tut tut.” 2100 berbunyi menandakan pesan masuk. Balasan dari Arin rupanya, “ Hahaha lope lope apaan bang?? Sapa emang??haha.” Sesaat ku tersenyum simpul melihat tingkahnya. “ Ngeles lagi ni bocah, sombonglah udah g pernah cerita..traktir lah pokoknya..pulsa 10rb cukup ko..haha.” balasku.

Kunyalakan mesin motorku untuk bergegas menuju kekampus, tepat pukul 9 aku sudah berkumpul dengan Eka dan kawan – kawan meski tadi agak bingung mencari mereka, maklumlah masih baru kenal dan belum hafal ciri masing – masing. Lengkap sudah 5 orang, Aku, Eka, Dhini, Mayang dan Septi. “ Huff beneran cowok sendiri ga enak banget rasanya.” Batinku. Pembagian tugas pun dibagi rata berhubung aku Cuma minoritas jadi ya manggut manggut. Ibarat kata kali ini aku seperti lagu yang berjudul Pria Dijajah Wanita.

Pembahasan tugas selesai dalam kisaran waktu 3 jam. 3 jam waktu total sebelum menuju makan siang. Bahas tugasnya sih cuma sejam, y tapi syukur ternyata anak – anaknya ga kaku dan Alhamdulillah aku cukup membaur dengan obrolan – obrolan saling berbagi cerita sebelum masuk ke sini. “ Di jadi fotocopy bukunya ga??” Tanya Eka. “ Ya jadilah kamu bawa apa engga bukunya??” aku balik bertanya. “ Engga..hehe..ke kos ku ya sekalian anter aku pulang.”  Jawabnya sembari tertawa kecil. “ Halah ngomong ae neg njaluk diterke bali, ndadak isin.” (ngomong aja kalo mau dianter pulang, pake malu – malu, balasku

Ya jadilah buku aku mengantar Eka ke kosnya sekaligus mengambil buku yang memang ingin ku fotokopi. Kurasakan getaran di kantong jaketku, sepertinya ada sms masuk. Sambil menunggu Eka turun dari kamarnya yang di lantai dua kubuka sms yang baru saja masuk. Arin rupanya lama sekali anak ini membalas smsku. “ Sorry bang tadi ada urusan ga bisa megang hape. Enak aja minta 10rb, ini aja sms ngandelin gratisan, hahaha.” “ Pelitlah kau itu ga aku doain langgeng loh kamu. Haha” balasku. “ Ah jahatlah kamu bang.” Balasnya lagi. Belum sempat kubalas Eka sudah turun dan memberikan bukunya padaku.

“ Senen sms yo biar aku ga lupa bawa bukumu.” Kataku sambil memutar balik motor. “ Siap bos..makasih yo dah dianter..hehe.” balasnya lagi. Kuacungkan jempolku sambil berlalu. Mampir ke tempat makan untuk mengisi perut. Sepiring nasi dengan ayam goreng dan sayuran sudah siap disantap siang ini sambil menunggu datangnya es jeruk. Entah darimana datangnya tiba – tiba aku merasakan sesuatu, rasa yang aku sendiri tidak dapat menjelaskannya. Sedikit rasa gundah seperti menunggu sesuatu, “ Masa iya nunggu es jeruk ampe segininya.” Batinku.

Kuhentikan suapanku sejenak seiring datangnya  es jeruk, kuseruput sedikit demi sedikit. Namun masih ada rasa yang mengganjal. Dan rasa ini pun akhirnya terjawab ketika ku melihat sesosok wanita yang sedang mengambil lauk demi lauk di belakangku.Sesosok wanita yang pernah kulihat dan kukenal, yang sepertinya menjadi jawaban dari kegundahan hati yang mendadak menghinggapi raga ini. Dan saat ia berbalik jelas sudah memang dia yang kukenal, dia yang saat itu meyakinkan aku bisa mengerjakan penugasan ospek dengan sepatah kata dan senyumannya.

Lagi dan lagi dunia serasa terhenti, bagaikan adegan lambat Keanu Reeves saat bermain dalam film Matrix Revolution. Serasa tak percaya dengan apa yang kulihat, semua semakin terasa sangat kacau dalam diri ini saat tiba – tiba ia menoleh dan menatapku. “Cessss..” bagaikan bara api yang tersiram air kolam rasanya saat untuk kedua kalinya kontak mata itu terjadi. Kulemparkan sebuah senyuman padanya, dan dibalas dengan sebuah senyuman darinya. Dan entah suatu kebetulan apa memang sudah ditakdirkan olehNYA warung makan ini cukup ramai dan satu kursi yang tersisa hanyalah kursi yang berada di sampingku.

“Sepertinya aku bermimpi.” Batinku. Dia pun akhirnya duduk disebelahku, entah apa yang kurasakan saat ini, aku tidak bisa menjelaskannya. Rasa senang, takut, grogi semua bercampur menjadi satu. Dia menganggukkan kepalanya seakan memberi tanda agar aku melanjutkan suapanku. Akupun melanjutkan suapanku dengan perasaan yang tercampur aduk tadi. Entah keberanian darimana tiba – tiba mulut ini pun mengucapkan beberapa kalimat.

“ Kayanya kita pernah ketemu ya mba.” Kataku membuka percakapan. “ Eh iya mas yang waktu Pra Ospek itu ya??” sahutnya. Ah suaranya sangat indah ditelingaku, sepertinya aku mendadak demam. “ Wah ternyata benar aku pikir tadi aku salah orang, soalnya mba sekarang kan memakai jilbab.” Kataku lagi. “ Iya mas kemarin aku pas pra ospek memang belum memakai jilbabnya, namun pas ospek hingga kini aku sudah mantap untuk berjilbab. Sebenarnya sudah dari kemarin aku ingin menyapa kamu tapi takut masnya lupa sama aku.”

“Hah?? Berarti sebenarnya dari kemarin aku sudah sering bertemu dengannya??” batinku. “Loh mengapa tidak menyapa mba?? Memang kita pernah bertemu ya??” tanyaku polos. “ Tuh kan benar masnya tidak tahu, kita kan satu kelas mas memang aku duduknya selalu didepan jadi mungkin mas tidak lihat, tapi saat mas masuk kelas aku lihat ko.” Jawabnya. “Hah??satu kelas??” batinku setengah terkejut, namun kututupi keterkejutanku ini.

“ Ah iya ya??jadi ga enak nih aku..hehehe, masih baru jadi aku belum kenal dan hafal semua anak – anak dikelas.” Jawabku sekenanya. “ Oh iya kita malah belum kenalan aku Ardi Nurrahman panggil saja Ardi.” Sahutku lagi. “ Iya mas sudah tahu ko kan sering dipanggil sama Arif sang ketua kelas, namaku Ratri Ayuningtyas, panggil saja Ratri atau Ayu.” Jawabnya lagi. Obrolan kamipun berlanjut hingga makanan kami habis dan akhirnya kami ke kos masing – masing.

Kulipat sajadahku dan kurebahkan badanku diatas kasur. Seakan mengerti apa yang kurasakan Streaming radio yang kusetel berisi lagu – lagu yang berbau lope – lope. Senyum terus mengembang di raut wajahku, “Ratri Ayuningtyas nama yang sesuai.” Batinku. Apa yang kucari akhirnya kudapatkan. Sepertinya aku kena karma setelah seharian menggoda Arin. Kupejamkan kedua kelopak mataku sambil mengingat – ingat semua yang kami bicarakan tadi siang, hingga akhirnya aku tertidur di atas kasurku.

Bab VII

Beranjak Dewasa Bab Kelima

Memasuki bab kelima dimana Ardi sudah mulai melakukan rutinitas barunya sebagai mahasiswa kos di kota pelajar

Kumpulan bab sebelumnya : Disini

Bab V

Semuanya Dimulai

Hari baru dengan pengalaman baru, seribu langkah besar dimulai dari satu langkah kecil. Ratusan hari yang mungkin akan kutempuh disini dimulai hari ini. Senin pagi yang cerah, tak kusangka bisa mendengar suara ayam jantan berkokok dengan lantangnya pagi tadi. Hal itu merupakan salah satu hal yang jarang kutemui. Perlahan hidung ini mencium sesuatu yang membuat penghuni dalam perut ini memberontak. “ Ah bau masakan ini menggodaku, memang sudah waktunya sarapan.” Gumamku.

Pukul 07.00 jam pertama kuliah ku hari ini, masih setengah jam lagi waktu yang cukup untuk menuruti teriakan – teriakan usus besar dan usus kecil di dalam perut. Setelah rapi aku pun bergegas keluar kamar dan menguncinya untuk segera mencari sarapan dan langsung menuju kampus untuk kuliah. Kupanasi mesin sang Phantom sambil kekenakan sepatu wasiat yang sudah 3 tahun kupakai.

Helm sudah berbunyi klik pertanda sudah sesuai prosedur yang banyak terpasang di jalan – jalan. Tapi sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang kulakukan saat ini, karena seharusnya bunyi klik itu ketika talinya berada di dagu, bukan di lengan seperti apa yang aku perbuat. Melaju perlahan sambil lirik kiri kanan sambil mencari menu sarapan pagi ini.

Dan akhirnya kuputuskan menu sarapan pagi ini adalah nasi kuning. Entah kenapa aku memilih nasi kuning padahal selama ini sama sekali belum pernah aku sarapan pagi nasi kuning. Mungkin kali ini yang harus bertanggung jawab adalah poster bergambar yang terpampang. Nasi kuning dengan suwiran ayam dan sebutir telur rebus siap disantap. Ternyata sesuai dengan yang digambar, hmmm yummy batinku. Para usus ini memaksaku makan dengan lahap dan dalam waktu kurang dari 7 menit sepiring nasi itupun tak bersisa lagi.

Saatnya menuju kampus, kali ini bunyi kliknya benar – benar sesuai prosedur yang ditetapkan. Jarak 2km pun kutempuh perlahan. Kurang dari 10 menit aku pun sampai di kampus, berjalan perlahan menuju kelas yang akan kutempati pertama kali. Dan untuk pertama kalinya aku melihat seluruh wajah teman – temanku, eh bukan wajah tapi bentuk wajah dan bentuk tubuh. Karena aku termasuk orang yang agak sulit mengingat wajah hanya dengan satu dua tiga empat kali bertemu. Kalaupun ingat besoknya jika bertemu lagi dengan pakaian berbeda pasti aku lupa.

Masuk kelas pertama, dosen pertama namun bukan teman pertama. Ya jelas bukan aku duduk berdekatan dengan Esa. Ah pertemuan pertama memang tidak cukup penting, hanya perkenalan dan tentu saja pemberian materi dan pengenalan buku. Tapi tetap saja penting untuk absen. Menilik nama – nama absen dan aku baru tahu kalo nama Esa itu cukup unik untuk diejek. Esa Satya Mandala namanya, namun dibenakku menjadi Esa Satya Mandala Krida Sari Husada haha, bisa dihajar Esa aku kalau dia tahu.

Melihat satu nama yang cukup simple dan setengah ga percaya kalau itu nama lengkap. Setyawan, dan ternyata dia duduk disampingku. Jadi ga enak aku dan bertambah satu temanku. Setyawan atau Wawan panggilannya. Anak Klaten dan hebatnya dia tidak kos jadi pulang pergi Klaten – Jogja. Wah wah salut padahal setahu ku jaraknya lumayan. Mungkin kalau di Jakarta itu seperti dari Taman Mini Indonesia Indah sampai Monas. Wah jadi ingin kesana terakhir kesana bersama Ibu mengunjungi adiknya  yang bekerja disana. “ Kapan – kapan main ah kesana.” Batinku.

“ Ga cape wan bolak – balik??Ga kos aja??” tanyaku. “ Ya neg dinikmati yo ora og, wis kulino. Lagian du Klaten kota dadi ra adoh – adoh banget.” ( ya kalau dinikmati y engga ko, udah biasa. Lagian bukan Klaten kota ko jadi g jauh – jauh banget ). “ Meh ngekos eman – eman duit’e bapak.” ( Mau ngekos sayang yang bapak ), sahutnya lagi. Kuperhatikan suasana kelas, dan melihat kejanggalan namun cukup menggelikan. “Duduknya ko berkelompok begini ya??” Yang cewe di depan semua dan cowonya dibelakang semua, seperti sudah ada aturannya saja, hihi.” Gumamku.

Mata kuliah pertama usai, kuliah berikutnya pun menjelang dan menginstruksikan kita semua untuk pindah ruang. Dan mendapat ruangan di lantai 3, oh tidak mesti naik turun tangga. Tak apalah anggap saja olahraga. Sambil menunggu dosen datang ku keluarkan 2100 ku yang ternyata sudah surat dari pak pos. Eh bukan denk, ada dua pesan masuk dan dua – duanya berasal dari teman seperjuangan jaman sekolah menengah yang kebetulan salah satunya juga merantau sama sepertiku. Pesan demi pesan kukirimkan dan kuterima. Berbagi cerita – cerita tentang kehidupan awal kuliah masing – masing. Sambil ku ingat masa – masa bersama mereka berdua.

Jadilah saat – saat menunggu ku habiskan dengan menatap layar terang dan memencet – mencet keypad ala 2100. Arin dan Dzul dua sahabat terbaik yang pernah kumiliki, kebetulan Dzul juga senasib dengan ku merantau ke luar kota. Namun dia lebih ke arah timur, ya dia merantau ke kota Lumpia, Semarang. Sangking asiknya aku tidak sadar dengan apa yang sedang dibicarkan di kelas. “ Heh kamu pilih siapa??” Tanya Wawan. “ Hah?? Pilih??Pilih apa??” sahut ku sambil terbingung –bingung. “ Hah kamu ini itu liat ke papan tulis ada pilihan ketua kelas kita atas usul kakak kelas.” Sahut Wawan lagi. “ Oh ya ya ya maaf sedang asyik tadi. Aku pilih Arif saja.” Sahutku sambil langsung melanjutkan aktifitasku.

Dan ternyata Arif sukses terpilih menjadi ketua kelas dengan Andra sebagai wakilnya. Cukup pantas lah menurutku, karena Arif sendiri terlihat karismatik. Dan ia pun langsung bertugas membuat persetujuan – persetujuan dengan kelas, salah satunya adalah perjanjian tentang batas keterlambatan dosen. Batas yang ditetapkan adalah 20 menit, jadi apabila setelah 20 menit melewati jadwal yang ada kelas yang meninggalkan dosen.

Minggu pertama terlewati dengan baik. Belum ada materi yang masuk karena memang belum jadwal dosen memberikan materi. Jum’at ini jadwal kuliah hanya pukul 07.00 pagi sampai pukul 08.40, setelah itu free hingga senin. “Ngapain ya nanti??” pikirku. Kalau hanya di kos pasti bosan setengah mati aku nanti, karena Cuma berinternet ria. Dan kebetulan sedang tidak ada niat untuk berselancar di dunia mba maya. “Nanti ikut yang lain saja lah pada ingin kemana”. batinku

“ Jadi sudah disetujui penilaiannya bobotnya seperti ini??”, dosen menjelaskan. “ Bobot apa?? Penilaian apa??”. Aku terheran. Ku lihat papan tulis dan baru aku sadar kalau yang daritadi dibahas itu adalah bobot penilaian mahasiswa. “ Oh ini tho yang dibahas daritadi??.” Aku bergumam, terlalu banyak melamun aku minggu ini. Entah apa yang kupikirkan.

Kuliah usai kini saatnya bingung.” Hmm kemana kita sekarang??” batinku. “ Di mau kemana kamu sekarang??” Tanya Arif. “ Ga tau rif paling ke kos, kenapa??” jawabku. “ Melu yo..nggolek buku.” ( Ikut yok cari buku ) jawab Arif. “ Sopo ae rif?? Aku ayo ayo aja.” Balasku. “ Kayanya rame Esa Galih juga ikut.” Sahutnya lagi. “ Cuma berempat lagi??.” Jawabku lagi. “ Engga kae Wawan Andra yo melu og.” ( Engga itu Wawan Andra juga ikut ko ). Jawabnya. “ Oh ok aku sih, sekarang??” tanyaku. “ Ora sesuk ae bar bada’. Yo saiki.” ( Engga besok habis lebaran. Ya sekaran ). Sahutnya.

Dan akhirnya kami berenam pun mengitari jogja dengan guide tournya Andra yang sudah cukup hafal daerah Jogja, maklum kakaknya juga kuliah disini. Dengan mengorbankan bensin dan motor ku, aku pun duduk manis di belakang Arif karena lagi malas bawa motor. Menikmati semilirnya udara jogja yang kebetulan sedang mendung. Jalanan yang sepi amat sangat kudambakan. “ Kaya gini nih yang mantep, ga perlu sering – sering turun kaki karena macet.” Batinku.

Persimpangannya pun tidak sesemrawut Ibukota, penunjuk waktunya juga tidak selama di Ibukota yang bisa mencapai satu setengah menit. Berhenti di salah satu toko buku bekas di belakang SMA Negeri aku lupa tadi SMA berapa ya??. Beberapa buku didapat namun tidak semua kebagian, yak dan akhirnya cara cara jitu para mahasiswa kos pun dimulai. Masing – masing beli satu buku yang berbeda dan sisanya fotocopy. Cara kaya gini nih yang sebenarnya merugikan penulis.

Tapi mau bagaimana lagi, factor uang yang memaksa kami berbuat ini. Perburuan selesai, kewajiban menunggu kami semua karena sudah pukul 11.30. Segera kami mencari mesjid terdekat untuk menunaikan kewajiban shalat. Selesai shalat saatnya wisata kuliner kembali, menjelajahi warung makan dengan rasa bintang lima namun harga kaki lima. Dasar anak kos mencari yang murah selalu, batinku tertawa geli.

Mendapat tempat makan yang cukup ramai dengan kumpulan pedagang – pedagangnya. Menurut kata Andra pedagang – pedagang ini memang sengaja disatukan disini tempatnya agar terlihat rapi dan tidak berantakan. Agak pusing juga aku mencari makanan apa yang akan dimasukkan ke dalam tubuh melihat banyaknya pilihan makanan. Mulai dari nasi goreng sampai ayam goreng, Mulai dari soto ayam sampai soto sapi.

Lidah ini tergiur begitu melihat semangkuk besar Sup Buah yang amat sangat menggugah selera. Ok satu pilihan ditetapkan anggap saja itu sebagai pengganti minum. Masih berkeliling mencari makanan yang sebenarnya semuanya menggugah selera, namun akhirnya insting ini menuntunku untuk melihat makanan khas Ibukota, yaitu Ketoptak. Yak aku menemukanmu wahai ketoprak, tak kusangka bisa bertemu disini sungguh tak kusangka hahaha. Ketoprak merupakan makanan wajibku di rumah jika sedang weekend harus menyantap itu setidaknya satu kali.

Ketoprak sendiri merupakan makanan yang terdiri dari lontong, tahu, bihun dan tauge yang dicampur dengan campuran bumbu kacang dan bawang putih dan kerupuk sebagai toppingnya. Wah tak sabar aku, langsung pesan saja sampai lupa nanya harga. Begitu duduk ternyata sudah pada siap dengan makanannya masing –  masing.

Galih dan Arif menyantap Nasi goreng, Esa menyantap mie ayam, sedangkan Wawan dan Andra menyantap Sop ayam. Minumannya pun rata – rata Es teh hanya Esa yang minum jus alpukat. Sepertinya aku yang heboh sendiri nih minumnya. “ Makan apa e qm di??” Tanya Esa saat aku datang. “ Ketoprak sama Sup Buah.” Jawabku. “ Wah dasar anak Jakarta.” Sahut Arif sambil disambut gelak tawa anak – anak lain.

Makanan datang, yummy yummy saatnya bertemu kembali dengan ketoprak, batinku. 20 menit kemudian sepiring ketoprak dan semangkuk sup buah sudah kosong. Perut ini benar – benar sedang on fire. “ Entek??hebat kowe..akeh lho kui mau.” Sahut Andra. “ Ngelih ndra, hahaha”. Sahutku. Memang benar porsiku tadi cukup banyak, namun lebih banyak Sup Buahnya tadi.

“ Habis berapa ya?? Tadi belum aku Tanya.” Batinku. Dan ternyata hanya 10 ribu ketoprak 6 ribu, sup buahnya 4 ribu. “ Wah mantaplah ini.” Batinku. Dan saatnya kembali ke kos untuk sesaat hibernasi membiarkan usus besar dan usus kecil bekerja sesuai prosedurnya. Dan sesampainya di kos benar saja mata ini langsung terpejam. Tanpa menghiraukan berantakannya kamar, dengan bertebaran baju dimana – mana, entah mana yang masih layak pakai atau sudah kadaluarsa dan perlu di vaksinasi dengan deterjen terlebih dahulu.

Bersambung….

Bab Selanjutnya Ardi akan bertemu dengan si “Dia” yang bertemu saat Pra Ospek…

Bab VI

Beranjak Dewasa Bab Keempat

Karya ini memasuki Bab Keempat selamat menikmati

Sebelumnya bagi yang belum baca silahkan klik cerita certa sebelumnya ya..

Bab I  : Langkah Pertama

Bab II : Teman Baru

Bab III : Pelepasan

Bab IV

Pertama

Sang 2100 bergetar menandakan ada pesan masuk, ku hentikan sejenak aktifitas beres – beres ku. “ Jadi jam berapa kita nanti di??”, rupanya Esa menanyakan janji yang ku buat tempo hari untuk pergi ke pameran computer. “Jam 10 ya, kamu ke kosku dulu.” Balasku. Hari ini aku resmi jadi anak kos. “Ardi sudah siap??” panggil Om Leo. “Sudah om.”, sahutku. Om Leo akan mengantarkan ku ke kos hari ini sekalian Ia akan bertemu dengan salah satu pelanggannya di daerah Kota. Om Leo adalah salah satu Wirausahawan muda yang cukup sukses. Bisnis kerajinan tangan dari tembikar yang ia rintis sejak 7 tahun lalu kini sudah berkembang pesat.

Sambil menyantap sarapan Bulik memberiku beberapa nasehat. “Nanti sering – sering main kesini ya di. Temani Om dan Bulik. Kuliah yang rajin y serap semua ilmu yang ada disana. Jangan segan untuk bertanya dan jangan Cuma ilmu di dalam kelas saja yang kau serap tapi juga ilmu yang bisa kau dapat dari luar kelas.”. “ Iya Bulik, nanti Ardi sering – sering main ko.” “Nah kebetulan kamu kan di jurusan Akuntansi nanti bisa saja kamu langsung mempraktekkan ilmu mu di tempat om, hitung – hitung membantu Om mu y.” sahut Bulik lagi. “Oh, siap itu Bulik.” Sahut ku mantap sambil mengacungkan jempol ku menandakan kemantapan ku.

Dengan diantar mobil Om Leo aku pun pergi meninggalkan rumah Om Leo menuju kos baru ku. Nasehat – nasehat serupa diberikan oleh Om Leo. Dia pun tidak segan membantu jika suatu saat aku membutuhkan bantuan. Perjalanan 45 menit pun diisi dengan berbagai cerita dari Om Leo tentang seluk beluk kota ini yang mungkin suatu saat aku butuhkan sebagai warga baru kota ini.

Dan kini aku sudah berada di depan muka kos baru ku. Sambil melambaikan tangan dan mengucapkan salam perpisahan kepada Om Leo yang perlahan meninggalkan ku. Bentuk rumah kos ku ini seperti rumah biasa yang terpisah dengan rumah Ibu kos. Rumah ini  terdiri dari 6 kamar berjejer kebelakang berhadap – hadapan dan kamar ku berada di tengah – tengah yaitu kamar nomor 4.  “Cklek” kunci pintu kamar sudah kubuka dan dengan helaan nafas panjang aku melangkah masuk kamar kos baru ku ini. Kamar berukuran 3×3 ini cukup besar untuk ku seorang.

Ku letakkan kacamataku di atas rak buku kecil di depan pintu masuk. Dua buah meja kotak kayu kecil berada di samping kanan pintu masuk. Lemari baju bertingkat berada di pojok kanan ruangan dan di pojok satunya sudah tergelar kasur kecil yang masih terbungkus plastik hasil perburuan barang murah bersama Ayah dan Ibu kemarin. Ku rebahkan sejenak badanku ini sambil melihat sekeliling isi kamar yang masih bersih tanpa ada tempelan poster, kalender atau kaca. Sepertinya kamar ini baru saja di cat ulang oleh Ibu kos sehingga terlihat sangat bersih. Dan Alhamdulillah aku bebas diperbolehkan menjadikan kamar ini sesuka ku. Bagi Ibu kos yang terpenting saat aku keluar dari kos ini nanti kamar ini bersih seperti awal.

Aku jadi teringat cerita Mas Yan saat dia kuliah dulu. Ada salah satu temannya yang berasal dari Purwokerto terjebak oleh keadaan kos yang sangat tidak nyaman. Ya Ibu kos yang terlihat manis di awal namun bertindak sadis di akhir. Bulan pertama Ibu dan Bapak kos masih terlihat baik. Sebut saja nama teman itu Ali, awal – awal Ibu kos bersikap sangat baik dan berkata – kata santun. Kebetulan saat itu awal – awal puasa juga merupakan awal Mas Ali masuk kos disana. Ibu kos dengan baik hati menyiapkan hidangan untuk santap sahur. Kebetulan bentuk kos Mas Ali itu rumah kos dengan 2 kamar dibawah sedangkan kamar Bapak dan Ibu Kos berada di lantai atas.

Rumah kos ini sepertinya kekurangan daya sehingga terkadang sering mendadak mati listrik saat banyak menggunakan peralatan listrik. Di awal memang Ibu kos sering mengalah untuk Mas Ali. Tabiat buruk dan rasa tidak nyaman muncul setelah 4 bulan berada di sana. Ya Mas Ali dan kawan kamar sebelah mulai merasakan tidak betah. Bagaimana tidak?? Aturan dikos sangat tidak menyenangkan, salah satunya adalah tidak boleh membawa teman ke kamar. Hmm padahal menurutku kamar yang sudah disewa itu bukankah sudah menjadi hak penuh Mas Ali??. Lalu terkadang pintu kamar seperti ingin dibuka paksa dari luar. Kebiasaan itu muncul setelah Ibu kos mulai berubah sikap masalah listrik, keegoisannya mulai muncul dengan memaksa Mas Ali dan kawan sebelah untuk berhemat.

Pada bulan kelima kawand sebelah kos Mas Ali sudah merasa tidak betah dan memutuskan pindah kos. Jadilah ia hidup sendiri di tengah siksaan Ibu kos yang bisa dibilang aneh. Kelakuan over protektif khususnya masalah penggunaan listrik. Masalah dimulai saat Mas Ali mempunyai laptop, diluar perkiraan sang Ibu kos meminta tambahan biaya. Padahal perjanjian di awal pembayaran sudah termasuk biaya listrik. Terpaksa lah dituruti oleh Mas Ali, 20 ribu rupiah mungkin terlihat jumlah yang kecil. Tapi bagi anak kos uang 20 ribu itu bisa untuk makan selama 2 hari.

Puncaknya adalah saat dimana listrik di kamar Mas Ali dimanipulasi oleh Ibu kos dengan dibuat saklar tersendiri oleh Ibu kosnya. Mas Ali sendiri tahu akan kelicikan itu saat hendak menjemur pakaian di atas dan melihat keanehan pada kabel listrik yang mengarah ke tempatnya. Kejadian –kejadian yang dialami Mas Ali membuat ku agak sedikit merinding. Akankah aku mengalami hal itu?? Aku harap tidak.

Dering hp membuyarkan lamunanku. Ternyata Esa sudah berada di depan menungguku, aku pun segera bergegas untuk menghampirinya. “ Maaf sa lama, kenapa tidak ke dalam saja tadi??” Tanyaku. “ Piye tho kamu ini??Lha wong aku ra reti kamarmu og.” ( Kamu ini bagaimana?? Lha aku kan ga tau kamarmu ). “Oh iya y..Maaf sa..hehe ya sudah ayo.” Sahutku lagi. Hari pertama ku tanpa orang tua akan ku mulai dengan mengambil “belalang tempur” Supra X Hitam ku.

“ Sa berhenti dulu di depan situ y..tempat jual bensin.” Kata ku kepada Esa. “ Weh meh ngopo e di?? Bensin ku full og.” ( Mau ngapain?? Bensin ku penuh ko ) jawab Esa. “ Bukan buat motor mu ko. Buat motorku”, balasku. “Walah nggo motormu tho”, sahut Esa. Sesampainya ditempat disana langsung ku ambil motor ku beserta helm. Ah akhirnya ku bisa bertemu dengan kamu lagi Phantom. Y motor Supra hitam ini dengan mantap ku beri nama Phantom. Aku dan Esa pun bergegas menuju pameran karena sudah hampir jam 11.00 waktu yang sudah ditetapkan bersama Galih dan Arif untuk bertemu disana.

“ Lih dimana posisimu??udah sama Arif kan??” pesan singkat ku kirimkan ke nomor hp Galih. Kebetulan aku belum sempat bertukar nomor dengan Arif. “Sudah kami di Pintu Utama, baru saja datang?? Kalian dimana??” balas Galih beberapa saat kemudian. “ Ok kami kesana, aku dan Esa baru saja sampai.”. Ramai juga ya pamerannya batin ku setelah memasukkan kunci motor ke dalam tas. Berapa ya perputaran uang disini??. Dari parkir saja sudah ratusan motor yang terlihat. Anggaplah 500 motor saat ini berada di sini dan uang parkir tadi 1.500 per motor jadi 500×1.500 =750000 ribu dan anggaplah tiap dua jam 100 motor keluar dan 100 motor masuk dan anggaplah jam pameran itu 10 jam jadi 10 jam dibagi 2 jam sama dengan 5. Itu berarti 500 tambahan motor masuk 750000 + 750000 = 1.500.000 itu pun hanya dari retribusi parkir motor. Belum dari mobil dan itu juga baru hitung –hitungan kasar ku. Karena sekilas kendaraannya terlihat banyak, dan aku dikagetkan ternyata lahan parkirnya tidak hanya disitu. Masih ada dua tempat lagi ternyata.

“Maaf lama.” Kataku setelah bertemu dengan Arif dan Galih. “ Yo rapopo.” ( Ya ga apa – apa ) sahut Galih. “ Mau nyari apa e kamu sa??” Tanya Arif. “ Cuma nyari flashdisk ae ko. Lha kowe rif??” Jawab Esa. “ Mbuh ki, arep nggolek speaker sing cilik tapi yo ndelo ndelo sik.” ( ga tau nih, mau nyari speaker yang kecil si tapi ya liat liat aja dulu ) jawab Arif. “ Yasudah ayo masuk dulu.” Sahut ku. Berputar – putar di dalam aku kembali takjub. “ Besar sekali dan ramai.” Batin ku. Berapa ya perputaran uang disini. Kalau dihitung –hitung, ah sudahlah nanti pusing lagi aku. Baru menghitung parkirannya tadi saja aku sudah pusing.

Yang dicari sudah di dapat kami masih berputar – putar di pameran siapa tahu menemukan sesuatu yang menarik. Berkeliling sejenak melihat – lihat barang di pameran, mata ini pun berkeliling memandang kiri dan kanan. Banyak sekali barang – barang yang asing dan sebenarnya menarik minatku untuk mengetahuinya. “Cukup lengkap ya barang – barangnya.” Batinku. Mulai dari laptop, notebook, CPU, LCD dan segala macam tetek bengeknya, hingga buku – buku yang berkaitan tentang computer, software dan internet ada disini.

Merasa perut mulai lapar dan menyadari belum menunaikan kewajiban aku pun mengajak mereka untuk keluar. “ Udah setengah 2 ayo e shalat dulu terus cari makan.” Seruku. “ Wah iya belum shalat.” Sahut Arif. “ Yowes ayo ndang metu nggolek mushola.” ( Yaudah ayo cepat keluar cari mushala) sahut Esa. Kamipun mencari mushala di sekililing tempat pameran ini, tidak sulit mencarinya karena petunjuk arah yang cukup jelas dan lokasi yang strategis. Tidak seperti tempat – tempat umum lainnya yang cukup sulit mencari mushala, khususnya pusat – pusat perbelanjaan. Agak kesal aku dengan tempat – tempat perbelanjaan dan tempat – tempat ramai lainnya. Mushalanya agak sulit dijangkau, dan jauh dari tempat utamanya. Ya pengalamanku selama ini kalau tidak berada di palinggggg belakang ya ada di lantai palinggggg bawah, kalau tidak ada di lantai paling bawah?? Sudah pasti berada di lantai palinggg atas.

Heran memang kenapa justru tempat ibadah agak sedikit terpinggirkan. Sudah susah dijangkau tempatnya juga pasti kurang memuaskan alias seadanya. Itulah mengapa sebabnya terkadang aku lebih baik shalat mencari mesjid terdekat jikalau sedang berada di luar rumah, lebih nyaman. Kewajiban utama sudah kini panggilan alam harus dipenuhi. Sudah waktunya makan siang, hmmmm harum wangi masakan yang berada di depan gedung pameran menggoda iman kami. Namun berhubung kami ini anak kos, kami berfikir untuk mencicipi makan disana melihat rata – rata yang makan disana adalah orang tua bersama anak – anaknya, maka kamipun lanjutkan untuk menerobos hadangan – hadangan penggoda iman kantong anak kos itu.

Dan akhirnya kami sukses menerjang hadangan iman itu. 3 motor melaju untuk mencari makanan dengan harga yang terjangkau. Seputaran kampus adalah tempat yang cocok untuk mencari makan murah namun nikmat. Rumah Makan Padang kuliner pertama yang aku cicipi, sebenarnya aku agak ragu mencoba disini karena terakhir kali makan di rumah makan padang aku masih bersama orang tua dan habisnya cukup banyak. Tapi mau bagaimana lagi kaki sudah melangkah masuk, bau harum ayam goreng seperti menarik lenganku untuk terus masuk dan segera mendatanginya.

Dan tanpa sadar kini aku sudah berdiri tegak, memegang piring dan sendok, berada di antrian di antara Esa Dan Galih. “ Eh disini ngambil sendiri ya??”, batinku berucap. Agak sedikit bingung juga aku karena aku pikir akan sama seperti yang dulu pernah makan bersama orang tua ku, yaitu disajikan semua lauknya baru nanti apa saja yang dimakan baru dihitung. Namun berbeda ternyata dengan disini mungkin karena kawasan anak kos yah jadi berbeda. Lamunanku bubar saat Esa mendorongku “Gek ndang di.” (Cepet di) ujarnya. “Oh ya maaf maaf.” Sahutku. Nasi sudah terisi cukup banyak, aku berani mengambil banyak karena melihat Galih dan Arif dengan porsi yang bisa dibilang sepadan dengan porsiku.

Kembali termenung kali ini tepat di hadapan para Lele, Bawal, Kepala Kakap, Rendang, Perkedel dan tentu saja sang Ayam Goreng yang tadi menarik perutku masuk melalui hidung. Bingung ingin makan apa hingga akhirnya lagi – lagi Esa yang menyadarkan ku. “ Hei kamu tuh kebanyakan bengongnya di, mau minum apa??Ditanya Arif tuh.” Esa menyadarkanku. “ Eh iyo sorry, bingung aku mau makan apa, aku es the saja.” Jawabku. Setelah menimang dan memilih dan memutuskan akhirnya sang ayam dan dua buah tahu goreng dengan kuah kikil bertemu dengan nasi di piringku. “ Kau harus bertanggung jawab wahai ayam goreng, kau yang menggodaku.” Batinku geli.

Kusilangkan sendok dan garpuku, kuseka bibirku dengan sehelai tisu berwarna biru, dan kuseruput es teh ku dengan perlahan dan penuh kenikmatan. “Alhamdulillah terimakasih nikmatmu Ya Allah.” Batin ku. Sambil memandang piringku yang telah kosong, senyuman licik mengembang di bibirku menandakan suatu nikmatnya balas dendam melihat tulang – belulang ayam yang sudah ku habiskan. “ Salah sendiri kau yang menarik tanganku kesini jadi kau yang kuhabisi.” Ucapku. Hahaha sekilas seperti adegan penjahat yang berhasil menghabisi musuh bebuyutannya.

Dan saatnya pembayaran, makan pertama kali sebagai anak rantau, habis berapa y kira – kira??. “ Pake apa mas??”, Tanya mas – mas kasir. “Pake kaos, celana jeans ma sandal mas.” Batinku setengah tertawa kecil. “ Pake ayam sama perkedel + es teh, berapa mas??” Tut tut tut tut, bunyi kalkulator yang dipegang mas kasir. “ 8 ribu mas.” Sahutnya. Wah lumayan ya batinku, aku pikir tadi di atas sepuluh ribu, karena ayam yang ku makan tadi cukup besar, lumayanlah. “ Kemana kita sekarang??” tanyaku kepada yang lain. “ Aku dan Arif pulang ya di cape aku.” Jawab Galih. “Oh kalau kita aku juga balik ke kos.” Sahut Esa. “ Ok aku juga balik kos.” Sahutku.Pengalaman setengah hari pertama cukup menyenangkan. Sekarang ke kos istirahat sebentar dan merapikan barang – barang batinku.

Namun ditengah perjalanan sepertinya aku mengingat sesuatu.  Oh iya aku belum membeli peralatan – peralatan mandi dan pengharum ruangan. “ Sekalian beli cemilan lah siapa tahu nanti aku kelaparan di tengah malam.” Batinku seraya memutar arah menuju toko terdekat. Pukul 15.00 sayup – sayup terdengar adzan berkumandang. “ Wah salat dulu lah sekalian mencoba mesjid kampus.” Setengah jam kemudian baru aku mendapatkan barang – barang yang aku cari, namun sepertinya lebih banyak ke makanannya. Duh beginilah insting seorang yang kelaparan. Sesampai dikos melihat isi kamar yang masih rapi tertata. “ Bertahan berapa lama y kondisi seperti ini??” batinku. Tanpa sadar mataku terpejam hingga adzan Maghrib membangunkanku, mungkin cukup lelah juga fisik ini.

Dengan mata yang masih terkantuk – kantuk aku beranjak bangkit dari peraduan menuju kamar mandi. Dengan mata sayu kubuka pintu kamar mandi yang kebetulan tidak sedang dipakai. Kututup pintunya dan untuk sesaat terdiam untuk membiarkan sadar sepenuhnya dari tidur. Baru saja ingin melepas pakaian aku tersadar, “ Hayah gayung, sabun dan gerombolannya masih dikamar.” Batinku. Terpaksa ku kembali mengambil gerombolan penghuni kamar mandi itu.

Selesai mandi selesai shalat, “Sekarang apa??” ucapku sambil menirukan suara Patrick karib dari Spon kuning penghuni nanas dasar laut. Laptop lah yang kemudian menjadi sasaranku, seharian ini aku tidak menyentuhnya, tentu saja bersama modem mungil ini. Mengecek sesaat isi dari jarring –jaring sosial ku. Banyak kawan – kawan lama yang sedang aktif atau bahasanya Bang Igor Saykoji Online. Beda orang beda kata – katanya, karena Bulik ku menyebut kan kata Online dengan bahasanya sendiri yaitu “Onglen” haha. Tapi ternyata perut kembali mengajak ku untuk memasukkan bahan pangan kembali. Terpaksalah aku keluar sebentar mencari santap malam di sekitaran kos.

Dan untuk pertama kalinya aku mencoba apa yang namanya “Ngangkring”. “Ngangkring” atau makan di Angkringan merupakan yang kulakukan saat ini adalah yang pertama kalinya aku coba. Angkringan itu seperti warung makan berjalan. Dengan gerobak yang cukup besar dan beberapa kursi kecil panjang mengitari gerobak tersebut. Cahaya dari lampu minyak atau “teplok” cukup menyinari ku, Angkringan terkenal dengan apa yang namanya Nasi Kucing atau Sego Kucing. Dinamakan demikian ya   karena porsinya yang sedikit yang dibungkus daun pisang. “ Wah bisa – bisa habis 3 porsi nih aku.”, batinku. Lauknya bebas pilih dan silahkan ambil sendiri, ini sebenarnya membuat aku takut, takut ga terkontrol nanti habis malah uangku.

Benar saja tiga bungkus nasi kucing ditambah 4 buah gorengan dan segelas es teh habis malam itu. Beruntung makan di Angkringan, karena harganya sangat merakyat tentu saja. Sekian banyak yang kugiling tadi total pengeluaran habis 7500 hampir sama dengan makan ayam tadi siang. Perut kenyang sekarang kembali ke kos penuh dengan senyuman kepuasaan. Kepuasaan dapat makan murah tentu saja. Dan esok mulai lah aktifitas sebagai Mahasiswa kutempuh.

Bersambung…..

Bab Kelima : Pertama