Beranjak Dewasa Bab Kesepuluh

Sebelumnya

Mengantarkan Galih ke stasiun rupanya membawa kebahagiaan tersendiri untuk Ardi. Sepertinya ada kenangan dan memori lama Ardi yang terbuka. Yak kereta apilah yang menjadi memori kebahagiaan tersebut..

Bab X

Antara Ratri Dan Kereta Api

“Assalammualaikum.” Ucapku. “Walaikumsalam, masuk di.” Sahut Mas Iwan dari dalam. Sekitar pukul 17.30 akhirnya aku sampai dirumah Om Leo. Kurang lebih perjalanan memakan waktu sekitar satu setengah jam. “ Gimana keadaan Om Leo mas?” tanyaku sembari merebahkan diri ke sofa ruang tamu. “ Masih lemah di sekarang Bulik yang jaga disana.” Sahut Mas Iwan sambil menyodorkan segelas air dingin. “ Makasih mas.” Sahutku menerima sodoran gelas dari tangan Mas Iwan.

“ Gimana kuliahmu di? Betah ga kuliah di Jogja?” Tanya Mas Iwan kepadaku. “ Alhamdulillah lancar mas ya kan juga baru beberapa minggu, Insya Allah betah. Hehehe.” Sahutku sambil meletakkan gelas ke atas meja. “ Lebih enak dimana suasana Jakarta atau Jogja?” tanyanya lagi. “ Wah dari segi apa dulu mas? Kalo secara umum ya memang jauh lebih tenang di Jogja tapi ya Jakarta juga tenang mas karena g jauh dari orang tua.” Sahutku. “Yasudah kamu istirahat saja dulu mas mau belikan makanan untuk kita makan malam. Kamu mau makan apa di?” Tanya Mas Iwan. “ Apa saja mas, ardi ikut Mas Iwan.” Seruku

Kurebahkan badan kecil ini diatas kasur busa kecil yang tergelar di ruang tamu. Memandang langit – langit rumah dan kemudian menatap salah satu lukisan yang tergantung di sisi kanan ruang tamu. Sebuah lukisan yang sepertinya beraliran abstrak yang mungkin untuk sebagian orang tidak bermakna apa – apa. Namun bagi para pecinta lukisan pasti ada salah satu gambaran tersendiri tentang makna dari lukisa tersebut. Kutatap lekat – lekat lukisan tersesbut mencoba menangkap makna yang disampaikan oleh sang pelukis dalam lukisannya. Namun sepertinya aku tidak bisa mengerti akan makna dari lukisan tersebut.

Kubalik posisi rebahanku dengan sedikit menggeliat dan kutemukan tumpukan majalah dan Koran. “Mungkin ada sesuatu yang menarik.” Batinku seraya bangkit dari kasur. Tumpukan majalah – majalah khas dari Ibu rumah tangga, Koran – Koran dan beberapa majalah yang berkaitan tentang wirausaha, maklumlah Om Leo juga merupakan salah satu wirausahawan sukses. Kutemukan sesuatu yang menarik dari tumpukan tersebut. Satu buah album foto kecil yang tak sengaja terjatuh dan terbuka. Album foto yang berisikan foto – foto yang banyak berkaitan dengan kereta api.

“ Wah ko hari ini kenapa penuh dengan kereta api y pandanganku?” Batinku. Kulihat beberapa foto yang sangat bagus. Sudut pengambilan foto, komposisi warnanya sangat indah. Dan kulihat beberapa foto Mas Iwan dengan lokomotif  dan kereta api. “ Wah ternyata Mas Iwan pencinta kereta api juga.” Batinku. Cukup lama aku terpaku dengan kumpulan foto – foto kereta api yang dimiliki Mas Iwan ini hingga sebuah sms masuk, dari Ratri rupanya “ Assalamualikum mas, tadi kuliahnya gimana?? Ada pengumuman apa saja??”, isi sms itu malah mengingatkanku yang belum menunaikan shalat Maghrib karena melihat waktu yang ditunjukkan oleh hape ku ini.

Bergegas aku menunaikan kewajibanku yang hampir terbengkalai. Selesai shalat bertepatan dengan datangnya Mas Iwan. “ Nih di mas belikan nasi padang, sama lauk untuk sahur nanti.” Ujar Mas Iwan. “ Iya mas makasih jadi ngerepotin, hehe.” Jawabku. “ Ah sama saudara sendiri ga apa apa lah, ayo dimakan.” Sahut Mas Iwan. “ Nanti saja mas sebentar lagi kan mau tarawih nanti saja pulang tarawih.” Seruku.“ Wah iya ya mas hampir lupa.” Sahut Mas Iwan lagi. Tepat pukul 7 malam akhirnya kami berdua pun menuju masjid terdekat untuk melakukan tarawih perdana di ramadhan ini. Ramadhan pertamaku jauh dari keluargaku tercinta. Suasana tarawih disini berbeda dengan suasana tarawih yang kurasakan pada ramadhan – ramadhan sebelumnya. Tidak ada suara bising dari ledakan – ledakan petasan dari anak – anak kecil yang biasa mengganggu tidak kurasakan disini.

Sekitar satu jam lebih akhirnya kami pulang, ternyata disini hanya 11 rakaat berbeda dengan rumahku Jakarta yang menggunakan 23 rakaat. “ Ayo di makan.” Seru Mas Iwan. “ Ok mas.” Sahutku sambil menghampiri meja makan. “ Mas suka kereta ya??” tanyaku membuka percakapan di meja makan. “ Wah ko tau di?darimana??” jawabnya sambil membuka bungkusan nasi padang. “ Iya tadi lihat album foto di meja ko banyak foto keretanya.” Sahutku lagi. “ Iya begitulah, entah mengapa Mas tertarik dengan kereta api sejak kuliah kemarin, makan dulu saja nanti kita lanjutkan ngobrol keretanya plus Mas kasih liat album foto lainnya.” Sahut Mas Iwan. Kami pun akhirnya lahap menyantap nasi padang ini ditemani acara tivi yang menampilkan music secara live.

Lima belas menit kemudian kami berdua pun selesai. Dan Mas Iwan pun menepati janjinya untuk menunjukkan album foto miliknya. Ia pun dengan senang hati menjelaskan pula seluk – beluk tentang perkeretaapian di Indonesia yang membuatku tertegun kagum melihat indahnya foto – foto yang ia miliki. Pengalamanku hari ini sepertinya membangkitkan kembali memori lama akan kecintaanku pada kereta api. Tanpa sadar kami bercengkrama waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Mas Iwan lebih dulu masuk ke kamarnya untuk tidur karena memang sudah sangat mengantuk. Dan aku pun menyudahi kegiatanku ini dan mulai merebahkan diri di kasur kecil yang ada di ruang tamu berusaha memejamkan mata. “ Eh sepertinya tadi ada sms yang belum kubalas.” Batinku. Akhirnya kuraih 2100ku untuk melihat siapa yang tadi belum sempat aku balas smsnya. “ Walah Ratri tho yang belum kubalas.” Batinku. “Rupanya kereta api sanggup mengalihkan perhatianku padanya.” Batinku seraya tersenyum. “ Walaikumsalam maaf rat baru balas, kuliah seperti biasa ko..Pengumuman libur saja senin depan kita sudah kembali kuliah.” Isi pesan tersebut kukirimkan padanya. “Wah wah kereta api dengan sukses membuatku melupakan Ratri yang sejak beberapa hari ini memenuhi pikiranku.” Batinku tertawa.

Bersambungg….

Ternyata memang kereta api..hmmm bagaimana dengan ratri? dan apa saja yang akan dilakukan Ardi selama libur awal puasa??

Tunggu bab selanjutnya ya….

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s