Kereta Rel Listrik

Seorang kawan railfans mengirimkan pesan singkat ke hape merah saya yang memberikan info kalo berita tentang penertiban penumpang Kereta Rel Listrik ( untuk selanjutnya disingkat KRL ) masuk jadi Hot Thread di salah satu forum terbesar di Indonesia.

KRL (Picture By Master Rendra )

Belakangan ini memang PT KAI Daops I khususnya mungkin bersama PT KCJ ( Kereta Api Commuter Jabodetabek )  selaku pengelola kereta komuter di Jabodetabek sedang berupaya menertibkan para penumpang – penumpang yang naik di atas KRL atau yang acap kali disebut sebagai Atapers. Melihat banyaknya korban yang tewas akibat terjatuh dari atap KRL maupun tersengat aliran listrik acap kali terdengar di  media – media elektronik. Dan untuk menertibkannya mulai bulan ini PT. KAI mulai menindak para Atapers dengan cara memberikan semprotan air berwarna di beberapa titik untuk nantinya sebagai identifikasi bahwa penumpang tersebut adalah Atapers dan akan ditindaklanjuti di stasiun terdekat.

Atapers

Cara lain yang akan dilakukan akan memasang alat semacam pintu koboi ( pintu yang biasa terlihat pada Bar di film – film koboi ) dari karet dan pipa. Pintu tersebut juga rencananya akan dipasang di beberapa titik di lintasan. Nah yang ini menurut saya agak bahaya, karena bisa memungkinkan penumpng yang naik terjatuh.

Sebenarnya miris juga melihat berita ini. Kenapa? Akan coba saya ulas dari dua sisi.

  • Dari Sisi Pengelola

Dari sisi PT KAI langkah ini diambil sejatinya untuk meminimalisir korban yang mungkin akan timbul akibat terjatuh dari atap atau tersengat aliran listrik. Suatu langkah antisipatif sebenarnya dan suatu tindakan pencegahan.

  • Dari Sisi Penumpang

Banyak mungkin yang beranggapan bahwa para Atapers adalah para penumpang gelap. Tapi sejatinya tidak, mereka tetap membeli tiket layaknya para penumpang lainnya. Mungkin alasan mereka naik ke atap adalah karena di dalam kereta sudah penuh sesak. Dan mereka terdesak oleh waktu sehingga tidak mungkin untuk menunggu keberangkatan kereta selanjutnya. Daripada harus berdesak2an di atap mungkin lebih baik bebas leluasa di atap dengan segala resiko yang sejatinya telah mereka ketahui.

Penuhnya aja kaya gini

Nah melihat dua sisi ini siapa yang salah sebenarnya??

Di satu sisi pengelola melakukan langkah itu untuk menjaga nyawa penumpang. Di sisi lain penumpang melakukan hal tersebut karena memang tidak mungkin untuk masuk ke dalam kereta dengan berbagai hal yang telah disebutkan sebelumnya. Lalu bagaimana Solusinya??

Solusinya menurut saya sebagai orang awam yang menyenangi kereta api ada baiknya KAI menambah jumlah armada KRL mereka. Membereskan masalah persinyalan yang sering terganggu. Kalau armadanya mencukupi pastilah tidak ada lagi istilah Atapers. Ya untuk kasus ini jelas yang dibutuhkan adalah penambahan armada. Kereta Api sebagai transportasi massal seharusnya mendapat suatu perhatian khusus dari pemerintah.

Ayo lah pemerintah tolong lihat realita ini. KAI selaku pengelola kereta api jelas membutuhkan bantuan subsidi dari pemerintah, karena jelas KAI ada dibawah naungan pemerintah meski secara tidak langsung. Dan saya harap KAI kembali bangkit dan jaya. Semoga Pemerintah memperhatikan Kereta Api dengan lebih baik lagi…

Salam s35..

2 Comments

  1. salam kenal sebagai sesama pengguna KRL.
    jika ada waktu silakan mampir di ;
    http://maskomuter.wordpress.com

    • sebenarnya saya malah blm pernah naek KRL..maklum domisili saat ini di Jogja..hanya sekedar mengagumi kereta api…😀


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s