Beranjak Dewasa Bab Kesembilan

Berita dirawatnya Om Leo serta tingkah laku dari Andra dan Ratri membuat Ardi agak sedikit gundah dan bingung. Namu beruntung dia akan sedikit menemukan hal yang bisa melupakan itu semua pada bab ini dan berikutnya.

Cerita sebelumnya : disini

Bab IX

Masa Lalu Yang Kembali

Kulipat sajadahku seusai menunaikan shalat subuh dan kulihat catatan di kalender. Dua hari menjelang Ramadhan dan itu berarti besok malam sudah akan menunaikan shalat Tarawih. “ Wah ramadhan pertamaku jauh dari orang tua, bagaimana y rasanya?” Batinku. Kuliah hari ini mulai dari Pukul 07.00 hingga pukul 11.00 sehingga memaksaku harus sarapan. Dan mengingat kemungkinan tidak bisa membeli minum maka kuputuskan untuk membawa bekal air dari rumah.

Ya rencanaku hari ini sudah tersusun rapi, seusai kuliah pukul 11.00 main ke kos Galih sekalian mengantarkannya ke Stasiun berhubung dia mau mudik sementara kerumah Budenya di Semarang. Setelah itu baru aku ketempat Om dan Bulik menepati janjiku kepada Mas Iwan semalam. “ Lih jadi nanti ke Semarang??” Tanyaku kepada Galih sesampaiku di kelas. “ Jadi di, anterin ya.” Sahutnya. Kubalas dengan acungan jempol sembari membenahi letak kursi yang akan kududuki. Dosen ekonomi mikro datang dan akhirnya tugas yang pada awalnya kutakutkan tidak bisa kukerjakan karena merasa “terjajah” akhirnya selesai, terjilid rapi.

Entah mengapa mendadak pikiranku kembali melayang membayangkan Ratri dan Andra. Ya mereka berdua benar – benar tidak masuk sekarang. Ada hubungan apakah mereka berdua itu sebenarnya? Pikiranku kembali melayang. Sempat terbayang kalau – kalau ternyata mereka itu sebenarnya sudah dijodohkan. Entah dapat ilham darimana sehingga pikiran itu masuk ke dalam otak ku. Padahal secara logis saja mereka baru bertemu disini dan asal mereka pun berbeda kota. Ratri dari Solo dan Andra dari Magelang.

“Hussh..Hussh mikir apa tho aku ini.” Batinku sambil berusaha mengusir pikiran aneh itu. Mungkin karena ini efek tinta pulpen yang macet dan tidak mencatat membuatku menjadi berpikiran macam – macam. Kukembalikan semua fokusku kepada papan tulis dan sosok dosen di depan kelas. Kubawa kembali pikiran yang sempat terbang melayang dan kutarik masuk kedalam kepalaku. Dan sisa kuliah ekonomi ini berhasil kulalui dengan serius berkat pinjaman pulpen dari Arif yang ada di sampingku.

Pikiran buruk itu menghilang di kuliah kedua. Adu argumen ini membuatku tertarik untuk turut serta mengemukakan pendapat dan hal – hal yang kuketahui tentang manajamen. Mungkin memang materinya yang kebetulan bisa kukuasai berdasar pengalaman melihat pekerjaan dan cerita orang tuaku. Dan kuliah hari ini pun kututup dengan sedikit sumringah. Entah mengapa sepertinya feeling baik kurasakan, seperti aka nada hal yang baik menantiku hari ini.

Usai kuliah setelah kembali wisata kuliner bersama teman – teman dan shalat di mesjid kampus aku kekos Galih. Kurebahkan diriku di kasur Busa milik Galih, sedangkan Galih sendiri langsung sibuk packing untuk keperluan di Semarang selama beberapa hari. Memang kebetulan liburan awal puasa yang sebenarnya Cuma tiga hari menjadi panjang karena tersambung dengan weekend. “ Lha acara apa e qm kesana lih??” Tanyaku sembari menyimak berita kriminal di televisi. “ Engga Cuma main aja, sudah jauh – jauh sampai pulau Jawa sekalian mampir ke Semarang, ketemu saudara.” Sahutnya.

“ Wah bener juga ya lih, sudah jauh – jauh dari pulau seberang sekalian saja ketemu saudara – saudara di pulau jawa.” Sahutku. “ Sebenarnya sih ini berdasarkan instruksi dari ayah di Palembang di, ya sekalian penghematan uang makanlah, hahaha…” sahutnya disahuti gelak tawa kami berdua. Pukul 15.00 kami berdua pun bergegas meluncur ke stasiun Lempuyangan yang memang lebih dekat dari kos Galih.

Memasuki suasana stasiun yang cukup ramai membuatku merinding, entah ada atmosfir tersendiri yang kurasakan. Atmosfir kenangan yang menyeruak memenuhi pikiranku. Ya saat dulu masih rutin untuk mudik Jakarta – jogja kereta api adalah sarana transportasi utama yang mengantarkanku sekeluarga ke Jogjakarta. Suara khas dari tanda pemberitahuan dari petugas jika ada Kereta yang ingin masuk atau diberangkatkan dari stasiun membuatku tersenyum sendiri.Lengkingan suara peluit dari petugas stasiun, suara keras dari lokomotif membuatku tersenyum dan sumringah. Seperti seorang anak kecil yang baru saja menemukan mainan lamanya yang hilang. Mungkin ini yang kurasakan saat ini.

“ Kenapa kamu di ko senyam – senyum sendiri??” Tanya Galih. “ Ga apa – apa lih Cuma rasanya senang aja bisa ada di stasiun g tau kenapa.” Sahutku. “ Aneh kamu di, meski baru pertama kali liat kereta api penumpang secara langsung aku g seaneh kamu di.” Sahutnya lagi. Galih mengatakan demikian karena memang setauku di Palembang itu lebih dominan Kereta api untuk batu baranya.

“ Ya karena aku udah lama g ngerasain ini lih, Dulu waktu masih sering mudik ke jogja sering nunggu lama di stasiun dengan suara – suara seperti ini, dan sepertinya aku merindukan momen – momen seperti itu.” Jawabku. Dan tak lama berselang kereta yang dinaiki Galih menuju Semarang tiba. Galih pun bersiap – siap, cukup ramai memang yang akan menaikinya tapi tidak terlalu padat.

Kereta yang Galih berjalan perlahan – lahan meninggalkan jalur 1 stasiun lempuyangan. Sesaat aku terdiam, entah mengapa rasanya tidak ingin meninggalkan stasiun ini cepat – cepat. Maka dari itu aku putuskan untuk menunaikan shalat azhar dahulu di mesjid sebelah barat stasiun, karena memang tadi belum menunaikan shalat azhar karena rencananya ingin shalat dirumah Om Leo saja. Usai menunaikan shalat rupanya stasiun malah semakin ramai dan terlihat sudah ada kereta yang standby untuk berangkat meski belum tersambung dengan lokomotif.

Sekilas terlihat papan nama kereta tersebut. “Progo  jurusan Lempuyangan – Pasar Senen, “ Wah kereta ke Jakarta donk ini, kapan – kapan naik ah.” Batinku. Kulihat jam yang ada di stasiun, sudah pukul 16.00 rupanya. “ Wah malah keasyikan aku disini, bisa kemalaman nanti sampai dirumah Om Leo.” Batinku. Bergegas aku menuju ke parkiran untuk mengambil motor. Perlahan motorku melaju meninggalkan stasiun berbarengan dengan satu kereta berwarna kuning cerah yang sama – sama melaju ke arah barat.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Om Leo tak henti – hentinya aku tersenyum. Entahlah kurasakan ada kebahagiaan tersendiri saat berada di stasiun tadi. “ Sepertinya main di stasiun asik juga ya.” Ujarku. Kebahagiaan tersebut menemani perjalananku bersama Sang Phantom hingga sampai di tempat tujuan yaitu rumah Om Leo.

Bersambung….

Ternyata memoir Ardi dengan kereta api membawa kebahagiaan tersendiri untuknya…

Apakah yang akan ditemukan oleh Ardi pada Bab selanjutnya?? Bagaimanakah kehidupan ramadhan pertamanya di perantauan??

Tunggu lanjutannya ya….😀

Lanjutannya

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s