Terlalu Cepat Dewasa

Nulis lagi sebentar untuk melihat fenomena fenomena tingkah laku banyak anak – anak muda generasi saya saat ini. Entah mengapa jujur saja saya sudah sering mendengar, melihat hal ini dan jujur saja saya merasa amat sangat risih.

Fenomena aneh yang malah seakan menjadi suatu trendsetter atau apalah namanya hingga menjamur sepertinya.

Untuk yang pertama saya bahas adalah masalah hubungan / relationship antar dua makhluk yang lazim disebut dengan istilah pacaran ( yah apalagi sih yang sering menjadi bahasan anak muda selain hal ini )

Yang membuat saya risih bukan hubungannya itu kan hak mereka, Yang membuat saya risih adalah ada beberapa insan muda – mudi yang mengekspresikannya secara salah. Salah satunya adalah dalam bentuk panggilan. Panggilan yang mungkin lazim kita dengar seperti ” Say, Ay, Yank, Bebh ( khusus yang ini mesti ada tambahan kata hemat :P” mungkin itu terdengar biasa yah standar lah Nah yang g lazim di insan muda – mudi saat ini ialah berlebihan dalam memanggil partnernya itu dengan panggilan ” Pih, Mih, Ayah, Bunda”

Oh my goat…something wrong i think with that. Why?? Because i think that’s not suitable…

ah g usah inggris inggris dulu nulisnya deh jiz…kaya bener aja lu nulisnya…hahaha…

yah saya pikir itu agak g pas dengan situasi dan kondisi mereka sekarang. Saya mulai mendengar panggilan panggilan risih ini semenjak SMA kelas 1 hingga saat ini menginjak semester 4..Sudah berapa tahun kah itu?? ( 1 + 4 = 5)  5 tahun kurang lebih😛

Nah lho baru SMA we wes ngono njug piye jal??

setelah saya membaca satu buku yang berjudul

Huh, BRENGSEKnya AKU !

*Menatap Cermin Betapa Brengseknya Aku, Kamu, dan Dia*

karangan mas Edi Mulyono terbitan Diva Press

yang mungkin bisa membantu menjelaskan apa yang sebenarnya para muda – mudi itu rasakan dan wajib renungkan. Satu hal yang saya baca dan sejatinya bisa cukup menyentil para muda – mudi kita yaitu benarkah yang kalian rasakan itu adalah Cinta??

Benarkah yang kalian rasakan itu sayang?? Bukan bisikan setan semata *nasfu* (tau kan maksudnya)

Coba anda renungkan kembali teman – teman pembaca karena sebagian dari teman – teman yang pernah saya ketahui menggunakan panggilan yang aneh itu tadi berakhir tragis. Ya tragis dalam artian sudah benar – benar terjerumus ke lembah hitam yang kemungkinan besar bisa merusak  impian mereka.

Panggilan yang menjerumus bak pasangan sah itu sudah bukan menjadi sekedar panggilan lagi tapi menjadi sesuatu awal mula untuk hal – hal yang bisa mengarah jauh lebih ke dalam lagi. Yah mungkin ini cuma curahan hati seorang jombloers saja. Tapi ini g akan saya tulis kalo g ada bukti – buktinya tadi…

Hal yang paling nyata y yang menimpa kawan lama saya yang kini sudah entah terpaksa dipaksa atau dia mungkin memang memilih jalan ini untuk menjadi ayah di umur yang masih kelapa 2 aja baru.

Sekarang kembali ke kalian saja…

Satu kalimat penutup dari buku yang tercantum

“Karena dia bukanlah sosok yang teragunkan sebagai pasangan sejati kita kelak, tentu akan jauh lebih baik bila “segalanya” baru diberikan pada orang – orang yang benar – benar terikat nyata sebagai pasangan kita”

Nb : Buat mas Edi penulis buku ini..Terimakasih saya banyak menyadari betapa brengseknya saya..

Salam Munyuk..😀

 

2 Comments

  1. ko brengsek si mas ? brengsek kenapa ? emang pernah panggil pacar nya dengan sebutan beb ? ooh hemaaaaat beb hahaha

  2. Wah gan ane setuju,ni ane tambahin bukti nyatanya pas ane dpt job desain kartu kasih sayang.
    http://menjadiery.blogspot.com/2011/04/job-desain-pertama.html
    :Prihatin


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s