Beranjak Dewasa Bab Kedelapan

Cerita ini fiktif semata…kesamaan nama dan tokoh merupakan ketidaksengajaan semata

😀

Bab Sebelumnya disini

Bab VIII

Another Problem

“Flashdisk sudah, binder sudah, buku..sudah juga. Siap berangkat.” Kataku pada diriku sendiri. Kulangkahkan kaki menuju garasi untuk mengeluarkan sang Phantom. “ Eh kunciku?? Halah masih di kamar.” Batinku setelah tidak menemukan kunci motorku disaku jaket dan celana sehingga memaksaku untuk kembali kekamar mengambil kunci yang tertinggal. Barulah tancap gas kekampus.

“Ardiiii….bukuku kamu bawa ga??” seru Eka setengah memanggil. “ Wah iya ka aku….” “ Ah tuh kan lupa.” Potong Eka sebelum aku selesai berbicara. “ Heh siapa bilang lupa, kamu aja yang motong kata2ku. Lha wong rung rampung le ngomong kok yowis dipotong. Ki bukumu.” (la belum selesai ngomong ko udh dipotong.) seruku sambil menyerahkan bukunya. “ Yo maaf maaf tak pikir kamu lupa.” Sahutnya seraya meringis.

“ Kemarin ngopo ae karo Ratri karo Andra??” tanyaku mencoba menilisik. “ Yo ra ngopo2 gur mubeng thok.” ( ga ngpa2in Cuma muter aja.) sahut Eka sambil tetap berjalan disampingku sambil memasukkan buku yang kupinjam. “ Oh iya tugas ekonominya gimana??” Tanya Eka lagi. “ Nih ada disini.” Seruku mantap sambil mengacungkan flash abu – abu milikku. “ Kan nanti Septhi yang mau ngeprint dan jilidnya.” Kataku lagi. “ Sip kalau begitu.” Sahutnya lagi.

Sampai di kelas suasana masih ramai dengan obrolan anak – anak saja karena dosennya belum datang. Namun kembali aku melihat Andra dan Ratri sedang berbincang berduaan. Sudah cukup akrab juga sepertinya. Aku melewati mereka begitu saja tanpa menegur karena memang sedang tidak ingin dan kebetulan mereka berdua tidak melihatku. Lamunanku kembali kepada kejadian minggu pagi kemarin. Dan aku pun mulai berasumsi yang tidak tidak. “ Jangan – jangan mereka berdua itu…” belum sempat menyelesaikan kalimat dalam hati dosen datang berbarengan dengan duduknya Arif disampingku.

“ Heh pagi – pagi wis ngelamun ae, ngopo e di??” serunya mengagetkanku. “Rapopo og rif.” Balasku seraya tersenyum kecil. Kulihat Andra tidak terlalu pindah jauh dari tempat duduk Ratri hanya bergeser dibelakang Ratri saja. Tingkah laku itu benar – benar menguatkan dugaanku dalam lamunan tadi, namun berusaha kulupakan sejenak karena mata kuliah kali ini tidak boleh kulewatkan dengan lamunan karena bisa mati aku kalau tak dapat apa – apa.

Kuliah 2 sks selesai, meski banyak hal yang belum jelas dari materi tadi, namun setidaknya aku mendapatkan beberapa lembar catatan yang nanti bisa kutanyakan kepada Arif atau Wawan. Pikiran ini benar – benar menggangguku. Terlebih lagi setelah kelas selesai aku melihat kembali Ratri dan Andra pergi berdua dengan sepeda motor. Aku tak tahu kemana karena Andra memang tidak pamit ke aku ataupun ke yang lain. Begitupula Ratri.

Kuliah kedua Ratri dan Andra tidak terlihat sama sekali hingga hampir 30 menit. “Kemana mereka berdua??” batinku. Kebetulan kali ini Eka duduk disampingku kucoba tanyakan kepada Eka. “ Ka ko Ratri ga keliatan?? Nang di e?? ( Kemana ??)” tanyaku. “ Aku g liat e di tadi soal’e bar kuliah aku langsung ngeterke Septhi ngeprint dan jilid. ( aku g liat di, soalnya tadi abis kuliah aku langsung nganter Septhi ngeprint dan jilid. ).” Jawab Eka.

Wah bahkan Eka saja yang setauku memang dekat dengan Ratri tidak dipamiti. Kucoba mengirim sms ke mereka berdua dengan pertanyaan yang sama. “ Ratri..kamu g kuliah??” isi pesanku kepada Ratri. Pertanyaan serupa pun kukirimkan kepada Andra. 10 menit kemudian usai aku memberikan pendapatku di kelas balasan dari Ratri pun masuk, “ Maaf mas aku ga kuliah Pengantar Akuntansi, sedang ada urusan mendadak.”

“Urusan mendadak?? Ko bersama Andra??”Batinku. Ingin sekali sebenarnya aku menanyakan langsung kepada Ratri namun sepertinya belum waktunya. Aku masih menanti jawaban dari Andra namun dia tidak kunjung membalas pesan singkatku hingga kuliah hari itu usai pukul 12 siang. “Rif ko tadi aku g liat Andra ya??, Nang di e bocah’e?? ( Kemana e anaknya??) “ tanyaku kepada sang ketua kelas. Mungkin saja dia dipamiti karena sebagai ketua kelas. “ Ra reti e di, mau gur ngomong ada urusan mendadak ( Ga tau e di, tadi cuma bilang ada urusan mendadak )” jawab Arif.

Ko jawaban mereka berdua serupa ya meski tidak kudengar secara langsung karena Ratri hanya menjawab lewat sms dan Andra hanya berpamitan kepada Arif. Ada apa dengan mereka berdua??. “ Di ayo shalat.” Seru Galih yang sudah berdiri bersama Wawan. “ Yoooo.” Sahutku sambil setengah berdiri mengambil tas disampingku.Pukul satu siang, panas hari itu di kota Jogja cukup menyengat saat ku kembali dari kampus. Kurebahkan diriku menikmati semilir angin kipas yang berhembus. Pikiranku kembali memikirkan Ratri dan Andra. Kucoba mengirim pesan singkat kepada Ratri. “ Gimana urusannya?? Sudah beres??”.sambil kucoba beristirahat sambil menanti jawaban dan akhirnya tertidur pulas.

Dua setengah jam aku tertidur tanpa namun jawaban dari Ratri belum kuterima. “ Daripada mikir yang g pasti kaya gini mending jalan keluar aja.” Batinku. Akupun berniat untuk belanja kebutuhan pangan untuk persiapan puasa yang hanya tinggal 3 hari lagi. “ Eh ada cewek.” Godaku saat melihat Mayang yang juga sedang berada di minimarket yang sama yang kebetulan memang dekat dengan kampus. “ Woo Ardi tho..tak kira siapa.” Sahutnya. “ Lha emang kamu ngira aku siapa??” sahutku lagi. “ Tak pikir kamu om – om jahat hahaha.” Ujarnya sambil tertawa. “ Wuu semfrull, sendirian?? Belanja apa e may??” tanyaku. “ He’em Cuma beli pasta gigi sama cemilan aja.” Jawabnya.

Adzan Maghrib berkumandang dan akhirnya aku menerima pesan dari Ratri. “ Maaf mas baru balas, tolong besok saya diizinkan ke Arif ya, saya tidak bisa masuk besok, sama Mas Andra juga tolong diizinkan besok ya.”. “Ko mereka bersama – sama lagi?? Apa hubungan mereka berdua??” batinku bergejolak. Belum sempat hilang kebingunganku akan hal itu hapeku berbunyi menandakan ada telepon masuk.Kulihat kontak yang menelpon, Mas Iwan yang rupanya menelpon, “ Ada apa ini ko tumben sekali?” tanyaku dalam hati.

“ Assalamualaikum mas, kenapa tumben menelfon?” tanyaku memulai percakapan. “Walaikumsalam di, maaf mas mengganggu mas Cuma mau memberi kabar om Leo dirawat di RSUD Wates terserang typhus baru saja masuk.” Jawab mas Iwan. “ Hah??ko bisa mas??Mas sekarang dimana??dirumah??” tanyaku lagi. “Iya kebetulan mas sedang dirumah.” Jawabnya.” Weekend ini kamu bisa nemenin bulik disini ga??” sambungnya lagi. “ Insya Allah bisa mas, kebetulan hari Rabu besok sudah libur awal puasa, besok sore Ardi kesana.” Jawabku. “ Ok terimakasih y di, Assalamualaikum.” Sahut mas Iwan. “ Walaikumsalam.” Sahutku mengakhiri pembicaraan malam itu.

Kukirimkan pesan yang kudapat barusan kepada kedua orang tuaku di Jakarta. Dengan perasaan yang tak menentu kurebahkan badanku ini. Pikiran yang berkecamuk membuatku bingung mesti berbuat apa saat ini. Hingga panggilan Adzan Isya menyadarkanku dari lamunanku.” Semoga ini berakhir bahagia dan baik – baik saja.” Batinku Kutinggalkan kasurku menuju ke masjid terdekat untuk menunaikan panggilanNya dan berusaha menenangkan diri disana.

Bersambung….

Dalam hidup memang terkadang banyak hal hal yang menghantui pikiran kita. Mulai dari masalah yang langsung berurusan dengan kita maupun yang tidak berurusan langsung.

Dalam bab berikutnya Ardi akan menemukan sesuatu yang lama hilang dari dirinya..

Apakah itu??

tunggu kelanjutannya ya…

😀

Lanjutannya

2 Comments

  1. wkwkwkwk…om-om jahat,RASAKAN!!!!!
    ratri?siapakah dia,adakah rasa itu?
    ah elah pake bersambung segala,kaya sinetron😀

  2. Akakak,om-om jahat,RASAKAN!!!!
    Rastikah??
    Yaelah pake bersambung,kaya indo^iar aja dah.haha..


Comments RSS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s