This my trip

Trip Dimulai

Dimulai dari Klaten

“Dari arah timur masuk KA Lodaya di jalur satu dengan susunan rangkaian, dibelakang lokomotif bisnis 4 lalu bisnis 3, bisnis 2 dan, 1 disusul kereta makan, dan Eksekutif 2 dan Eksekutif 1.” Suara dari pengeras suara menyadarkanku kalau kereta yang akan kutumpangi sebentar lagi akan tiba. Ya akhirnya malam ini rencana ku untuk mencoba rute baru terwujud

Kusiapakan sesaat hape 5300 ku untuk memfoto kedatangan KA Lodaya sekedar untuk dokumentasi. Dari kejauhan cahaya lampu lokomotif CC 203 38 yang mulai mendekat, kusiapkan bidikanku sembari menghitung dimana gerbong ku nanti tepat berhenti. Kereta pun melambat dan akhirnya berhenti, foto didapat meski tidak terlalu bagus karna cahaya lampu yang kurang.

Kereta bisnis 2 dengan nomor tempat duduk 9D yang tertera di tiketku. Dan kutemukan kursi tersebut, kuletakkan tas punggungku

Seat Number

diatas tempat duduk sebelum akhirnya duduk dikursi yang lumayan empuk ini. Ada kejadian bodoh disini, aku tidak melihat kalau jendela ini bukan system angkat tapi sudah ada tuasnya, “ Pantas ga bisa diangkat, untung keretanya sepi.” Batinku begitu mengetahui bahwa ada tuas untuk menaikkan jendela.

Keadaan kereta memang masih sangat sepi, masih sedikit penumpang yang naik, “ mungkin dari stasiun tugu baru ramai.” Batinku. Kursi sebelahku masih kosong tak terisi dan akupun terus berharap kursi tersebut kosong hingga aku bisa berbaring disana. Tepat jadwal pada jam 20.55 kereta pun melaju dari stasiun Klaten ke arah barat.

Kukirimkan sms kepada kakak sepupuku yang tadi juga bersama dengan Pakde dan Bude ku mengantarkan ku hingga stasiun. Dan juga kukirimkan sms kebeberapa teman untuk sedikit menghilangkan rasa bosan. Sekitar setengah jam kemudian kereta sudah mencapai Stasiun Tugu Jogjakarta, dan mulai ramai orang yang naik dari stasiun besar ini.

Dan dugaanku ternyata benar, kursi sebelahku terisi oleh seorang bapak – bapak yang sangat pendiam. “Wah ga enak ni gini ceritanya.” Batinku. Tentu saja tidak enak bagiku yang termasuk tipe orang yang pendiam dan sulit mengajak bicara. Perjalanan dilanjutkan setelah beberapa saat berhenti di stasiun Tugu.

Ku akui kemampuan Loko C3 ini sangat luar biasa. Kecepatan yang kurasakan sangat membuatku senang. Kunikmati perjalanan ini dengan sambil melahap roti yang tadi diberikan oleh bude ku sebagai bekal. Dan pada pukul setengah 11 malam aku akhirnya terlelap dalam alunan kereta yang bergoyang, hingga akhirnya aku tersadar pada pukul setengah 1 malam. Tersadar karena hawa gerah karena kereta yang sedang berhenti. Dan aku pun akhirnya memutuskan untuk keluar untuk mencoba melakukan aktivitas seperti yang biasa kulakukan yaitu menikmati suasana kereta dengan berdiri di bordes dengan pintu terbuka

Aku Pun Berdiri

Sekitar pukul 1 malam tubuh ini sudah berdiri tegak, berdiri menantang kencangnya hembusan angin dan menatap luasnya persawahan serta indahnya pemandangan. Setelah membaca beberapa forum yang mengatakan bahwa loko jenis C3 dan C4 merupakan loko yang tercepat kini aku pun merasakan kedahsyatannya. Memang benar kecepatannya luar biasa fantastis untukku. Kereta pun beberapa kali berhenti di stasiun untuk sekedar menaikkan penumpang ataupun member jalan kereta yang ada di depannya.

Ini dia nih yang lucu. Lagi asyik2nya menikmati semilir angin tengah malam tiba – tiba ada yang mencolek ku dari belakang. “ Maaf mas tadi naik dari mana??” ternyata salah satu kondektur KA bertanya padaku. “ Dari stasiun Klaten pak, kenapa??” jawabku. “ Ko aneh pertanyaannya kayanya tadi tiketku sudah dicek sama bapak ini.” Batinku. “Oh ga apa mas, tadi liat 2 penumpang yang naik tidak kemana arahnya??” tanyanya lagi. “ Wah engga pak.” Jawabku. Memang tadi ada dua orang penumpang yang baru naik dari stasiun sebelumnya seorang mba berdaster hijau dan Bapak berjaket kulit Cuma aku memang tidak lihat arah mereka masuk, entah ke gerbong di depan atau ke gerbong diblakang.

Setelah stasiun ini saya dianggap penumpang gelap

“Hahaha sial aku dianggap penumpang gelap.” Batinku tertawa. “Maaf pak saya sebagai salah satu pecinta KA ga akan bertindak yang merugikan KAI.” Jawabku lagi. Perjalananku kali ini juga kalau bukan karena ku suka dengan KA tidak akan kulakukan. Aku bisa saja langsung naik Senja Utama Solo seperti biasa namun memang aku ingin mencoba dahsyatnya KA Lodaya (dan berharap akan ditarik dua loko atau Double Traksi ) namun ternyata belum terwujud karena memang gerbong yang ditarik tidak banyak.

Perjalananpun dilanjut, dan aku beberapa kali bolak balik ke kursi dan ke bordes (sambungan kereta ) untuk berdiri di pintu dan menikmati suasananya. Sampai di beberapa stasiun dan sering kali berhenti untuk member kesempatan kereta lain. Sayang suasana malam membuatku gagal mendapatkan foto yang bagus. Satu momen yang bisa dibilang menyakitkan terjadi. Tepatnya antara stasiun Banjar dan Tasik.

Setelah sedikit berbincang dengan mas – mas yang mau turun di tasik aku menikmati suasana kembali dengan pintu gerbong yang terbuka dan berdiri bersender disamping pintu dekat kamar mandi. Dan insiden pun terjadi, tanganku yang kuletakkan dibelakang mendapat musibah. Tepatnya jari manis dari tangan kiri ku yang terjepit engsel dari pintu kamar mandi yang memang berayun – ayun mengikuti gerakan kereta. Jangan tanyakan bagaimana rasanya karena amat sangat membuatku menderita (hingga kalimat ini dibuat jariku masih sedikit bengkak )

Dengan meringis kesakitan kucoba menikmati suasana alam. Masih dengan mengutuk diri sendiri akupun akhirnya kembali ke kursi untuk istirahat sejenak. Dan saat sahur pun tiba tepat saat aku terbangun sekitar pukul 3 lewat 20 menit baru aku pesan makanan. Alih – alih ingin bertahan tidak tidur hingga sampai di bandung aku malah tertidur kembali setelah sahur dan terbangun saat hape ku bergetar karena ditelfon orang tuaku.

Sudah pukul 4 mendekati pukul 5. Shalat subuh di kereta dan menunggu stasiun akhir yaitu stasiun Bandung. Dan pukul 5 lewat 5 pun KA Lodaya yang kutumpangi pun akhirnya sampai di stasiun akhir,  Stasiun Bandung. “Huuppp” ku meloncat keluar dari kereta untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.

Kereta Kedua

Loket Stasiun Bandung

Kulangkahkan kakiku untuk mencari loket pembelian tiket. Ya perjalanan belum usai masih ada yang ingin kunaiki dan memang harus kunaiki untuk mencapai kota Jakarta. KA Argo Parahyangan kereta selanjutnya. KA Argo Parahyangan merupakan kereta baru, yaitu leburan KA Argo Gede (Eksekutif) dan KA Parahyangan (Bisnis). Dan dengan PD aku membeli tiket eksekutif (untuk pertama kali dan mungkin untuk terakhir kalinya).

Gerbong eksekutif satu dengan nomer kursi 12B itu yang tertera ditiketku. “ Keretanya sudah dijalur 5 mas.” Seru satpam yang memeriksa tiket masukku, akupun bergegas krna memang sudah hampir berangkat kereta tersebut. Menginjakkan kaki pertama kalinya di dalam gerbong eksekutif ( 19tahun karirku baru kali ini ku menginjakkan kaki di eksekutif). Kesan pertama adalah dingin dan akupun agak sedikit kedinginan.

Dan didalam gerbong inipun akhirnya aku menemukan jati diriku kalau aku adalah kelas bisnis mania bukan kelas exsa mania. Aku merasa terasing, bagaimana tidak aku dikelilingi orang – orang dengan pakaian ala pebisnis unggul. Kemeja rapi, Hape mentereng, Celana Kain (padahal biasa ngampus pake celana kain krna lebih nyaman) dan sepatu mengkilat, Sedangkan aku?? Menggunakan kaos bola dengan ditutup jaket celana jeans dan sandal, yak sandal yang spertinya tidak cocok berada di gerbong ini hahaha.

Kereta pun mulai melaju, memang beda gerbong exsa dengan bisnis. Suaranya lebih bersik di gerbong bisnis. Dan tentu saja ada Prami (pramugari) yang bening – bening hohoho. Tetep saja aku merasa tidak nyaman karena tampilan luarku yang bisa dibilang gap antes digerbong ini. Tapi sudahlah kunikmati perjalanan setengan jam awal dengan menikmati tayangan yang ada di tv yang tertempel di gerbong.

Dan setengah jam berikutnya aku pun sudah berada kembali di bordes dengan kamera siap merekam. Pemandangan indah pun kunikmati dan sedikit oleh2 rekaman yang siap aku upload nantinya. Ada mas2 CS ( Cleaning Service ) yang cukup ramah menawarkan aku duduk dikursi lipat yang tersedia namun aku menolak karena sudah puas duduk.

Kurang lebih 50 menit aku berdiri dan menikmati pemandangan aku pun kembali di kekursi untuk duduk dan menikmati kembali tayangan di tv hingga akhirnya aku tertidur. Sejam aku tertidur hingga akhirnya terbangun jam 8 pagi, masih sekitar 45 menit lagi aku tiba di stasiun akhir Gambir. Aku pun hanya duduk diam menonton tayangan televisi dan mengutak atik hape.

30 menit kemudian sampai di stasiun Jatinegara yang paling dekat dengan rumah. Namun aku agak ragu untuk turun disini karena factor angkutannya yang pasti macet maka dengan tekad bulat aku akan turun di Gambir saja (masa sudah naik exsa masih turun di Jatinegara ) batinku hahaha sedikit sombong sepertinya tak apalah sombong pada diri sendiri. Tak lama aku pun sampai di stasiun besar khusus KA Eksekutif ini. Entah kapan terakhir kali aku menginjakkan kaki di stasiun ini, sepertinya sudah hampir 10 tahun aku tidak kesini.

Gambir

Berlanjut ke Kendaraan Beroda Bulat

Petualangan belum berakhir. Aku memang sudah sampai di Ibukota Jakarta, kota Kelahiranku. Namun aku belum tiba dirumah. Kini saatnya menuju Makasar Village tempatku tinggal. Dengan mantap kulangkahkan kaki menuju shelter TransJakarta. Sampai disana aku bingung, ini mesti naik yang mana, biarpun aku terlahir dan besar selama 18 tahun disini namun sepertinya aku masih buta akan Ibukota ini. Dan akupun bertanya kepada mas mas penjaganya. “Mas yang kearah cililitan naik yang mana??” tanyaku dan penjelasanpun kudapat yaitu menuju Harmoni dahulu sbelum akhirnya dari sana langsung menuju cililitan.

Transjakarta pertama membawaku ke shelter Harmoni. Sampai shelter Harmoni pun untuk kesekian kalinya aku bingung dan akhirnya bertanya lagi untuk sampai di TransJakarta kedua yang akan membawaku semakin dekat kerumah. Dan Bis ini merupakan alat transportasiku yang kelima. Kurang lebih 45 menit perjalanan yang kutempuh dengan 30 menit berdiri untuk member kesempatan supaya Ibu ibu atau perempuan yang ada mendapatkan tempat duduk.

Sampai juga di Cililitan lebih tepatnya aku turun di Pusat Grosir Cililitan.Kaget karena melihat banyaknya orang yang mencoba masuk tiba – tiba, namun ku sadari ternyata ini baru saja Pusat Grosir ini buka. Berjalan menyebranig zebra cross untuk menuju satu lagi angkutan yang akan membawaku kerumah. Yak aku menunggu Angkutan Berwarna Merah dengan kode T – 17.

Angkutan yang mempunyai banyak cerita untukku karena semasa SMP dulu selalu menggunakan Jasanya. Mulai dari bergelantungan di pintu hingga 5 orang, diturunkan ditengah jalan karena ban meletus, dioper ke angkutan 17 lainnya hingga yang paling ekstrem adalah menjadi saksi masuknya  jarum pentul kedalam tenggorokanku karena ingin memberi tahu supir kalau aku ingin turun.

Satu hal yang kubenci dari angkot adalah berjalan perlahan dan tentu saja mangkal. Sudah panas masih saja menunggu penumpang. Nikmati sajalah sudah lama juga tidak naik angkutan ini. Hingga akhirnya sampai dirumah pada pukul 11 siang. Dan mungkin sebagai ganti berpanas2an tadi hujan pun turun dengan lebatnya pada siang hari setelah zuhur, mungkin ingin membuatku nyaman beristirahat dengan membuat suasana menjadi dingin.

Dua Tiket Lodaya dan Gopar

Dua Tiket Lodaya dan Gopar

1 Comment

  1. Mangstab!emang ni kalau perjalanan akan lbh baik kalau diabadikan.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s