Beranjak Dewasa Bab Keenam

Cerita ini fiktif semata…kesamaan nama dan tokoh merupakan ketidaksengajaan semataπŸ˜›

Cerita Sebelumnya : Disini

Bab VI

Ratri Ayuningtyas

Minggu kedua tugas mulai berdatangan, kelompok demi kelompok mulai terbentuk dan kebanyakan terbentuk sesuai dengan keinginan dan pilihan dosen secara acak. Disini lah aku mulai kaku. Kenapa?? Ya karena mau tidak mau harus bersosialisasi dengan semua anak – anak dikelas termasuk mahasiswinya. Namun ya pasti lama – lama aku terbiasa, biar bagaimanapun mereka teman sekelasku. Memang aku termasuk orang yang tidak mudah berkenalan dengan orang lain.

Kelompok – kelompok awal masih bisa kutangani karena aku masih bergantian berkelompok dengan Esa, Andra, Galih. Dan beberapa teman – teman wanita pun aku kenal, seperti Ara, Nike dan Tari. Ara dan Tari kebetulan sempat satu sekolah saat SMP karena memang dua – duanya asli anak Jogja. Ara Wardana nama lengkapnya, tinggi badannya sedagu ku, oh iya tinggi badanku sendiri sekitar 170, berjilbab dan berkacamata sama sepertiku. Sedangkan Tari nama lengkapnya adalah Lestari Putriantiwi, tingginya sama denganku. Rambutnya cukup panjang namun aku tidak tahu berapa detailnya panjang rambutnya itu. Nike Ardhiani hampir sama dengan Tari namun rambutnya tidak sepanjang Tari.

Dan ternyata dibalik semua tugas kelompok dadakan ini akan ada sesuatu yang mengejutkanku. Semuanya dimulai saat pembagian tugas yang sangat menggangguku, ya sangat mengganggu karena ditilik satu persatu nama anggota kelompoknya aku adalah cowo satu – satunya. β€œ Mampus aku cowo sendiri.” Batinku. Sementara itu Esa sekelompok dengan Galih, Andra dengan Arif dan Wawan. Haduh gundah gulana aku jadinya.

Semua makin membuatku gundah karena dari nama – nama tadi aku sama sekali belum tahu yang mana saja orangnya. Beruntungnya tugas kelompok ini tidak segera dikumpulkan. Ya tugas kelompok ekonomi ini dikumpulkan sebelum bulan Ramadhan tiba awal bulan depan. β€œ Hah kenapa dari 5 orang aku cowo sendiri sih??” keluhku dalam hati. Nama – namanya yang tadi pun samar – samar aku ingat hanya Eka Kusumawati dan Dhini Wardanti

β€œTok tok tok… Di” Suara pintu kos ku diketuk seseorang. β€œ Masuk aja lih.” Sahutku. β€œKenapa e kamu ko kusut?? Mikir apa??” Tanya Galih begitu masuk kos ku. β€œ Engga ko lih Cuma mikir tugas – tugas kelompok. Mana kelompok ekonomi ga ada yang ku kenal lagi.” Sahutku. β€œ Lha kelompokmu sopo ae tho??” ( Lha kelompokmu siapa aja tho?? ) Tanya Galih lagi. β€œ Lha kui lanang’e ki ngga ono, sing tak eling ki sing jeneng’e Eka karo Dhini liane lali.” β€œAlah nyante ae engko yo do sms kowe og.” ( Alah santai aja nanti juga pada sms kamu ko ), sida ra nggolek hem?? ( jadi nyari hem ga??).” tanyanya lagi. β€œ Yowes ayo motormu lebokne sik, nggo motorku ae.” Sahutku.

Sore itu pun akhirnya kuhabiskan dengan berputar –putar bersama Galih mencari kemeja. Yah daripada terus – terusan mikir kelompok yang baru saja kudapatkan pagi tadi, refreshing sejenak lah menikmati indahnya sore di Jogjakarta. β€œ Nang di meneh saiki??” Tanya Galih setelah hem didapat. β€œ Terserah lih manut aku, muter – muter yo rapopo og, timbangane nganggur nang kos.” ( terserah lih manut aku, muter – muter juga ga apa, daripada nganggur di kos ) jawabku.

Pengelanaan kami pun berakhir di Monumen Serangan Umum. Entah mengapa tiba – tiba aku sudah duduk di tempat duduk depan Monumen yang memang sepertinya diperuntukkan untuk duduk – duduk dan bersantai, kebetulan suasana memang cukup mendukung. Senja yang indah, angin bertiup semilir menambah kesejukan tersendiri, dan banyaknya pedagang kaki lima menambah semaraknya suasana dan cukup mengundang nafsu makan tentu saja. Mulai dari pedagang sate jinjing, bakwan malang, dan es doger berlomba – lomba mengais rejeki. Tidak ketinggalan ada juga pedagang kerajinan yang mangkal untuk menarik minat para wisatawan mancanegara untuk membeli.

Sang mentari sudah kembali ke peraduannya dan akan segera berganti dengan sang rembulan yang bersinar ditemani oleh kemerlapnya sang bintang. Termenung di kursi kayu teras kos, sebelum akhirnya tersadar kalau daritadi niatnya kan ingin keluar untuk cari makan. β€œ Haduh kenapa malah ngelamun disini??” batinku. Dan akhirnya kulangkahkan kaki ini, membiarkannya melangkah membawa raga ini menuju tempat yang ia inginkan. Dan kaki ini membawaku ke sebuah rumah makan lesehan sederhana dengan harum bau masakan yang cukup menggodaku.

Sepiring nasi serta lele goreng dan sepotong tempe tahu sudah siap kusantap. Dengan diawali lantunan doa suap demi suap masuk ke perut ini. Sejenak kulupakan masalah kelompok yang sedari pagi tadi sudah menggangguku. Nikmatnya anugerahΒ  Yang Kuasa ini membuat ku lupa akan masalah itu, nikmatnya masakan ini. Garingnya lele ini mengingatkanku akan rumah, dimana aku paling senang jika Ibuku memasak lele dengan tambahan sambal terasinya.

Kenyang sudah perut ini, saatnya kembali ke kos. β€œCklek” pintu kamar kos kubuka. Ku hampiri 2100 ku yang kebetulan sedang dicash. β€œ Dua Pesan Diterima.”, siapa ya??. Kubuka satu persatu sms yang masuk. Sms pertama dari Eka β€œ Di besok kita kumpul ya..buat diskusi tugas ekonominya biar cepet selesai.” β€œ Ya dimana??Jam berapa???”. Balasku. β€œ Di taman aja jam 9an ok??”. Balasnya lagi. β€œOk”. β€œ Sudah mau ramadhan lagi ya??Β  Puasa pertamaku tanpa orang tua seperti apa ya nanti?? Apa aku ga akan kesiangan untuk bangun santap sahur??” aku bergumam sambil memandangi dua ekor cicak yang sedang bersenda gurau di langit – langit kamar kos ku. Ku beranjak dari kasur kecilku ini untuk menunaikan kewajiban yang belum kutunaikan, setelah itu lalu beranjak untuk tidur.

Suara ayam jantan membangunkanku, pukul 5 pagi lewat beberapa menit. Aku pun bergegas menuju kamar mandi untuk segera menunaikan kewajibanku. Usai menunaikan kewajiban ku nyalakan laptop putihku untuk berselancar bersama mba maya melihat lihat apa berita yang sedang hangat dari hari kemarin. Sambil membuka jejaring sosialku dan melihat – lihat apa yang sedang terjadi pada teman – temanku. Sedikit terkaget melihatΒ  jejaring social milik Arin, β€œ Wah ga salah ni anak balikan lagi?? Minta traktiran nih.” Batinku. Kusambar 2100ku dan kukirimkan pesan kepada sahabat yang sudah ku anggap keluarga sendiri itu. β€œ Ada yang lagi lope lope nih??Traktir donk..hahaha” is isms yang ku kirimkan dan kulanjutkan aktivitasku melihat – lihat berita.

Tak terasa sudah pukul 8 pagi, kumatikan sang Laptop putih dan bergegas mandi. Rencana hari ini mungkin hanya kumpul untuk membahas tugas dengan Eka dan kawan – kawan. 15 menit kemudian akupun siap, β€œTut tut..tut tut.” 2100 berbunyi menandakan pesan masuk. Balasan dari Arin rupanya, β€œ Hahaha lope lope apaan bang?? Sapa emang??haha.” Sesaat ku tersenyum simpul melihat tingkahnya. β€œ Ngeles lagi ni bocah, sombonglah udah g pernah cerita..traktir lah pokoknya..pulsa 10rb cukup ko..haha.” balasku.

Kunyalakan mesin motorku untuk bergegas menuju kekampus, tepat pukul 9 aku sudah berkumpul dengan Eka dan kawan – kawan meski tadi agak bingung mencari mereka, maklumlah masih baru kenal dan belum hafal ciri masing – masing. Lengkap sudah 5 orang, Aku, Eka, Dhini, Mayang dan Septi. β€œ Huff beneran cowok sendiri ga enak banget rasanya.” Batinku. Pembagian tugas pun dibagi rata berhubung aku Cuma minoritas jadi ya manggut manggut. Ibarat kata kali ini aku seperti lagu yang berjudul Pria Dijajah Wanita.

Pembahasan tugas selesai dalam kisaran waktu 3 jam. 3 jam waktu total sebelum menuju makan siang. Bahas tugasnya sih cuma sejam, y tapi syukur ternyata anak – anaknya ga kaku dan Alhamdulillah aku cukup membaur dengan obrolan – obrolan saling berbagi cerita sebelum masuk ke sini. β€œ Di jadi fotocopy bukunya ga??” Tanya Eka. β€œ Ya jadilah kamu bawa apa engga bukunya??” aku balik bertanya. β€œ Engga..hehe..ke kos ku ya sekalian anter aku pulang.”  Jawabnya sembari tertawa kecil. β€œ Halah ngomong ae neg njaluk diterke bali, ndadak isin.” (ngomong aja kalo mau dianter pulang, pake malu – malu, balasku

Ya jadilah buku aku mengantar Eka ke kosnya sekaligus mengambil buku yang memang ingin ku fotokopi. Kurasakan getaran di kantong jaketku, sepertinya ada sms masuk. Sambil menunggu Eka turun dari kamarnya yang di lantai dua kubuka sms yang baru saja masuk. Arin rupanya lama sekali anak ini membalas smsku. β€œ Sorry bang tadi ada urusan ga bisa megang hape. Enak aja minta 10rb, ini aja sms ngandelin gratisan, hahaha.” β€œ Pelitlah kau itu ga aku doain langgeng loh kamu. Haha” balasku. β€œ Ah jahatlah kamu bang.” Balasnya lagi. Belum sempat kubalas Eka sudah turun dan memberikan bukunya padaku.

β€œ Senen sms yo biar aku ga lupa bawa bukumu.” Kataku sambil memutar balik motor. β€œ Siap bos..makasih yo dah dianter..hehe.” balasnya lagi. Kuacungkan jempolku sambil berlalu. Mampir ke tempat makan untuk mengisi perut. Sepiring nasi dengan ayam goreng dan sayuran sudah siap disantap siang ini sambil menunggu datangnya es jeruk. Entah darimana datangnya tiba – tiba aku merasakan sesuatu, rasa yang aku sendiri tidak dapat menjelaskannya. Sedikit rasa gundah seperti menunggu sesuatu, β€œ Masa iya nunggu es jeruk ampe segininya.” Batinku.

Kuhentikan suapanku sejenak seiring datangnyaΒ  es jeruk, kuseruput sedikit demi sedikit. Namun masih ada rasa yang mengganjal. Dan rasa ini pun akhirnya terjawab ketika ku melihat sesosok wanita yang sedang mengambil lauk demi lauk di belakangku.Sesosok wanita yang pernah kulihat dan kukenal, yang sepertinya menjadi jawaban dari kegundahan hati yang mendadak menghinggapi raga ini. Dan saat ia berbalik jelas sudah memang dia yang kukenal, dia yang saat itu meyakinkan aku bisa mengerjakan penugasan ospek dengan sepatah kata dan senyumannya.

Lagi dan lagi dunia serasa terhenti, bagaikan adegan lambat Keanu Reeves saat bermain dalam film Matrix Revolution. Serasa tak percaya dengan apa yang kulihat, semua semakin terasa sangat kacau dalam diri ini saat tiba – tiba ia menoleh dan menatapku. β€œCessss..” bagaikan bara api yang tersiram air kolam rasanya saat untuk kedua kalinya kontak mata itu terjadi. Kulemparkan sebuah senyuman padanya, dan dibalas dengan sebuah senyuman darinya. Dan entah suatu kebetulan apa memang sudah ditakdirkan olehNYA warung makan ini cukup ramai dan satu kursi yang tersisa hanyalah kursi yang berada di sampingku.

β€œSepertinya aku bermimpi.” Batinku. Dia pun akhirnya duduk disebelahku, entah apa yang kurasakan saat ini, aku tidak bisa menjelaskannya. Rasa senang, takut, grogi semua bercampur menjadi satu. Dia menganggukkan kepalanya seakan memberi tanda agar aku melanjutkan suapanku. Akupun melanjutkan suapanku dengan perasaan yang tercampur aduk tadi. Entah keberanian darimana tiba – tiba mulut ini pun mengucapkan beberapa kalimat.

β€œ Kayanya kita pernah ketemu ya mba.” Kataku membuka percakapan. β€œ Eh iya mas yang waktu Pra Ospek itu ya??” sahutnya. Ah suaranya sangat indah ditelingaku, sepertinya aku mendadak demam. β€œ Wah ternyata benar aku pikir tadi aku salah orang, soalnya mba sekarang kan memakai jilbab.” Kataku lagi. β€œ Iya mas kemarin aku pas pra ospek memang belum memakai jilbabnya, namun pas ospek hingga kini aku sudah mantap untuk berjilbab. Sebenarnya sudah dari kemarin aku ingin menyapa kamu tapi takut masnya lupa sama aku.”

β€œHah?? Berarti sebenarnya dari kemarin aku sudah sering bertemu dengannya??” batinku. β€œLoh mengapa tidak menyapa mba?? Memang kita pernah bertemu ya??” tanyaku polos. β€œ Tuh kan benar masnya tidak tahu, kita kan satu kelas mas memang aku duduknya selalu didepan jadi mungkin mas tidak lihat, tapi saat mas masuk kelas aku lihat ko.” Jawabnya. β€œHah??satu kelas??” batinku setengah terkejut, namun kututupi keterkejutanku ini.

β€œ Ah iya ya??jadi ga enak nih aku..hehehe, masih baru jadi aku belum kenal dan hafal semua anak – anak dikelas.” Jawabku sekenanya. β€œ Oh iya kita malah belum kenalan aku Ardi Nurrahman panggil saja Ardi.” Sahutku lagi. β€œ Iya mas sudah tahu ko kan sering dipanggil sama Arif sang ketua kelas, namaku Ratri Ayuningtyas, panggil saja Ratri atau Ayu.” Jawabnya lagi. Obrolan kamipun berlanjut hingga makanan kami habis dan akhirnya kami ke kos masing – masing.

Kulipat sajadahku dan kurebahkan badanku diatas kasur. Seakan mengerti apa yang kurasakan Streaming radio yang kusetel berisi lagu – lagu yang berbau lope – lope. Senyum terus mengembang di raut wajahku, β€œRatri Ayuningtyas nama yang sesuai.” Batinku. Apa yang kucari akhirnya kudapatkan. Sepertinya aku kena karma setelah seharian menggoda Arin. Kupejamkan kedua kelopak mataku sambil mengingat – ingat semua yang kami bicarakan tadi siang, hingga akhirnya aku tertidur di atas kasurku.

Bab VII

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s