Beranjak Dewasa Bab Kelima

Memasuki bab kelima dimana Ardi sudah mulai melakukan rutinitas barunya sebagai mahasiswa kos di kota pelajar

Kumpulan bab sebelumnya : Disini

Bab V

Semuanya Dimulai

Hari baru dengan pengalaman baru, seribu langkah besar dimulai dari satu langkah kecil. Ratusan hari yang mungkin akan kutempuh disini dimulai hari ini. Senin pagi yang cerah, tak kusangka bisa mendengar suara ayam jantan berkokok dengan lantangnya pagi tadi. Hal itu merupakan salah satu hal yang jarang kutemui. Perlahan hidung ini mencium sesuatu yang membuat penghuni dalam perut ini memberontak. “ Ah bau masakan ini menggodaku, memang sudah waktunya sarapan.” Gumamku.

Pukul 07.00 jam pertama kuliah ku hari ini, masih setengah jam lagi waktu yang cukup untuk menuruti teriakan – teriakan usus besar dan usus kecil di dalam perut. Setelah rapi aku pun bergegas keluar kamar dan menguncinya untuk segera mencari sarapan dan langsung menuju kampus untuk kuliah. Kupanasi mesin sang Phantom sambil kekenakan sepatu wasiat yang sudah 3 tahun kupakai.

Helm sudah berbunyi klik pertanda sudah sesuai prosedur yang banyak terpasang di jalan – jalan. Tapi sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang kulakukan saat ini, karena seharusnya bunyi klik itu ketika talinya berada di dagu, bukan di lengan seperti apa yang aku perbuat. Melaju perlahan sambil lirik kiri kanan sambil mencari menu sarapan pagi ini.

Dan akhirnya kuputuskan menu sarapan pagi ini adalah nasi kuning. Entah kenapa aku memilih nasi kuning padahal selama ini sama sekali belum pernah aku sarapan pagi nasi kuning. Mungkin kali ini yang harus bertanggung jawab adalah poster bergambar yang terpampang. Nasi kuning dengan suwiran ayam dan sebutir telur rebus siap disantap. Ternyata sesuai dengan yang digambar, hmmm yummy batinku. Para usus ini memaksaku makan dengan lahap dan dalam waktu kurang dari 7 menit sepiring nasi itupun tak bersisa lagi.

Saatnya menuju kampus, kali ini bunyi kliknya benar – benar sesuai prosedur yang ditetapkan. Jarak 2km pun kutempuh perlahan. Kurang dari 10 menit aku pun sampai di kampus, berjalan perlahan menuju kelas yang akan kutempati pertama kali. Dan untuk pertama kalinya aku melihat seluruh wajah teman – temanku, eh bukan wajah tapi bentuk wajah dan bentuk tubuh. Karena aku termasuk orang yang agak sulit mengingat wajah hanya dengan satu dua tiga empat kali bertemu. Kalaupun ingat besoknya jika bertemu lagi dengan pakaian berbeda pasti aku lupa.

Masuk kelas pertama, dosen pertama namun bukan teman pertama. Ya jelas bukan aku duduk berdekatan dengan Esa. Ah pertemuan pertama memang tidak cukup penting, hanya perkenalan dan tentu saja pemberian materi dan pengenalan buku. Tapi tetap saja penting untuk absen. Menilik nama – nama absen dan aku baru tahu kalo nama Esa itu cukup unik untuk diejek. Esa Satya Mandala namanya, namun dibenakku menjadi Esa Satya Mandala Krida Sari Husada haha, bisa dihajar Esa aku kalau dia tahu.

Melihat satu nama yang cukup simple dan setengah ga percaya kalau itu nama lengkap. Setyawan, dan ternyata dia duduk disampingku. Jadi ga enak aku dan bertambah satu temanku. Setyawan atau Wawan panggilannya. Anak Klaten dan hebatnya dia tidak kos jadi pulang pergi Klaten – Jogja. Wah wah salut padahal setahu ku jaraknya lumayan. Mungkin kalau di Jakarta itu seperti dari Taman Mini Indonesia Indah sampai Monas. Wah jadi ingin kesana terakhir kesana bersama Ibu mengunjungi adiknya  yang bekerja disana. “ Kapan – kapan main ah kesana.” Batinku.

“ Ga cape wan bolak – balik??Ga kos aja??” tanyaku. “ Ya neg dinikmati yo ora og, wis kulino. Lagian du Klaten kota dadi ra adoh – adoh banget.” ( ya kalau dinikmati y engga ko, udah biasa. Lagian bukan Klaten kota ko jadi g jauh – jauh banget ). “ Meh ngekos eman – eman duit’e bapak.” ( Mau ngekos sayang yang bapak ), sahutnya lagi. Kuperhatikan suasana kelas, dan melihat kejanggalan namun cukup menggelikan. “Duduknya ko berkelompok begini ya??” Yang cewe di depan semua dan cowonya dibelakang semua, seperti sudah ada aturannya saja, hihi.” Gumamku.

Mata kuliah pertama usai, kuliah berikutnya pun menjelang dan menginstruksikan kita semua untuk pindah ruang. Dan mendapat ruangan di lantai 3, oh tidak mesti naik turun tangga. Tak apalah anggap saja olahraga. Sambil menunggu dosen datang ku keluarkan 2100 ku yang ternyata sudah surat dari pak pos. Eh bukan denk, ada dua pesan masuk dan dua – duanya berasal dari teman seperjuangan jaman sekolah menengah yang kebetulan salah satunya juga merantau sama sepertiku. Pesan demi pesan kukirimkan dan kuterima. Berbagi cerita – cerita tentang kehidupan awal kuliah masing – masing. Sambil ku ingat masa – masa bersama mereka berdua.

Jadilah saat – saat menunggu ku habiskan dengan menatap layar terang dan memencet – mencet keypad ala 2100. Arin dan Dzul dua sahabat terbaik yang pernah kumiliki, kebetulan Dzul juga senasib dengan ku merantau ke luar kota. Namun dia lebih ke arah timur, ya dia merantau ke kota Lumpia, Semarang. Sangking asiknya aku tidak sadar dengan apa yang sedang dibicarkan di kelas. “ Heh kamu pilih siapa??” Tanya Wawan. “ Hah?? Pilih??Pilih apa??” sahut ku sambil terbingung –bingung. “ Hah kamu ini itu liat ke papan tulis ada pilihan ketua kelas kita atas usul kakak kelas.” Sahut Wawan lagi. “ Oh ya ya ya maaf sedang asyik tadi. Aku pilih Arif saja.” Sahutku sambil langsung melanjutkan aktifitasku.

Dan ternyata Arif sukses terpilih menjadi ketua kelas dengan Andra sebagai wakilnya. Cukup pantas lah menurutku, karena Arif sendiri terlihat karismatik. Dan ia pun langsung bertugas membuat persetujuan – persetujuan dengan kelas, salah satunya adalah perjanjian tentang batas keterlambatan dosen. Batas yang ditetapkan adalah 20 menit, jadi apabila setelah 20 menit melewati jadwal yang ada kelas yang meninggalkan dosen.

Minggu pertama terlewati dengan baik. Belum ada materi yang masuk karena memang belum jadwal dosen memberikan materi. Jum’at ini jadwal kuliah hanya pukul 07.00 pagi sampai pukul 08.40, setelah itu free hingga senin. “Ngapain ya nanti??” pikirku. Kalau hanya di kos pasti bosan setengah mati aku nanti, karena Cuma berinternet ria. Dan kebetulan sedang tidak ada niat untuk berselancar di dunia mba maya. “Nanti ikut yang lain saja lah pada ingin kemana”. batinku

“ Jadi sudah disetujui penilaiannya bobotnya seperti ini??”, dosen menjelaskan. “ Bobot apa?? Penilaian apa??”. Aku terheran. Ku lihat papan tulis dan baru aku sadar kalau yang daritadi dibahas itu adalah bobot penilaian mahasiswa. “ Oh ini tho yang dibahas daritadi??.” Aku bergumam, terlalu banyak melamun aku minggu ini. Entah apa yang kupikirkan.

Kuliah usai kini saatnya bingung.” Hmm kemana kita sekarang??” batinku. “ Di mau kemana kamu sekarang??” Tanya Arif. “ Ga tau rif paling ke kos, kenapa??” jawabku. “ Melu yo..nggolek buku.” ( Ikut yok cari buku ) jawab Arif. “ Sopo ae rif?? Aku ayo ayo aja.” Balasku. “ Kayanya rame Esa Galih juga ikut.” Sahutnya lagi. “ Cuma berempat lagi??.” Jawabku lagi. “ Engga kae Wawan Andra yo melu og.” ( Engga itu Wawan Andra juga ikut ko ). Jawabnya. “ Oh ok aku sih, sekarang??” tanyaku. “ Ora sesuk ae bar bada’. Yo saiki.” ( Engga besok habis lebaran. Ya sekaran ). Sahutnya.

Dan akhirnya kami berenam pun mengitari jogja dengan guide tournya Andra yang sudah cukup hafal daerah Jogja, maklum kakaknya juga kuliah disini. Dengan mengorbankan bensin dan motor ku, aku pun duduk manis di belakang Arif karena lagi malas bawa motor. Menikmati semilirnya udara jogja yang kebetulan sedang mendung. Jalanan yang sepi amat sangat kudambakan. “ Kaya gini nih yang mantep, ga perlu sering – sering turun kaki karena macet.” Batinku.

Persimpangannya pun tidak sesemrawut Ibukota, penunjuk waktunya juga tidak selama di Ibukota yang bisa mencapai satu setengah menit. Berhenti di salah satu toko buku bekas di belakang SMA Negeri aku lupa tadi SMA berapa ya??. Beberapa buku didapat namun tidak semua kebagian, yak dan akhirnya cara cara jitu para mahasiswa kos pun dimulai. Masing – masing beli satu buku yang berbeda dan sisanya fotocopy. Cara kaya gini nih yang sebenarnya merugikan penulis.

Tapi mau bagaimana lagi, factor uang yang memaksa kami berbuat ini. Perburuan selesai, kewajiban menunggu kami semua karena sudah pukul 11.30. Segera kami mencari mesjid terdekat untuk menunaikan kewajiban shalat. Selesai shalat saatnya wisata kuliner kembali, menjelajahi warung makan dengan rasa bintang lima namun harga kaki lima. Dasar anak kos mencari yang murah selalu, batinku tertawa geli.

Mendapat tempat makan yang cukup ramai dengan kumpulan pedagang – pedagangnya. Menurut kata Andra pedagang – pedagang ini memang sengaja disatukan disini tempatnya agar terlihat rapi dan tidak berantakan. Agak pusing juga aku mencari makanan apa yang akan dimasukkan ke dalam tubuh melihat banyaknya pilihan makanan. Mulai dari nasi goreng sampai ayam goreng, Mulai dari soto ayam sampai soto sapi.

Lidah ini tergiur begitu melihat semangkuk besar Sup Buah yang amat sangat menggugah selera. Ok satu pilihan ditetapkan anggap saja itu sebagai pengganti minum. Masih berkeliling mencari makanan yang sebenarnya semuanya menggugah selera, namun akhirnya insting ini menuntunku untuk melihat makanan khas Ibukota, yaitu Ketoptak. Yak aku menemukanmu wahai ketoprak, tak kusangka bisa bertemu disini sungguh tak kusangka hahaha. Ketoprak merupakan makanan wajibku di rumah jika sedang weekend harus menyantap itu setidaknya satu kali.

Ketoprak sendiri merupakan makanan yang terdiri dari lontong, tahu, bihun dan tauge yang dicampur dengan campuran bumbu kacang dan bawang putih dan kerupuk sebagai toppingnya. Wah tak sabar aku, langsung pesan saja sampai lupa nanya harga. Begitu duduk ternyata sudah pada siap dengan makanannya masing –  masing.

Galih dan Arif menyantap Nasi goreng, Esa menyantap mie ayam, sedangkan Wawan dan Andra menyantap Sop ayam. Minumannya pun rata – rata Es teh hanya Esa yang minum jus alpukat. Sepertinya aku yang heboh sendiri nih minumnya. “ Makan apa e qm di??” Tanya Esa saat aku datang. “ Ketoprak sama Sup Buah.” Jawabku. “ Wah dasar anak Jakarta.” Sahut Arif sambil disambut gelak tawa anak – anak lain.

Makanan datang, yummy yummy saatnya bertemu kembali dengan ketoprak, batinku. 20 menit kemudian sepiring ketoprak dan semangkuk sup buah sudah kosong. Perut ini benar – benar sedang on fire. “ Entek??hebat kowe..akeh lho kui mau.” Sahut Andra. “ Ngelih ndra, hahaha”. Sahutku. Memang benar porsiku tadi cukup banyak, namun lebih banyak Sup Buahnya tadi.

“ Habis berapa ya?? Tadi belum aku Tanya.” Batinku. Dan ternyata hanya 10 ribu ketoprak 6 ribu, sup buahnya 4 ribu. “ Wah mantaplah ini.” Batinku. Dan saatnya kembali ke kos untuk sesaat hibernasi membiarkan usus besar dan usus kecil bekerja sesuai prosedurnya. Dan sesampainya di kos benar saja mata ini langsung terpejam. Tanpa menghiraukan berantakannya kamar, dengan bertebaran baju dimana – mana, entah mana yang masih layak pakai atau sudah kadaluarsa dan perlu di vaksinasi dengan deterjen terlebih dahulu.

Bersambung….

Bab Selanjutnya Ardi akan bertemu dengan si “Dia” yang bertemu saat Pra Ospek…

Bab VI

1 Comment

  1. finally,udah gw baca mahakarya lo jis,hehehee…
    hmmm…comment apa ya??
    yaa…buat pemula jadi penulis so far so good’lah,tapi alur ceritanya kurang gereget gtu jis,hehe..yaa…but good job for you =)..tinggal d asah lg aja kmampuan lo buat nulis,,okeh’lah..semangat selalu
    semoga bisa jadi novelis yang hebat yaa bro..=)


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s