Beranjak Dewasa Bab Keempat

Karya ini memasuki Bab Keempat selamat menikmati

Sebelumnya bagi yang belum baca silahkan klik cerita certa sebelumnya ya..

Bab I  : Langkah Pertama

Bab II : Teman Baru

Bab III : Pelepasan

Bab IV

Pertama

Sang 2100 bergetar menandakan ada pesan masuk, ku hentikan sejenak aktifitas beres – beres ku. “ Jadi jam berapa kita nanti di??”, rupanya Esa menanyakan janji yang ku buat tempo hari untuk pergi ke pameran computer. “Jam 10 ya, kamu ke kosku dulu.” Balasku. Hari ini aku resmi jadi anak kos. “Ardi sudah siap??” panggil Om Leo. “Sudah om.”, sahutku. Om Leo akan mengantarkan ku ke kos hari ini sekalian Ia akan bertemu dengan salah satu pelanggannya di daerah Kota. Om Leo adalah salah satu Wirausahawan muda yang cukup sukses. Bisnis kerajinan tangan dari tembikar yang ia rintis sejak 7 tahun lalu kini sudah berkembang pesat.

Sambil menyantap sarapan Bulik memberiku beberapa nasehat. “Nanti sering – sering main kesini ya di. Temani Om dan Bulik. Kuliah yang rajin y serap semua ilmu yang ada disana. Jangan segan untuk bertanya dan jangan Cuma ilmu di dalam kelas saja yang kau serap tapi juga ilmu yang bisa kau dapat dari luar kelas.”. “ Iya Bulik, nanti Ardi sering – sering main ko.” “Nah kebetulan kamu kan di jurusan Akuntansi nanti bisa saja kamu langsung mempraktekkan ilmu mu di tempat om, hitung – hitung membantu Om mu y.” sahut Bulik lagi. “Oh, siap itu Bulik.” Sahut ku mantap sambil mengacungkan jempol ku menandakan kemantapan ku.

Dengan diantar mobil Om Leo aku pun pergi meninggalkan rumah Om Leo menuju kos baru ku. Nasehat – nasehat serupa diberikan oleh Om Leo. Dia pun tidak segan membantu jika suatu saat aku membutuhkan bantuan. Perjalanan 45 menit pun diisi dengan berbagai cerita dari Om Leo tentang seluk beluk kota ini yang mungkin suatu saat aku butuhkan sebagai warga baru kota ini.

Dan kini aku sudah berada di depan muka kos baru ku. Sambil melambaikan tangan dan mengucapkan salam perpisahan kepada Om Leo yang perlahan meninggalkan ku. Bentuk rumah kos ku ini seperti rumah biasa yang terpisah dengan rumah Ibu kos. Rumah ini  terdiri dari 6 kamar berjejer kebelakang berhadap – hadapan dan kamar ku berada di tengah – tengah yaitu kamar nomor 4.  “Cklek” kunci pintu kamar sudah kubuka dan dengan helaan nafas panjang aku melangkah masuk kamar kos baru ku ini. Kamar berukuran 3×3 ini cukup besar untuk ku seorang.

Ku letakkan kacamataku di atas rak buku kecil di depan pintu masuk. Dua buah meja kotak kayu kecil berada di samping kanan pintu masuk. Lemari baju bertingkat berada di pojok kanan ruangan dan di pojok satunya sudah tergelar kasur kecil yang masih terbungkus plastik hasil perburuan barang murah bersama Ayah dan Ibu kemarin. Ku rebahkan sejenak badanku ini sambil melihat sekeliling isi kamar yang masih bersih tanpa ada tempelan poster, kalender atau kaca. Sepertinya kamar ini baru saja di cat ulang oleh Ibu kos sehingga terlihat sangat bersih. Dan Alhamdulillah aku bebas diperbolehkan menjadikan kamar ini sesuka ku. Bagi Ibu kos yang terpenting saat aku keluar dari kos ini nanti kamar ini bersih seperti awal.

Aku jadi teringat cerita Mas Yan saat dia kuliah dulu. Ada salah satu temannya yang berasal dari Purwokerto terjebak oleh keadaan kos yang sangat tidak nyaman. Ya Ibu kos yang terlihat manis di awal namun bertindak sadis di akhir. Bulan pertama Ibu dan Bapak kos masih terlihat baik. Sebut saja nama teman itu Ali, awal – awal Ibu kos bersikap sangat baik dan berkata – kata santun. Kebetulan saat itu awal – awal puasa juga merupakan awal Mas Ali masuk kos disana. Ibu kos dengan baik hati menyiapkan hidangan untuk santap sahur. Kebetulan bentuk kos Mas Ali itu rumah kos dengan 2 kamar dibawah sedangkan kamar Bapak dan Ibu Kos berada di lantai atas.

Rumah kos ini sepertinya kekurangan daya sehingga terkadang sering mendadak mati listrik saat banyak menggunakan peralatan listrik. Di awal memang Ibu kos sering mengalah untuk Mas Ali. Tabiat buruk dan rasa tidak nyaman muncul setelah 4 bulan berada di sana. Ya Mas Ali dan kawan kamar sebelah mulai merasakan tidak betah. Bagaimana tidak?? Aturan dikos sangat tidak menyenangkan, salah satunya adalah tidak boleh membawa teman ke kamar. Hmm padahal menurutku kamar yang sudah disewa itu bukankah sudah menjadi hak penuh Mas Ali??. Lalu terkadang pintu kamar seperti ingin dibuka paksa dari luar. Kebiasaan itu muncul setelah Ibu kos mulai berubah sikap masalah listrik, keegoisannya mulai muncul dengan memaksa Mas Ali dan kawan sebelah untuk berhemat.

Pada bulan kelima kawand sebelah kos Mas Ali sudah merasa tidak betah dan memutuskan pindah kos. Jadilah ia hidup sendiri di tengah siksaan Ibu kos yang bisa dibilang aneh. Kelakuan over protektif khususnya masalah penggunaan listrik. Masalah dimulai saat Mas Ali mempunyai laptop, diluar perkiraan sang Ibu kos meminta tambahan biaya. Padahal perjanjian di awal pembayaran sudah termasuk biaya listrik. Terpaksa lah dituruti oleh Mas Ali, 20 ribu rupiah mungkin terlihat jumlah yang kecil. Tapi bagi anak kos uang 20 ribu itu bisa untuk makan selama 2 hari.

Puncaknya adalah saat dimana listrik di kamar Mas Ali dimanipulasi oleh Ibu kos dengan dibuat saklar tersendiri oleh Ibu kosnya. Mas Ali sendiri tahu akan kelicikan itu saat hendak menjemur pakaian di atas dan melihat keanehan pada kabel listrik yang mengarah ke tempatnya. Kejadian –kejadian yang dialami Mas Ali membuat ku agak sedikit merinding. Akankah aku mengalami hal itu?? Aku harap tidak.

Dering hp membuyarkan lamunanku. Ternyata Esa sudah berada di depan menungguku, aku pun segera bergegas untuk menghampirinya. “ Maaf sa lama, kenapa tidak ke dalam saja tadi??” Tanyaku. “ Piye tho kamu ini??Lha wong aku ra reti kamarmu og.” ( Kamu ini bagaimana?? Lha aku kan ga tau kamarmu ). “Oh iya y..Maaf sa..hehe ya sudah ayo.” Sahutku lagi. Hari pertama ku tanpa orang tua akan ku mulai dengan mengambil “belalang tempur” Supra X Hitam ku.

“ Sa berhenti dulu di depan situ y..tempat jual bensin.” Kata ku kepada Esa. “ Weh meh ngopo e di?? Bensin ku full og.” ( Mau ngapain?? Bensin ku penuh ko ) jawab Esa. “ Bukan buat motor mu ko. Buat motorku”, balasku. “Walah nggo motormu tho”, sahut Esa. Sesampainya ditempat disana langsung ku ambil motor ku beserta helm. Ah akhirnya ku bisa bertemu dengan kamu lagi Phantom. Y motor Supra hitam ini dengan mantap ku beri nama Phantom. Aku dan Esa pun bergegas menuju pameran karena sudah hampir jam 11.00 waktu yang sudah ditetapkan bersama Galih dan Arif untuk bertemu disana.

“ Lih dimana posisimu??udah sama Arif kan??” pesan singkat ku kirimkan ke nomor hp Galih. Kebetulan aku belum sempat bertukar nomor dengan Arif. “Sudah kami di Pintu Utama, baru saja datang?? Kalian dimana??” balas Galih beberapa saat kemudian. “ Ok kami kesana, aku dan Esa baru saja sampai.”. Ramai juga ya pamerannya batin ku setelah memasukkan kunci motor ke dalam tas. Berapa ya perputaran uang disini??. Dari parkir saja sudah ratusan motor yang terlihat. Anggaplah 500 motor saat ini berada di sini dan uang parkir tadi 1.500 per motor jadi 500×1.500 =750000 ribu dan anggaplah tiap dua jam 100 motor keluar dan 100 motor masuk dan anggaplah jam pameran itu 10 jam jadi 10 jam dibagi 2 jam sama dengan 5. Itu berarti 500 tambahan motor masuk 750000 + 750000 = 1.500.000 itu pun hanya dari retribusi parkir motor. Belum dari mobil dan itu juga baru hitung –hitungan kasar ku. Karena sekilas kendaraannya terlihat banyak, dan aku dikagetkan ternyata lahan parkirnya tidak hanya disitu. Masih ada dua tempat lagi ternyata.

“Maaf lama.” Kataku setelah bertemu dengan Arif dan Galih. “ Yo rapopo.” ( Ya ga apa – apa ) sahut Galih. “ Mau nyari apa e kamu sa??” Tanya Arif. “ Cuma nyari flashdisk ae ko. Lha kowe rif??” Jawab Esa. “ Mbuh ki, arep nggolek speaker sing cilik tapi yo ndelo ndelo sik.” ( ga tau nih, mau nyari speaker yang kecil si tapi ya liat liat aja dulu ) jawab Arif. “ Yasudah ayo masuk dulu.” Sahut ku. Berputar – putar di dalam aku kembali takjub. “ Besar sekali dan ramai.” Batin ku. Berapa ya perputaran uang disini. Kalau dihitung –hitung, ah sudahlah nanti pusing lagi aku. Baru menghitung parkirannya tadi saja aku sudah pusing.

Yang dicari sudah di dapat kami masih berputar – putar di pameran siapa tahu menemukan sesuatu yang menarik. Berkeliling sejenak melihat – lihat barang di pameran, mata ini pun berkeliling memandang kiri dan kanan. Banyak sekali barang – barang yang asing dan sebenarnya menarik minatku untuk mengetahuinya. “Cukup lengkap ya barang – barangnya.” Batinku. Mulai dari laptop, notebook, CPU, LCD dan segala macam tetek bengeknya, hingga buku – buku yang berkaitan tentang computer, software dan internet ada disini.

Merasa perut mulai lapar dan menyadari belum menunaikan kewajiban aku pun mengajak mereka untuk keluar. “ Udah setengah 2 ayo e shalat dulu terus cari makan.” Seruku. “ Wah iya belum shalat.” Sahut Arif. “ Yowes ayo ndang metu nggolek mushola.” ( Yaudah ayo cepat keluar cari mushala) sahut Esa. Kamipun mencari mushala di sekililing tempat pameran ini, tidak sulit mencarinya karena petunjuk arah yang cukup jelas dan lokasi yang strategis. Tidak seperti tempat – tempat umum lainnya yang cukup sulit mencari mushala, khususnya pusat – pusat perbelanjaan. Agak kesal aku dengan tempat – tempat perbelanjaan dan tempat – tempat ramai lainnya. Mushalanya agak sulit dijangkau, dan jauh dari tempat utamanya. Ya pengalamanku selama ini kalau tidak berada di palinggggg belakang ya ada di lantai palinggggg bawah, kalau tidak ada di lantai paling bawah?? Sudah pasti berada di lantai palinggg atas.

Heran memang kenapa justru tempat ibadah agak sedikit terpinggirkan. Sudah susah dijangkau tempatnya juga pasti kurang memuaskan alias seadanya. Itulah mengapa sebabnya terkadang aku lebih baik shalat mencari mesjid terdekat jikalau sedang berada di luar rumah, lebih nyaman. Kewajiban utama sudah kini panggilan alam harus dipenuhi. Sudah waktunya makan siang, hmmmm harum wangi masakan yang berada di depan gedung pameran menggoda iman kami. Namun berhubung kami ini anak kos, kami berfikir untuk mencicipi makan disana melihat rata – rata yang makan disana adalah orang tua bersama anak – anaknya, maka kamipun lanjutkan untuk menerobos hadangan – hadangan penggoda iman kantong anak kos itu.

Dan akhirnya kami sukses menerjang hadangan iman itu. 3 motor melaju untuk mencari makanan dengan harga yang terjangkau. Seputaran kampus adalah tempat yang cocok untuk mencari makan murah namun nikmat. Rumah Makan Padang kuliner pertama yang aku cicipi, sebenarnya aku agak ragu mencoba disini karena terakhir kali makan di rumah makan padang aku masih bersama orang tua dan habisnya cukup banyak. Tapi mau bagaimana lagi kaki sudah melangkah masuk, bau harum ayam goreng seperti menarik lenganku untuk terus masuk dan segera mendatanginya.

Dan tanpa sadar kini aku sudah berdiri tegak, memegang piring dan sendok, berada di antrian di antara Esa Dan Galih. “ Eh disini ngambil sendiri ya??”, batinku berucap. Agak sedikit bingung juga aku karena aku pikir akan sama seperti yang dulu pernah makan bersama orang tua ku, yaitu disajikan semua lauknya baru nanti apa saja yang dimakan baru dihitung. Namun berbeda ternyata dengan disini mungkin karena kawasan anak kos yah jadi berbeda. Lamunanku bubar saat Esa mendorongku “Gek ndang di.” (Cepet di) ujarnya. “Oh ya maaf maaf.” Sahutku. Nasi sudah terisi cukup banyak, aku berani mengambil banyak karena melihat Galih dan Arif dengan porsi yang bisa dibilang sepadan dengan porsiku.

Kembali termenung kali ini tepat di hadapan para Lele, Bawal, Kepala Kakap, Rendang, Perkedel dan tentu saja sang Ayam Goreng yang tadi menarik perutku masuk melalui hidung. Bingung ingin makan apa hingga akhirnya lagi – lagi Esa yang menyadarkan ku. “ Hei kamu tuh kebanyakan bengongnya di, mau minum apa??Ditanya Arif tuh.” Esa menyadarkanku. “ Eh iyo sorry, bingung aku mau makan apa, aku es the saja.” Jawabku. Setelah menimang dan memilih dan memutuskan akhirnya sang ayam dan dua buah tahu goreng dengan kuah kikil bertemu dengan nasi di piringku. “ Kau harus bertanggung jawab wahai ayam goreng, kau yang menggodaku.” Batinku geli.

Kusilangkan sendok dan garpuku, kuseka bibirku dengan sehelai tisu berwarna biru, dan kuseruput es teh ku dengan perlahan dan penuh kenikmatan. “Alhamdulillah terimakasih nikmatmu Ya Allah.” Batin ku. Sambil memandang piringku yang telah kosong, senyuman licik mengembang di bibirku menandakan suatu nikmatnya balas dendam melihat tulang – belulang ayam yang sudah ku habiskan. “ Salah sendiri kau yang menarik tanganku kesini jadi kau yang kuhabisi.” Ucapku. Hahaha sekilas seperti adegan penjahat yang berhasil menghabisi musuh bebuyutannya.

Dan saatnya pembayaran, makan pertama kali sebagai anak rantau, habis berapa y kira – kira??. “ Pake apa mas??”, Tanya mas – mas kasir. “Pake kaos, celana jeans ma sandal mas.” Batinku setengah tertawa kecil. “ Pake ayam sama perkedel + es teh, berapa mas??” Tut tut tut tut, bunyi kalkulator yang dipegang mas kasir. “ 8 ribu mas.” Sahutnya. Wah lumayan ya batinku, aku pikir tadi di atas sepuluh ribu, karena ayam yang ku makan tadi cukup besar, lumayanlah. “ Kemana kita sekarang??” tanyaku kepada yang lain. “ Aku dan Arif pulang ya di cape aku.” Jawab Galih. “Oh kalau kita aku juga balik ke kos.” Sahut Esa. “ Ok aku juga balik kos.” Sahutku.Pengalaman setengah hari pertama cukup menyenangkan. Sekarang ke kos istirahat sebentar dan merapikan barang – barang batinku.

Namun ditengah perjalanan sepertinya aku mengingat sesuatu.  Oh iya aku belum membeli peralatan – peralatan mandi dan pengharum ruangan. “ Sekalian beli cemilan lah siapa tahu nanti aku kelaparan di tengah malam.” Batinku seraya memutar arah menuju toko terdekat. Pukul 15.00 sayup – sayup terdengar adzan berkumandang. “ Wah salat dulu lah sekalian mencoba mesjid kampus.” Setengah jam kemudian baru aku mendapatkan barang – barang yang aku cari, namun sepertinya lebih banyak ke makanannya. Duh beginilah insting seorang yang kelaparan. Sesampai dikos melihat isi kamar yang masih rapi tertata. “ Bertahan berapa lama y kondisi seperti ini??” batinku. Tanpa sadar mataku terpejam hingga adzan Maghrib membangunkanku, mungkin cukup lelah juga fisik ini.

Dengan mata yang masih terkantuk – kantuk aku beranjak bangkit dari peraduan menuju kamar mandi. Dengan mata sayu kubuka pintu kamar mandi yang kebetulan tidak sedang dipakai. Kututup pintunya dan untuk sesaat terdiam untuk membiarkan sadar sepenuhnya dari tidur. Baru saja ingin melepas pakaian aku tersadar, “ Hayah gayung, sabun dan gerombolannya masih dikamar.” Batinku. Terpaksa ku kembali mengambil gerombolan penghuni kamar mandi itu.

Selesai mandi selesai shalat, “Sekarang apa??” ucapku sambil menirukan suara Patrick karib dari Spon kuning penghuni nanas dasar laut. Laptop lah yang kemudian menjadi sasaranku, seharian ini aku tidak menyentuhnya, tentu saja bersama modem mungil ini. Mengecek sesaat isi dari jarring –jaring sosial ku. Banyak kawan – kawan lama yang sedang aktif atau bahasanya Bang Igor Saykoji Online. Beda orang beda kata – katanya, karena Bulik ku menyebut kan kata Online dengan bahasanya sendiri yaitu “Onglen” haha. Tapi ternyata perut kembali mengajak ku untuk memasukkan bahan pangan kembali. Terpaksalah aku keluar sebentar mencari santap malam di sekitaran kos.

Dan untuk pertama kalinya aku mencoba apa yang namanya “Ngangkring”. “Ngangkring” atau makan di Angkringan merupakan yang kulakukan saat ini adalah yang pertama kalinya aku coba. Angkringan itu seperti warung makan berjalan. Dengan gerobak yang cukup besar dan beberapa kursi kecil panjang mengitari gerobak tersebut. Cahaya dari lampu minyak atau “teplok” cukup menyinari ku, Angkringan terkenal dengan apa yang namanya Nasi Kucing atau Sego Kucing. Dinamakan demikian ya   karena porsinya yang sedikit yang dibungkus daun pisang. “ Wah bisa – bisa habis 3 porsi nih aku.”, batinku. Lauknya bebas pilih dan silahkan ambil sendiri, ini sebenarnya membuat aku takut, takut ga terkontrol nanti habis malah uangku.

Benar saja tiga bungkus nasi kucing ditambah 4 buah gorengan dan segelas es teh habis malam itu. Beruntung makan di Angkringan, karena harganya sangat merakyat tentu saja. Sekian banyak yang kugiling tadi total pengeluaran habis 7500 hampir sama dengan makan ayam tadi siang. Perut kenyang sekarang kembali ke kos penuh dengan senyuman kepuasaan. Kepuasaan dapat makan murah tentu saja. Dan esok mulai lah aktifitas sebagai Mahasiswa kutempuh.

Bersambung…..

Bab Kelima : Pertama

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s