Beranjak Dewasa Bab Ketiga

Wets jangan langsung baca ini nanti ga nyambung

Baca Bab Pertama dan Kedua dulu ya..

Bab Pertama

Bab Kedua

Bab III

Pelepasan

Shalat Jumat usai, acara Ospek pun dilanjutkan kembali namun aku sudah tidak bisa menerima materi lagi dengan baik. Pertanyaan demi pertanyaan sebelum shalat jumat tadi masih menghantuiku. Mata ini terus berkeliling mencari sosok gadis tersebut, teman sekelompok ku?? Bukan. Di kiri kanan ku pun dirinya tidak ada. Sampai pada akhirnya aku pun menyerah untuk mencari. Nikmati sajalah dulu kegiatan ini dan rencana esok hari.

Sabtu esok merupakan hari besar ku. Yaitu hari pertama aku tinggal dikos, maka dari itu sebelum Ayah dan Ibu pulang pada malam harinya aku akan berbelanja barang – barang kebutuhan ku nanti untuk dikos. Tidak sabar rasanya menanti untuk mencoba hidup sendiri menjadi anak kos. Ini merupakan momen yang aku tunggu, karena kakak sulungku Mas Yan dulu sempat mencoba menjadi anak kos meskipun masih berada di satu kota namun dia hanya bertahan selama beberapa bulan. Tak sabar rasanya membuktikan aku bisa melebihi Mas Yan.

Wah lamunanku buyar setelah Esa mencolek ku. Ah lagi – lagi Esa batinku, “Di besok mau kemana??”, Tanya Esa. “Besok??aku mau angkut angkut barang ke kos lalu antar orang tuaku pulang kembali ke Jakarta, kenapa??”. “ Tidak apa – apa aku pikir kau tidak ada acara, tadinya aku ingin mengajak kamu keliling kota.” .”Wah maaf y sa. Apa kamu tidak pulang ke Kediri??” tanyaku. “Sepertinya tidak di, Cuma libur satu minggu e sayang lah uangnya.” Sahut Esa. “Memang rencana mu esok mau kemana tho sa??”, tanyaku. “Meh ndelok pameran computer ki lho.” Jawab Esa sambil memperlihatkan sebuah brosur. Wah dia mulai menggunakan bahasa jawa, dan sepertinya aku memang harus menguasai bahasa tanah kelahiran Ayah Ibu ku ini.

“Mau nyari apa e kamu sa??” tanyaku dengan sedikit menggunakan logat jawa semampuku. “ Aku meh nggolek flashdisk di, Flash ku sing lawas dinggo adek ku.” ( aku mau nyari flashdisk di, flash ku yang lama dipake adek ku. ) jawab Esa. “ Lha ki kan iseh suwi tho waktune minggu aku bisa, minggu aja gimana??” ( Lha ini kan masih panjang waktunya ) sahut ku lagi. “oh ok kalo gitu.” ujar Esa. Tanpa terasa kumandang adzan Ashar terdengar di tengah perbincangan Aku dan Esa.

Di tengah – tengah istirahat shalat Ashar aku sempat mengajak Galih dan Arif untuk sama – sama pergi ke pameran computer minggu esok bersama Esa. Galih dan Arif oke sekaligus menjadi ajang perkenalan ke Esa sebagai teman satu kelas. Sang Mentari mulai terlihat lelah dan mulai menuju peraduannya di ufuk barat. Yang kami tunggu – tunggu pun tiba, yaitu upacara penutupan Ospek yang secara tidak langsung juga merupakan titik dimana kami resmi menjadi mahasiswa kampus ini.

Dan bersamaan dengan tenggelamnya sang Mentari ucapan selamat dating dan ucapan selamat menjadi mahasiswa pun diberikan oleh Bapak Dekan karena upacara penutupan dilakukan di Fakultas Masing Masing. Tanpa sadar air mata ini menetes, “ Ayah Ibu anak tengah mu ini akhirnya resmi menjadi seorang mahasiswa. Anak tengahmu yang dulu sering menangis jika bertengkar dengan Mas Yan kini sudah beranjak dewasa. Aku berjanji akan berjuang sekuat mungkin disini untuk membahagiakan kalian. Aku tak akan menyia – nyiakan tiap tetes keringat yang telah kalian korbankan demi aku. Aku berjanji Ayah Ibu.” Batinku bergetar merasakan ini semua.

Aku memang masih tidak menyangka waktu berlalu begitu cepat. Sekarang aku sudah menginjak bangku kuliah. Aku yakinkan diriku kalau ini bukan mimpi dan ini benar benar nyata. Ardi yang sekarang sudah dewasa, bukan lagi Ardi yang dulu sering menangis karena tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Bukan lagi Ardi yang selalu bergantung kepada Orang Tua. Teringat kata – kata Mas Yan sesaat sebelum aku pergi meninggalkan kota Jakarta, “Kamu sekarang sudah dewasa di, sudah bisa menjaga dirimu sendiri. Ingat tak boleh lagi ada keluhan yang terucap apalagi sampai berlarut – larut seperti yang sering kamu lakukan dulu. Buat Ayah dan Ibu bangga, buatlah adikmu bangga dengan prestasimu kelak. Tak perlu berusaha untuk membuat Mas bangga, karena apa yang kamu dapatkan saat ini sudah membuat Mas bangga memanggilmu adik. Jaga diri baik baik y disana, Mas selalu mendoakanmu dari sini.”

Mas Yan memang sering bertengkar dengan ku. Ya aku akui terkadang pertengkaran – pertengkaran konyol seperti berebut menonton acara tv, sampai berebut memakai kamar mandi, mungkin factor umur yang tidak terlampau jauh menjadi salah satu penyebabnya.Ya umur ku dan Mas Yan hanya berjarak 4 tahun saja. Tapi bagaimanapun dia tetap Kakak ku, salah satu panutan ku. Selama ini dia yang mengajari ku banyak hal. Khususnya masalah kedewasaan bersikap, namun memang aku yang terkadang terlampau manja jadi agak sulit menerima ilmu Mas Yan. Kini Mas Yan sudah bekerja, baru saja dia lulus dari salah satu sekolah tinggi swasta di Jakarta dan langsung diterima bekerja sebagai pengajar.

Dan rangkaian Ospek pun berakhir, sampai di rumah Om Leo dengan perasaan lelah letih namun bahagia. Setelah mandi, shalat dan makan aku beranjak kekamar tidur untuk istirahat, Ayah Ibu pun mengerti mengapa aku langsung merebahkan diri, karena malam ini aku pulang lebih malam dari biasanya. HP 2100 ku sudah menunjukkan pukul 20.40 lelah sekali rasanya dan ingin segera tidur. Segera ku matikan lampu dan menuju ke alam mimpi diiringi dengan ucapan Bismika.

“Krrrriiiiiinggggg….Krrriiinnnggggg” alarm weker kembali membangunkan dan ternyata aku lupa untuk men-set ulang jam tersebut masih pukul 4 pagi ternyata. “ Ah sial aku lupa men-set ulang alarm ini.”, umpatku. Aku set ulang alarm ini untuk satu jam kedepan karena aku masih ingin terlelap meski hanya untuk satu jam saja. Ku coba untuk kembali tidur karena masih ada cukup waktu hingga adzan subuh berkumandang, namun entah kenapa kepala ini malah memikirkan banyak hal. Mulai dari bayangan suasana kuliah nanti, bayangan hidup di kos, dan otak ini kembali memikirkan gadis tersebut. Ah ayolah wahai otak ku yang terhormat mengapa beralih kesitu. Tanpa sadar jarum – jarum penunjuk di jam beker ku sudah menunjukkan pukul 04.35, Adzan subuh pun berkumandang. “Ah, malah tidak jadi tidur lagi, payah kepala ini tidak bisa diajak kerjasama.” Dengan sedikit merengut aku bangkit menuju kamar mandi untuk melaksanakan shalat subuh.

“Ardi….cepat…” panggil ibuku. “Iya ibu..” sahutku. Pagi ini aku Ayah dan Ibu ingin mencari kebutuhan – kebutuhan untuk mengisi kamar kos baru ku. Om Leo menawarkan untuk menggunakan barang – barang yang ada di kamar Mas Iwan. Tapi tidak jadi karena terlalu besar untuk ukuran kamar ku. Dengan meminjam mobil Om Leo kami bertiga berkeliling mencari barang – barang yang kubutuhkan. Setelah kurang lebih 3 jam akhirnya aku dan kedua orang tua ku sudah berada di kos baru ku.

Helaan nafas panjang sedikit membantu ku menghilangkan lelah sesaat setelah berada di depan kos baru ku. Sambil menunggu barang – barang yang akan datang Ayah dan Ibu berbincang – bincang dengan Ibu kos yang kebetulan hanya tinggal dengan dua anak laki – lakinya yang. Salah satunya baru saja lulus dari kampus yang sama denganku. Dan yang satunya lagi masih kuliah semester 3 lebih tepatnya satu tahun di atasku. Yang ditunggu – tunggu pun tiba, lemari baju, kasur kecil dan beberapa peralatan makan  sudah masuk ke kamar kos baruku.

Untuk sesaat aku terdiam dan termenung, “ Ini kamarku untuk beberapa tahun kedepan??” batin ku. Seakan masih tidak percaya kalau aku benar benar akan tinggal sendiri. Ibu membuyarkan lamunanku, “ Gimana di sudah pas posisinya??” Tanya Ibu. “ Sudah cukup bu, nanti biar Ardi rubah sendiri kalau bosan dengan posisinya, hehe.” Jawabku. Mendadak hp ku berbunyi, ada telepon dari nomer yang tak kukenal, namun nomer jogja. Ternyata dari tempat pengiriman barang yang mengabarkan motorku sudah sampai untuk segera bisa diambil.

Ku kabarkan itu pada Ayah dan Ibu, pukul 13.30 sudah siang ternyata pantas saja perut ini sudah mulai keroncongan. Setelah berpamitan dengan Ibu Kos kami bertiga bergegas untuk pulang. Sampai dirumah Om Leo setelah shalat aku langsung menuju meja makan. Kebetulan Ibu tadi sudah membeli lauk sehingga tidak merepotkan Bulik Sri untuk memasak. Hp ku bordering menandakan ada pesan masuk, setelah usai makan siang baru aku membuka pesan tersebut. Rupanya dari Esa yang menanyakan kegiatan esok. Ah kebetulan pikirku, besok bisa sekalian minta tolong Esa untuk mengantarkan ku mengambil motor di stasiun.

Pukul 16.00 dua setengah jam sebelum keberangkatan Ayah dan Ibu kembali ke Ibukota. Semua barang – barang Ayah dan Ibu sudah siap untuk diangkat masuk ke mobil Om Leo. Aku sendiri baru saja terbangun dari lelapnya istirahat siang. Segera ku beranjak menuju kamar mandi untuk mandi dan menunaikan shalat. Setelah itu aku bantu Ayah memasukkan barang – barang ke mobil Om Leo. Pukul 5 kami pun berangkat ke stasiun  Setengah jam kemudian kami sudah berada di peron untuk menunggu kedatangan kereta yang akan mengantar Ayah dan Ibu ku kembali ke kota Jakarta dan meninggalkan ku untuk berjuang disini.

15 menit kemudian kereta yang akan mengantar Ayah dan Ibu sudah siap sedia di jalurnya. Ini tandanya perpisahan sementara aku dan orang tuaku sudah semakin dekat. Nafas panjang kembali ku lepas untuk sedikit menegarkan hatiku. Dalam shalatku tadi aku berdoa agar aku dikuatkan untuk bisa menjalani kehidupan baruku. Perasaan bersemangat yang kurasakan pada saat menginjakkan kaki ditempat ini sebelumnya berubah 180 derajat menjadi rasa haru dan agak sedikit takut. Ku kuatkan kembali hati ku “ Aku harus kuat, ini jalan yang kupilih aku harus bisa demi kebanggaan orang tuaku, ini juga perubahan diriku yang sering bergantung kepada orang tua.”

Dan tepat pukul 18.30 kereta yang itu akhirnya berjalan perlahan meninggalkan peron stasiun.Tatapan ku terus menatap gerbong demi gerbong yang melaju perlahan, hingga hilang ditelan kegelapan senja. Deru suara mesin dan decit roda pun perlahan menghilang, tanpa sadar air mata ini menetes namun secepat mungkin aku hapus, aku tidak ingin terlihat rapuh di hadapan Om dan Bulik ku. Dan mulai malam ini dimulai kehidupanku yang baru. Kehidupan ku yang akan penuh cerita, Kehidupan baru dan pengalaman baru yang mungkin sama sekali tidak pernah aku bayangkan selama ini. Inilah kehidupan Ardi Nurrahman yang baru.

Bersambung…..

Bab Keempat

2 Comments

  1. siapa itu ardi nurrahman ? bukan ardiantono ?

    • bukanlah…beda orang beda cerita….udah dikasih tau dari kemrn juga hish…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s