Beranjak Dewasa Bab Kedua

Sebelum baca ini ga akan nyambung klo g baca bab yang pertama

Bab I

Bab II

Teman Baru

Seminggu sudah aku dirumah Om Leo dan tidak terasa esok sudah waktunya Ospek ayah dan ibu masih berada di sini. Mereka sengaja tidak langsung pulang dan ingin menemani ku hingga Ospek berakhir entah mengapa mereka khawatir terjadi sesuatu kepadaku karena memang kondisi fisik ku yang bisa dibilang lemah. Aku mengidap asma yang memang tidak dianjurkan untuk terlalu lelah dalam beraktifitas.

Yang harus dibawa esok hari sudah siap semuanya. Semua berkat Orang Tua tercinta. Sebenarnya hingga hari terakhir Ospek semua yang bisa dipersiapkan sudah disiapkan oleh Ibu dan Ayah tinggal makanan makanan saja yang belum. Menikmati malam dengan rembulannya yang indah sangatlah indah, betapa indahnya ciptaan Yang Kuasa. Tidur diatas dipan memandang semburat tipis garis garis awan menenangkan hatiku. Hingga tiba – tiba hp ku berdering menandakan adanya sms masuk.

Sms datang dari Arin salah satu sahabat seperjuanganku dari zaman sekolah menengah pertama. “Bang gimana kabar jogja??Sehat??” isi sms yang dia kirimkan.” Alhamdulillah masih makmur gimana disana??”. Balasan sms ku. Dan malam terakhir sebelum disibukkan dengan jadwal Ospekpun ku habiskan dengan berkomunikasi dengan sahabat sahabat perjuanganku yang ada di kota asal.

“Krrrriiiiiinggggg….Krrriiinnnggggg” alarm dari jam weker di kamar membangunkanku. Pukul 04.00 aku sudah harus bergegas untuk menghadapi OSPEK hari pertama ini karena pukul 05.30 sudah harus siap di kampus. Setelah semua siap aku pun berpamitan kepada semua untuk menikmati Ospek hari pertama. 05.15 aku sudah siap di tempat yang ditentukan panitia. Acara mulai tepat pada waktunya dan aku pun berbaris sesuai kelompok yang sudah ditentukan panitia. Dengan gaya sok akrab aku mulai beranikan berkenalan dengan kawan di sebelah terdekat. Masih mencari teman yang berasal dari jurusan yang sama.

Dan tentu saja mencari gadis yang menyita perhatian ku beberapa hari lalu.  Setelah berkenalan dengan beberapa orang akhirnya aku menemukan yang berasal dari jurusan yang sama. Y sama sama berasal dari jurusan Akuntansi. Galih Pratama namanya berasal dari seberang pulau ternyata. Lebih tepatnya berasal dari kota Palembang Sumatera Selatan. Kota yang terkenal dengan Jembatan Amperanya dan juga Pempek tentunya. Galih orang yang terkesan acuh namun baik hati, dia masih sangat terlihat lugu di mata ku. Entahlah mungkin ini hanya perasaan ku saja.

“Kos dimana lih??”, tanyaku memecah kebosanan ditengah materi yang diberikan Bapak Pembantu Rektor. “ Aku kos di seberang parkiran timur, ada gang disamping fotocopy itu aku masuk skitar 20m”, sahutnya sambil sedikit menahan kantuk. “ Kamu g kejauhan ngambil kuliah disini??”. Sahut ku lagi. “Ah tidak juga kebetulan memang sudah niat mau ngambil kuliah di jogja karena disarankan oleh ayah y aku ambil saja, kamu sendiri kenapa malah pergi ke jogja??, Padahal Jakarta kan lebih wah.” “Takdir yang membawa ku kesini hahaha…ya habis diterimanya disini mau bagaimana lagi??” aku menimpali pertanyaan Galih.

Selama Ospek hari itu aku bersama beberapa teman yang baru saja ku kenal. Yaitu Galih, Sofyan, Arif dan Ahmad. Tetapi yang kuketahui pasti jurusannya hanyalah Galih. Sisanya aku belum mengenal lebih jauh. Pukul 07.00 aku sampai dirumah Om Leo, bau harum masakan yang tak asing merayap masuk ke hidung ku. Dan benar saja ternyata Ibu dan Bulik Sri memasakkan Sayur Kangkung untukku.”Gimana di Ospekmu??” Ibu bertanya sambil tangannya tak lepas dari penggorengan. “Alhamdulillah bu lancer tanpa masalah”. Sahut ku sambil mencomot sepotong tempe goreng dari piring.” Hei Ardi cuci tangan dulu.” Bulik ku menyahut. “Hehe iya bulik.” Aku menjawab. Hmm..tak sabar aku untuk menyantap masakan ibu. Aku pun bergegas mandi dan menunaikan shalat Isya untuk segera menyantap Sayur Kangkung tersebut. “Buatan Ibu pasti enak”, itu yang ada dibenak ku.

15 menit kemudian aku sudah siap sedia duduk di meja makan. Bersama Ayah Ibu Om Leo dan Juga Bulik Sri. Nasi hangat, sayur kangkung, tempe goreng dan ikan asin hmmm sungguh menggoda selera. Piring ku pun sudah siap disantap, suapan demi suapan masuk ke mulut dan melewati kerongkongan ini. Subhanallah betapa nikmat yang diberikan Allah SWT tidak bisa diingkari. Menjelang suapan terakhir aku baru menyadari sesuatu. Ya aku tersadar, sayur kangkung mempunyai efek. Huuuaaa aku baru ingat klo sayur kangkung bisa membuat kita mengantuk. Bagaimana ini masih ada beberapa artikel yang mesti diselesaikan sebagai penugasan esok??.

Piring ku pun akhirnya kosong tanpa sisa. Setelah ku cuci piring ku aku pun bergegas ke kamar untuk membuat penugasan berupa artikel. Badan ini memang sudah lelah, ya bisa dibilang tenaganya tinggal 40% ditambah lagi efek sayur kangkung tadi mulai menggeliat mengganggu. “Ah kenapa aku lupa akan efek kangkung tadi y??”  aku membatin “Perut kosong memang bisa membuat kita lupa” lanjut ku.

Jam di kamar menunjukkan pukul delapan tepat. Sanggupkah aku menyelesaikan artikel artikel ini??. Dengan tenaga seadanya dan mata yang terkantuk – kantuk aku pun mulai menulis apa saja yang terlintas di benak ku. Yah masa bodo lah apa isinya, yang penting menyerempet tema yang diminta. Toh cuma sebagai syarat saja agar tidak kena marah. Pukul 10 Malam akhirnya mata ini terpejam hingga lagi – lagi alarm membangunkan ku.

Yak hari kedua Ospek dimulai. Masih sama seperti kemarin hanya diisi materi materi saja yang sama sekali tidak menarik minat ku. Hanya satu hal yang aku tunggu yaitu pembagian snack dan makan siang. Momen yang sangat aku mungkin bukan aku saja yang menunggu tapi semua MABA disini. Ospek pun berjalan lancer dan cukup membosankan bagiku.Kembali hanya aku isi dengan obrolan – obrolan dengan Galih dan Arif. Ya ternyata Arif pun satu jurusan dengan ku. Arif Kuncahyo nama lengkapnya. Orang yang cukup tinggi ramah dan humoris.

Tidak terasa esok adalah hari terakhir Ospek. Dan merupakan Ospek yang paling penting menurut Ayah dan Ibu. Kenapa?? Ayah dan Ibu bilang ini yang paling penting karena inilah lingkungan yang akan sangat akrab dengan ku kedepannya. Manusia manusia dalam Ospek ini pula yang menjadi teman teman ku nantinya. Aku pun berfikir benar juga apa yang dikatakan Ayah dan Ibu. Inilah lingkungan ku selanjutnya. Penugasan untuk esok sudah siap, betapa beruntungnya aku memiliki Ibuku yang sangat sayang padaku menyiapkan semuanya. Meskipun jujur aku merasa takut tidak bisa mandiri karena selalu dibantu ibu.

Hari terakhir pun tiba, aku bersiap menjalani Ospek hari terakhir ini dengan senyuman. Karena ini lingkungan yang akan akrab dengan ku selama 4 tahun kedepan. Pembagian kelompok untuk Jurusan kali ini membuat ku terpisah dengan Galih dan Arif yang tidak berada dalam satu kelompok. Kembali menemukan teman – teman baru. Disini aku berkenalan dengan Rahmat, Ali, Samsul, Dan Esa. Namun yang akan menjadi teman sekelas ku nanti hanya Esa. Di jurusan ini terbagi menjadi dua kelas nantinya yaitu Akuntansi 1 dan Akuntansi 2 dan aku Arif Galih dan Esa masuk di kelas Akuntansi 1. Kelas ini diperuntukkan untuk mereka yang berhasil masuk dari jalur Seleksi Nasional dan juga jalur Bibit Khusus. Sedangkan Akuntansi 2 berasal dari mereka yang lolos seleksi Mandiri. Dan bodohnya lagi – lagi seorang Ardi ini tidak pernah berani untuk mengajak berkenalan seorang gadis. Ah suatu kelemahan yang tak kunjung membaik.

Semangat ku mulai surut seiring dengan surutnya tingkat daya tahan mata ini. Ya aku cukup mengantuk, mungkin cukup lelah dengan 4 hari yang telah kujalani sebelumnya. Tapi Alhamdulillah badan ini tetap fit dan asma ini tidak kembali menyerang. Serasa sangat lama memang jika mendengarkan materi disaat mata mengantuk tanpa ada hal yang menarik yang kita lakukan. Seperti melihat pertandingan sepakbola dengan tempo lambat di televisi pada pukul 12 malam.

Pukul 11.00 acara beralih ke Ishoma berhubung hari ini adalah hari Jumat maka wajib hukumnya melaksanakan shalat Jumat. Aku bersama Esa bergegas mengambil wudhu berhubung di Mushala penuh kami berdua pun mencari alternative tempat wudhu lainnya. “Penuh sa di Mushala sana, ada tempat lain tidak untuk ambil wudhu??”. Tanyaku. “Ahh iya ada tadi aku melihat ada keran yang kosong sebelum menuju kesini, yuk kesana.” Sahut Esa. Sambil berjalan aku melihat – lihat keadaan kampus baru ku ini, Lumayan sejuk kampus baru ku ini, banyak pepohonan tinggi diantara ruang ruang kuliahnya. Sepertinya nyaman, batinku berucap.

Setelah mengambil wudhu kami kembali ke lapangan tempat diadakannya shalat Jumat berjamaah. Pandanganku terus mengelilingi wilayah wilayah kampus sampai akhirnya pandangan ini terhenti pada satu hal. Aku melihat apa yang beberapa hari ini aku cari. Ya akhirnya aku melihat “dia” gadis yang kemarin menyahuti lirihanku tanpa sempat ku berkenalan dengannya. Degup jantung ini serasa berhenti, langkah kaki ini pun terhenti sesaat. Rasanya seperti saat sedang mem-pause adegan film yang sedang kita tonton, cukup lama aku termenung.  Aku melihatnya mengenakan atribut yang sama dengan ku. Apakah dia juga berasal dari jurusan yang sama dengan ku??.

“Heyyy Ardi cepat…..”, Esa mengagetkanku. “Oh iya tunggu..” sahut ku sambil berlari kecil menghampirinya. Dalam hati ini masih bergejolak menyimpan ribuan kata Tanya. Siapakah dia?? Apakah benar dia satu jurusan denganku?? Akankah dia sekelas denganku. Oh tidak kegelisahan ini sungguh menggangguku. Ingin sekali ku menghampirinya untuk sesaat dan bertanya siapa namanya namun apa daya sudah ada kewajiban yang menungguku.

Bersambung …

Bab III

2 Comments

  1. hey hey siapa diaaa….hehe🙂


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s