Beranjak Dewasa Bab Pertama

Bab I

Langkah Pertama

“Dari arah barat kereta Senja Utama Yogyakarta akan  masuk di jalur lima peron utara”, kata kata dari speaker di stasiun ini membuyarkan lamunan ku yak this is it, tanpa disangka hari inilah hari pertama dimana aku pada akhirnya pergi dari kota kelahiran ku dan mendarat di Kota Yogyakarta ini. Kota yang sama sekali tidak terbayang untuk menjadi kota brikutnya yang akan aku tinggali.

Stasiun

Siapa yang tidak tahu Kota spesial ini. Kota yang penuh dengan para pelajar, penuh dengan para wisatawan, kota yang erat dengan budaya dan adat. Dan tak disangka kota ini tidak penuh akan kendaraan layaknya kota besar lainnya.

Dan akhirnya kaki kecil yang ringkih ini pun menapaki megahnya stasiun besar kota Gudeg ini, masih didampingi kedua orang tua ku aku pun beranjak keluar dari stasiun, pemandangan serta suasana yang hangat menyambut kedatangan ku seolah mengucap selamat datang kepadaku dan orang tuaku. Disambut hangat oleh adik dari ayahku om leo serta istrinya yang menanti di depan stasiun, menyambut hangat kedatangan kami, dan beranjaklah kami semua menuju kerumah om leo untuk beristirahat sejenak,

Perasaan campur aduk memenuhi hati ku ini, dan tanpa disadari air mata ini menetes, ya aku terharu bagaimana tidak?? Aku telah berhasil memenuhi harapan dan juga janji ku kepada ayah untuk bisa masuk di salah satu Universitas Negeri di kota ini. Y aku berhasil masuk di kampus ini sebut saja kampus ku ini UNYIL dan berhasil masuk jurusan yang sesuai dengan keinginan ku.

Ardi Nurrahman, nama itu akhirnya tercantum sebagai calon mahasiswa baru di salah satu Universitas Negeri di Indonesia. Tak terasa mobil Innova silver sudah masuk ke halaman rumah om Leo, Halaman dan rumah yang sangat besar, maklum sudah lama sekali aku tidak mengunjungi rumah om leo jadi agak sedikit pangling melihat rumahnya yang sudah banyak berubah.”Ayo ayo masuk”, om leo mempersilahkan. “Tak usah canggung anggap saja rumah sendiri”, “Ardi sudah lama kan tidak main kesini”, sambung om Leo. “hehe iya om”, aku menyeriangi sambil berlalu masuk ke ruang tamu. Sambil di antar oleh bulik menuju kamar yang sudah disiapkan sementara untuk ku.

Om Leo sendiri hanya mempunyai anak tunggal yang sudah bekerja di salah satu BUMN di Solo. ” Ini kamarnya Mas Iwan pakai saja dulu kebetulan dia hanya pulang terkadang sebulan sekali”, bulik berkata sambil menunjukkan kamar ku. Aku pun merebahkan badan ini sambil memejamkan mata mencoba beristirahat sejenak. Sementara sayup sayup ku denger percakapan orang tuaku dengan Om dan Bulik ku. Cukup lama memang mereka tidak bertemu. Memang semenjak Kakek tidak ada 2 tahun lalu ayah memang belum pernah lagi pulang ke Jogja. Ku tinggalkan sayup – sayup suara tersebut dan kembali memejamkan mata hingga akhirnya tertidur.

Lelap sekali tidur ku tanpa terasa sudah 3 jam aku tertidur “Di, Ardi ayo bangun”, suara ibu membangunkan ku. “Jadi verifikasi tidak??” ” Iya bu.” aku menjawab sambil bergegas menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap siap. Setengah jam kemudian aku pun siap setelah mengisi perut tentunya. Dengan diantar ayah dan ibu dengan meminjam mobil om leo kami pun berangkat kekampus baru ku ini.

Dan ternyta ramai sekali antrian mahasiswa baru disana bisa dibilang aku kesiangan hari ini. Namun alhamdulillah setelah 3 jam mengantri urusan administrasi pun beres. Dan sekarang waktunya aku untuk mencari markas baru alias Kos – kosan baru.Aku sengaja meminta agar tidak mencari yang dekat dengan kampus dan mencari agak jauh dari kampus karena masalah harga yang agak lebih murah. Agak jauh tidak masalah karena nanti motorku tercinta akan menyusul ku ke kota ini.

Meski agak jauh dari kampus namun kos ini cukup bagus. Dari segi lingkungan, fasilitas dan tentu saja kulinernya. Dan sore hari pun menjelang kami pun kembali pulang. Ayah memang pernah menyarankan aku untuk tinggal bersama Om Leo saja tetapi aku menolak karena aku ingin mencoba hidup sendiri dengan segala daya upaya ku sendiri dan tentu saja takut merepotkan Om Leo dan Bulik Sri.

“Bagaimana kosnya di??Dapat??”,Om Leo bertanya setelah kami sampai dirumah. “Alhamdulillah dapat Om sesuai yang Ardi harapkan, hehe” aku menyahut. ” Apa kamu tidak sebaiknya tinggal disini saja menemani Om dan Bulikmu??”,”Aku takut merepotkan Om”, jawab ku. “Iya begitulah jawaban Ardi setiap ditanya kenapa tidak tinggal disini saja”, ayahku menyahut.

“Wah kamu ini di, sebenernya kami malah senang kalo kamu berkenan tinggal disini, tapi sepertinya kamu ingin mengikuti jejak ayahmu y??haha”, lanjut Om Leo “Bisa saja kau leo”, sahut ayah. Y ayahku dulu juga seperti ini, pergi meninggalkan kota kelahirannya untuk kuliah di kota orang.

Sabtu pagi yang cerah membimbing langkahku menuju kampus baru, hari ini adalah aktifitas pertama ku di kampus. Dengan sepeda motor tahun 90an kesayangan Om Leo aq menuju kampus. Kegiatan hari ini adalah pemberitahuan apa – apa yang menjadi kewajiban ku untuk Ospek selama seminggu ke depan. Hari ini sekaligus menjadi ajang untuk ku mencari teman seperjuangan nanti. Dari beberapa yang sudah aku kenal belum satupun yang berasal dari jurusan yang sama dengan ku. Helaan nafas mengiringi tulisan demi tulisan yang aku tulis di buku catatan ku yang tidak terasa sudah terisi dua halaman penuh sebagai penugasan OSPEK.

“Waktunya hanya sehari semalam, Apa semua ini bisa disiapkan y??” lirihku. “Insya Allah Saget Mas ( Insya Allah bisa mas )”, sahut seseorang disampingku. Aku pun menoleh dan ternyata yang berbicara barusan adalah seorang gadis yang cukup menyita perhatian ku. Melihat ku menatapnya dia pun tersenyum dan aku hanya bisa membalas senyumannya dengan takjub.

Adzan Ashar berkumandang, sambil aku letakkan kunci motor Om Leo di meja tamu ibu menyambut ku penuh antusias. “Bagaimana nak?? Apa saja yang mesti disiapkan??” Sahut ibu penuh rasa sayang. Lalu ku berikan semua catatan ku. “Tidak berat ko Ibu hanya beberapa makanan tebak – tebakan dan sedikit atribut yang sudah aku siapkan pulang dari kampus tadi.” Aku menjawab. “Yang belum aku beri tanda itu yang belum aku temukan bu.” Sahut ku lagi. “Ya sudah nak nanti Ibu bantu siapkan.” Jawab ibu penuh kasih.

Aku ambil air wudhu untuk segera menunaikan shalat dan beristirahat. Dalam rebahan ku terbayang wajah gadis yang tadi menimpali ucapanku. Siapakah gerangan dia??. Ah bodohnya aku tidak sempat berkenalan tadi. Mengapa tadi aku hanya terdiam?. Sesal demi sesal kutujukan kepada diriku ini. Kuhela nafas panjang dan kupejamkan mata sambil berharap bisa bertemu kembali dengannya.

Bersambung….

Bab II

2 Comments

  1. lanjutkan zah…he2…
    moga sukses za zah…..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s